Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERLINDUNGAN BPOM TERHADAP OBAT SIRUP YANG BEREDAR MENYEBABKAN GAGAL GINJAL AKUT PADA ANAK Marbun, Ichi Nuriani br; Simanihuruk, Friska; Efendi, Salim
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v12i2.10952

Abstract

Riset ini mengkaji kasus gagal ginjal anak yang dikarenakan pemakaian obat sirup. Dikarenakan beberapa obat sirup mengandung bahan yang tidak sehat. Riset ini bertujuan membahas kasus gagal ginjal anak dan peran BPOM dalam menyelesaikan masalah tersebut. Metode penelitian bersifat kualitatif dan deskriptif, dan data dikumpulkan dengan situs web pemerintah, jurnal, dan makalah. Laporan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Agustus 2022 menjadi pemicu kasus pertama, hingga 324 anak muda meninggal dunia akibat penyakit ginjal. Menanggapi kasus gagal ginjal anak, Kemenkes RI mengeluarkan Surat Edaran No. SR.05.01/III/3401/2022, yang menghimbau apotek dan tenaga medis tidak lagi menjual obat sirup hingga pemerintah mengeluarkan pengumuman resmi. Setelah dilakukan uji patologi, ditemukan bahwa konsentrasi pelarut etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) merupakan zat berbahaya yang bisa menyebabkan gagal ginjal pada anak tersebut. Obat sirup yang ditemukan mengandung EG dan DEG tersebut kemudian ditarik dari apotek, toko obat, dan seluruh tempat pelayanan obat di Indonesia oleh BPOM. Pencabutan Izin Edar Obat Sirup Produksi yang melarang Industri Farmasi untuk memproduksi dan mengedarkan obat sirup tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh BPOM dalam BPOM RI NO.HM.01.1.2.11.22.240. Selain itu, BPOM juga menghimbau kepada masyarakat untuk memastikan kemasan dalam kondisi baik, membaca keterangan yang terdapat pada kemasan dan memeriksa tanggal kadaluarsanya pada saat mengonsumsi obat maupun makanan.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik Kategori Watch Dengan Metode Gyssens Pada Pasien Rawat Inap Dirumah Sakit Tentara TK IV 01.07.01 Kota Pematangsiantar Simanihuruk, Friska; Amanda, Nabila Dhea; Oktadiana, Isma
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 8, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v8i2.12417

Abstract

Resisitensi antibiotik masih menjadi permasalahan global yang penting. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri memerlukan penggunaan antibiotik yang tepat untuk mencegah resistensi antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik kategori Watch dengan metode Gyssens pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Tentara TK IV 01.07.01 Kota Pematangsiantar. Penelitian ini menggunakan desain observasi deskriptif analitik dengan pendekatan retrospektif, melalui resep dan rekam medis pasien yang menggunakan antibiotk kategori Watch pada Januari dan Februari 2025 dari 84 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan pasien dengan jenis kelamin perempuan yang mendapat terapi antibiotik kategori Watch sebanyak 54 orang (64,3%) dan pasien laki-laki sebanyak 30 orang (35,7%). Berdasarkan rentang usia yang terbesar adalah usia 21–30 tahun yaitu sebanyak 22 pasien (26,2%), dan yang terkecil adalah usia 61–70 tahun berjumlah 6 pasien (7,1%).Dari 116 antibiotik kategori Watch yang diresepkan ceftriaxone adalah yang paling banyak digunakan (86,2%), diikuti oleh cefixime (11,2%) dan cefotaxime (2,6%). Evaluasi dengan metode Gyssens menunjukkan bahwa 78,45% penggunaan antibiotik tepat (kategori 0), 18,1% diberikan dengan durasi terlalu singkat (kategori IIIb), dan 3,45% diberikan tanpa indikasi (kategori V). Tidak ditemukan penggunaan yang tidak tepat dalam hal dosis, interval, atau rute pemberian.Kesimpulan dari penelitian ini meskipun penggunaan antibiotik kategori Watch di rumah sakit ini tergolong rasional, masih ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam durasi pemberian. Pengawasan dan evaluasi berkelanjutan sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan antibiotik dan meminimalkan risiko resistensi