Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Pengembangan Kurikulum Pesantren di Pondok Nurul Huda Alfatun Nisak; Muhammad Husni
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 3 No 1 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v3i1.848

Abstract

Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan moderasi dalam beragama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan strategi pengembangan kurikulum pesantren di Pondok Nurul Huda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini berpusat pada Pondok Pesantren Nurul Huda yang menganut metode pendidikan tradisional, yang bertujuan untuk menyeimbangkan pendekatan klasik dengan relevansi modern. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kurikulum di pesantren memiliki ciri khas yang sangat kuat, terutama dalam mempertahankan budaya lokal yang melekat pada masyarakat Indonesia. Meskipun tidak selalu terstruktur secara formal seperti di lembaga pendidikan lainnya, pesantren berhasil menghasilkan pendidikan yang maksimal dengan pendekatan yang unik. Kurikulum di pesantren, khususnya Pondok Nurul Huda, lebih mengutamakan pembelajaran ilmu agama Islam melalui kajian kitab-kitab klasik. Dengan sistem yang lebih berbasis pada tradisi dan peran aktif kiai dalam menentukan materi ajar, pesantren tetap mampu mempertahankan nilai-nilai ajaran agama yang kokoh. Kajian ini masih cukup sederhana dan memiliki beberapa keterbatasan, baik dari segi ruang lingkup maupun metode yang digunakan.
Representasi Feodalisme Pesantren dalam Media Televisi: Analisis Pemberitaan Trans7 dan Realitas Sosial di Pesantren An-Nur 2 Bululawang Malang Lailatur Rohanita; Kemal Husen; Mochamad Rizqy Romadhon; Alfatun Nisak; Lailatul Mufarrohah; Ali Mukhammad Abrori
YASIN Vol 5 No 6 (2025): YASIN: Jurnal Pendidikan dan Sosial Budaya
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v5i6.8151

Abstract

Pesantren feudalism as an issue of media representation has increasingly come to the fore in line with the widening gap between dramatized news coverage and the everyday realities of pesantren communities, particularly amid digital disruption that drives sensational narratives at the expense of factual accuracy. This study examines the media representation of pesantren feudalism in Trans7 news coverage and compares it with the social reality at Pesantren An-Nur 2 Bululawang, with the aim of analyzing how a feudal image is constructed in television reporting and how this construction intersects with, and often contradicts the educational, ethical, and cultural dynamics practiced within the pesantren. Using a qualitative approach with a case study design, data were obtained through broadcast document analysis, observation of the pesantren environment, and in-depth interviews with caregivers, ustaz, and santri, and subsequently analyzed interpretively. The findings reveal three main patterns of media representation: symbolic dramatization of authority, selective emphasis on hierarchical relations, and visual framing that reinforces feudal stereotypes of pesantren. Conversely, field data show that authority in the pesantren is ethical, contextual, and pedagogical in nature, embodied through the principles of adab, ta’dzīm, mutual respect, and dialogical learning processes, while also uncovering negative data or anomalies related to variations in disciplinary practices and differences in understanding among santri. The study concludes that media narratives tend to oversimplify pesantren traditions and fail to capture their complexity as dynamic Islamic educational institutions. The implications of these findings enrich scholarship on media representation and the culture of Islamic education, while encouraging journalists, policymakers, and pesantren leaders to foster more accurate, ethical, and constructive public communication about the pesantren world.