Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Skrining Frambusia Pada Anak Di Bawah 15 Tahun Di Perbatasan Jayapura Dengan Metode Rapid Diagnostic Test Sumolang, Inneke Viviane; Sidabutar, Astrina Rosaria Indah; Rusman, Nuraliah
Mestaka: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58184/mestaka.v4i1.488

Abstract

Yaws is a tropical skin disease that can cause serious complications if left untreated. The border area between Indonesia and Papua New Guinea, especially in the Muara Tami district, Jayapura, Papua, is one of the endemic areas for yaws with limited access to health services. This community service activity aims to conduct early detection of yaws in children in the area using the rapid diagnostic test (RDT) method. The activity was carried out at the Moso Village Health Center, Muara Tami district. Samples were taken purposively, with the inclusion criteria being children under 15 years of age who live in Moso village. Yaws examination using RDT was carried out on 17 children, followed by treatment for those who tested positive. There were 4 positive cases of yaws or 23.52% detected from 17 participants who had received RDT examination. In addition, the achievement of this activity has educated parents of yaws screening participants about the symptoms and prevention of yaws so that it can increase the capacity of the local health system and public awareness in efforts to eliminate yaws. The prevalence of yaws in the border area is still quite high. The use of RDT has proven effective for the detection and monitoring of yaws, although there are still challenges in ensuring compliance and completion of treatment. Long-term monitoring is needed to evaluate the effectiveness of the intervention comprehensively.
THE DIAGNOSTIC TESTING OF YAWS USING THE RAPID DIAGNOSTIC TEST (RDT) METHOD IN THE BORDER AREA OF PAPUA NEW GUINEA AND PAPUA-JAYAPURA Sumolang, Inneke Viviane; Indah, Astrina Rosaria; Reba, Timothy Verellino; Nelson, Jefferson
Media Dermato-Venereologica Indonesiana Vol 52 No 2 (2025): Media Dermato Venereologica Indonesiana
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33820/mdvi.v52i2.556

Abstract

   Pendahuluan: Frambusia merupakan penyakit endemis treponematosis non-venereal yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pertenue. Penyakit ini adalah penyakit terabaikan dengan beban kesehatan kepada pasien dan masyarakat baik fisik, psikologik, dan ekonomi. Di Indonesia, lebih banyak ditemukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Tenggara, dan Papua. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran diagnostik frambusia dengan metode rapid diagnostic test (RDT) di perbatasan Papua Nugini dan Papua-Jayapura tahun 2021-2022. Metode: Desain penelitian deskriptif dengan pemeriksaan darah kapiler serum pasien frambusia menggunakan rapid diagnostic test. Hasil: Pemeriksaan serologis terhadap 31 orang anak yang didiagnosis secara klinis sebagai frambusia memberikan hasil RDT positif sebesar 74,2% (26 anak). Gambaran karakteristik anak dengan RDT positif adalah 47% berusia 6-11 tahun, 65% berjenis kelamin laki-laki, dan sebanyak 73% lesi berlokasi di tungkai. Kesimpulan: Gambaran penelitian ini menjadi informasi penting untuk diagnostik cepat dan penanganan frambusia di daerah terpencil dengan keterbatasan akses ke fasilitas laboratorium. 
Skrining Dan Intervensi Gizi Buruk Pada Anak di Kampung Waena Indah, Astrina Rosari; Sumolang, Inneke Viviane; Rahayu, Agnes Supraptiwi; Rusman, Nuraliah
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 3 (2025): Edisi Juli - September
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i3.7044

Abstract

Permasalahan gizi buruk pada anak masih menjadi tantangan di berbagai wilayah, termasuk di Kampung Waena. Berdasarkan observasi awal, banyak anak mengalami kurang gizi akibat keterbatasan akses terhadap makanan bergizi dan rendahnya kesadaran orang tua mengenai pola makan sehat. Skrining dan intervensi gizi menjadi langkah penting untuk mendeteksi secara dini status gizi anak dan mencegah dampak jangka panjang seperti gangguan tumbuh kembang dan risiko penyakit kronis di masa depan. Program pengabdian ini bertujuan untuk mengidentifikasi anak-anak dengan risiko gizi buruk, memberikan intervensi berupa edukasi dan pemberian makanan tambahan (PMT). Pelaksanaan kegiatan akan dilakukan pada 26 Mei 2025 di Kampung waena dengan melibatkan berbagai pihak seperti akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat setempat. Metode yang diterapkan meliputi pengukuran antropometri, edukasi gizi berbasis bahan pangan lokal, serta intervensi terhadap anak yang mempunyai status gizi buruk dan stunting. Pemeriksaan antropometri dilakukan terhadap 36 peserta. Peserta terdiri atas 20 perempuan dan 16 laki-laki.  Status gizi Indeks Masa Tubuh berdasarkan umur didapatkan 6 %  gizi buruk. Status gizi tinggi badan berdasarkan umur didapatkan 25 % memiliki tinggi badan dibawah normal (stunting). Hasil kegiatan pengabdian adalah skrining gizi buruk di Kampung Waena dan tindak lanjut  intervensi  pemberian makanan tambahan berupa tinggi protein hewani dan tinggi kalsium.
TOWARD INDONESIA’S ZERO LEPROSY 2030: KEY LESSONS FROM EPIDEMIOLOGICAL TRENDS IN PAPUA 2020-2024 Sumolang, Inneke Viviane; Romadhon, Dimas Iqbal; Suyanto, Agnes Angelita
Folia Medica Indonesiana Vol. 61, No. 1
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Papua, the easternmost province of Indonesia, has consistently reported the highest number of new leprosy cases and leprosy-related disabilities for decades. Despite this burden, no comprehensive study in recent years has systematically examined the epidemiological trends of leprosy in Papua using large datasets. This study provides an updated analysis of leprosy elimination efforts and evaluates the province’s readiness to achieve the Zero Leprosy 2030 target. A retrospective descriptive epidemiological review was conducted using secondary data from the routine health information system of Papua Province from 2020 to 2024. Extracted variables included demographic characteristics, new case reports, diagnostic classification, disability grade, case-finding method, and clinical outcomes. Data were analyzed descriptively and presented in tables and figures to illustrate temporal trends. Between 2020 and 2024, a total of 3,909 new leprosy cases were reported, with fluctuating case detection rates. Multibacillary (MB) leprosy predominated, particularly among males, although females also contributed a substantial proportion of MB cases. Child cases showed an increasing trend, accounting for up to 20% of all new cases. Most cases were detected at Grade 0, with passive case finding as the dominant detection method. Treatment outcomes showed that approximately 70% of patients were released from treatment annually, but relapse and default remained considerable. These findings highlight that Papua is still far from reaching the Zero Leprosy 2030 goal. Strengthening active case finding, improving treatment adherence, reducing stigma, and enhancing reporting and evaluation systems are urgent priorities. Sustained political commitment from local leadership will be crucial to ensure the successful implementation of these strategies.