Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEMANDIRIAN BELAJAR DAN BERPIKIR KRITIS PADA PRESTASI BAHASA INDONESIA DENGAN PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM Budiastuti, Wahyuni; Hernawati, Lucia
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 2 (2025): Volume 8 No. 2 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i2.40209

Abstract

Prestasi belajar merupakan salah satu indikator keberhasilan proses pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, prestasi belajar siswa menjadi penting karena Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi utama, serta dasar untuk memahami mata pelajaran lainnya . Penelitian menunjukkan kemandirian belajar dan berpikir kritis berkontribusi terhadap prestasi belajar. Siswa yang memiliki kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis lebih tinggi cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik karena lebih siap menghadapi tugas-tugas yang diberikan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah 44 siswa kelas 5 SD yang menerapkan pembelajaran Flipped Classroom. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket/kuesioner yang terdiri dari dua bagian utama, yaitu kemandirian belajar dan berpikir kritis menggunakan kuesioner. Untuk prestasi belajar datanya didapatkan dari nilai rapor. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dan dibandingkan dengan pendapat para ahli ada beberapa hal yang tidak sesuai. Flipped classroom adalah proses siswa mempelajari materi di rumah sebelum kelas dimulai dan kegiatan belajar di kelas berupa mengerjakan tugas, berdiskusi tentang materi yang belum dipahami siswa. Guru memberikan materi ke siswa melalui LMS kemudian siswa mengerjakannya dirumah jika selesai upload tugas tersebut di LMS. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil belajar dengan menggunakan pembelajaran model flipped classroom kurang efektif. Karena tidak maksimalnya proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Mulai dari fungsi guru yang tidak maksimal, orang tua yang tidak bisa memberikan pemahaman dengan baik serta siswa yang masih membutuhkan pengawasan dalam menggunakan teknologi. Model Flipped Classroom perlu adanya perbaikan dan peningkatan baik dari sisi pengajar maupun sistemnya.
PENGEMBANGAN POTENSI SISWA DENGAN PENDEKATAN MULTIPLE INTELLIEGENCES Budiastuti, Wahyuni; Sulastri, Augustina
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.40168

Abstract

Masalah pendidikan di Indonesia telah menjadi bahan diskusi sejak lama. Guru sebagai tenaga pendidik banyak menerapkan pengetahuan berupa hafalan dan teori yang membuat anak jenuh saat belajar. Keberhasilan belajar anak hanya diukur dari peroleh nilai pelajaran yang diikuti, dan ketaatan pada aturan. Anak dengan kecerdasan lain dipandang sebelah mata. Guru melabel mereka sebagai anak yang suka membuat masalah, dan tidak patuh. Labeling ini membawa efek buruk yang merugikan bagi anak, terutama perkembangan mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pengembangan potensi siswa dengan pendekatan multiple intelligences. Metode penelitian ini adalah Sistematik Literatur Review. Pengumpulan artikel dilakukan secara elektronik, dengan menggunakan kata kunci “Multiple Intelligences” di mesin pencari. Pengembangan kreatif dalam pendidikan dengan memberikan kebebasan bagi siswa untuk belajar dan mengekspresikan diri melalui cara-cara yang sesuai dengan kecerdasan mereka, sangat penting dalam dunia yang semakin kompleks di mana inovasi dan kemampuan berpikir out-of-the-box menjadi sangat dihargai. Pendekatan MI menunjukkan peningkatan dalam kreativitas dan keterampilan pemecahan masalah, karena keragaman metode belajar yang memungkinkan mereka mengeksplorasi ide dan konsep baru. Kurikulum yang dirancang meliputi mencakup berbagai metode belajar seperti proyek, diskusi kelompok, kegiatan seni, dan permainan edukatif.  
KEMANDIRIAN BELAJAR DAN BERPIKIR KRITIS PADA PRESTASI BAHASA INDONESIA DENGAN PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM Budiastuti, Wahyuni; Hernawati, Lucia
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 No. 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v8i1.42144

Abstract

Prestasi belajar merupakan salah satu indikator keberhasilan proses pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, prestasi belajar siswa menjadi penting karena Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi utama, serta dasar untuk memahami mata pelajaran lainnya. Penelitian menunjukkan kemandirian belajar dan berpikir kritis berkontribusi terhadap prestasi belajar. Siswa yang memiliki kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis lebih tinggi cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik karena lebih siap menghadapi tugas-tugas yang diberikan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah 44 siswa kelas 5 SD yang menerapkan pembelajaran Flipped Classroom. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket/kuesioner yang terdiri dari dua bagian utama, yaitu kemandirian belajar dan berpikir kritis menggunakan kuesioner. Untuk prestasi belajar datanya didapatkan dari nilai rapor. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dan dibandingkan dengan pendapat para ahli ada beberapa hal yang tidak sesuai. Flipped classroom adalah proses siswa mempelajari materi di rumah sebelum kelas dimulai dan kegiatan belajar di kelas berupa mengerjakan tugas, berdiskusi tentang materi yang belum dipahami siswa. Guru memberikan materi ke siswa melalui LMS kemudian siswa mengerjakannya dirumah jika selesai upload tugas tersebut di LMS. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil belajar dengan menggunakan pembelajaran model flipped classroom kurang efektif. Karena tidak maksimalnya proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai. Mulai dari fungsi guru yang tidak maksimal, orang tua yang tidak bisa memberikan pemahaman dengan baik serta siswa yang masih membutuhkan pengawasan dalam menggunakan teknologi. Model Flipped Classroom perlu adanya perbaikan dan peningkatan baik dari sisi pengajar maupun sistemnya.