Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemanfaatan Puding Daun Kelor Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Di Desa Ringin Sari Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat al Arif, M. Yasin; Anggi Fitriani; Bayu Anshor Mursalin; Ghufron Hidayat; Happy Sreshi Aska Kenda; Lisa Virliana; Muhammad Rizki Ramadhan; Reni Latifah; Witri Leviana; Zahrani Amrina
Swadaya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Swadaya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Nuban Jaggadhita Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62265/swadaya.v3i1.69

Abstract

Stunting is a failure in children's growth and development. Stunting is caused by chronic malnutrition that occurs within 1000 days of life. Malnutrition among children under five is one of the main problems of the Indonesian nation because it has an impact on the low quality of human resources. Improved nutrition is needed to avoid these problems for children aged 6-24 months. Moringa leaves (Moringa oleifera) have nutrients that can help improve children's nutritional status. The content of macro minerals such as calcium, potassium and phosphorus plays an important role in the growth of bones and teeth, activating nerves and the brain, as well as maintaining heart health. Method: This Community Service Activity uses a demonstration method which aims to promote the method of processing Moringa leaves. We know that Moringa leaves are rich in nutritional content which supports nutritional development, especially for stunted children as additional food at posyandu. Results: During the training, participants participated in the activities enthusiastically.  This was proven by several questions asked by participants regarding how to make Moringa leaf pudding.
Konsep Ikhlas Menurut Buya Hamka Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam Di Era 5.0 Zahrani Amrina
Journal Islamic Pedagogia Vol. 6 No. 1 (2026): Journal Islamic Pedagogia
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/pedagogia.v6i1.147

Abstract

Di era sekarang, masih banyak ditemukan manusia yang lebih cenderung untuk memandang bahwa hidup ini tidak ada yang gratis, selalu ada cost (harga) yang harus dibayar, hal ini menjadikan dominasi mereka untuk selalu memperhitungkan untung rugi dalam segala aspek Kehidupannya. Berdasarkan masalah tersebut penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ikhlas menurut Buya Hamka serta menganalisis relevansinya dengan pendidikan Islam di era Society 5.0. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data primer dan sekunder diperoleh melalui penelitian kepustakaan dengan alat pengumpul data berupa metode dokumentasi. Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan analisis. Adapun teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisi isi (content analysis) yaitu penelitian yang dilakukan terhadap informasi yang didokumentasikan dalam rekaman baik dalam gambar, suara maupun tulisan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Konsep ikhlas dalam buku tasawuf modern karya Buya Hamka artinya bersih, tidak ada campuran apapun dan bisa diibarat dengan emas, emas tulen, tidak ada campuran perak berapa persen pun. Tempat ikhlas dan isyrak ialah hati, Jika seseorang ingin melakukan sesuatu, maka mulai melangkah sudah dapat ditentukan kemana tujuan dan apa dasarnya.  Ucapan dan tindakan harus selaras dengan niat dalam hati.  Relevansi ikhlas menurut Buya Hamka dalam pendidikan Islam di era 5.0 adalah: Ikhlas pada aspek tujuan pendidikan, ikhlas menjadi fondasi utama dalam pendidikan Islam untuk membentuk insan kamil yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki orientasi spiritual yang kuat di tengah tantangan era society 5.0. Ikhlas pada Aspek peserta didik, ikhlas sebagaimana digambarkan Buya Hamka adalah bebas dari segala campuran niat lain selain karena Allah. Ini sangat relevan bagi peserta didik masa kini, agar mereka tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara teknologi, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual. Ikhlas pada Aspek pendidik, Keikhlasan dalam profesi kependidikan, merupakan pondasi utama yang menjadikan tugas mendidik bukan semata pekerjaan duniawi, melainkan bentuk ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT yang menghadirkan nilai spiritual dalam setiap proses pendidikan.