Susandro, Susandro
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

Published : 16 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

DRAMATIC ART OF SI DALUPA DATOK RIMBA ART STUDIES IN WEST ACEH Susandro Susandro
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 25, No 1 (2023): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPM Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/ekspresi.v25i1.3402

Abstract

 The traditional art of Si Dalupa produced by the Datok Rimba Art Studio can be categorized as theatrical art based on the form of the work and especially because of its supporting elements; scriptwriter, director, actor, and musician. Apart from that, the art is also worked out cinematically. This article aims to analyze the drama of Si Dalupa's art in cinematic form based on the ideas of George R. Kernodle called 'structure' and 'texture'. The structure consists of themes, plots, characterizations. Meanwhile, texture covers dialogue, atmosphere, and spectacle. This research approach is qualitative with literature study techniques, observation, in-depth interviews, and documentation. As a result, in terms of structure, Si Dalupa's art has the theme of the arrival of Islam to Aceh, the storyline is linear. Each character has a diverse physique, character, and social background. Whereas in terms of texture, each actor uses the Acehnese language, the atmosphere is built with serune and rapa'i musical instruments. Meanwhile, the spectacle is set in a forest and residential areasKeywords: Si Dalupa; Dramatic Elements; Cinematic DRAMATIKA KESENIAN SI DALUPA SANGGAR SENI DATOK RIMBA DI ACEH BARATAbstrakKesenian tradisional Si Dalupa produksi Sanggar Seni Datok Rimba dapat dikategorikan sebagai seni teater berdasarkan bentuk karya dan terutama karena unsur pendukungnya; penulis naskah, sutradara, aktor, dan pemusik. Selain itu, kesenian tersebut juga digarap secara sinematik. Artikel ini bertujuan menganalisis dramatika kesenian Si Dalupa dalam bentuk sinematik berlandaskan pada gagasan George R. Kernodle yang disebut ‘struktur’ dan ‘tekstur’. Struktur terdiri dari tema, alur, penokohan. Sedangkan tekstur melingkupi dialog, suasana, dan spektakel. Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif dengan teknik studi pustaka, observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasilnya, pada struktur, kesenian Si Dalupa bertemakan ikhwal masuknya Islam ke Aceh, alur ceritanya linear. Setiap tokoh memiliki fisik, watak, dan latar sosial yang beragam. Sedangkan pada tekstur, setiap pemeran menggunakan bahasa Aceh, suasana dibangun dengan alat musik serune dan rapa’i. Sedangkan spektakelnya berlatar hutan dan pemukiman warga.Kata Kunci: Si Dalupa; Unsur Dramatik; Sinematik 
Eksperimentasi Teater: Retrospeksi Dramaturgi Zona X Nyanyian Negeri Sunyi Susandro Susandro; Afrizal Harun
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v6i2.15336

Abstract

Artikel ini membaca surut ke belakang proses kreatif garapan teater berjudul “Zona X: Nyanyian Negeri Sunyi” yang ditulis/disutradarai oleh Afrizal H, dipertunjukkan di Laga-laga Taman Budaya Sumatera Barat pada tanggal 28 Mei 2008. Pembacaan model demikian sesungguhnya lazim dilakukan terutama oleh akademisi seni teater yang menghasilkan berbagai karangan ilmiah. Selain itu, pembacaan model ini terbilang sama pentingnya dengan membaca pertunjukan teater yang baru saja dipentaskan, sebab bukan aktualisasi informasi yang ditekankan, melainkan menjadikannya sebagai bahan kajian ilmiah yang mungkin saja dilakukan secara berulang. Pendekatan penelitian ini ialah kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Analisis sepenuhnya menyoroti video pertunjukan dan juga mengandalkan ingatan penulis yang dulunya juga terlibat sebagai pemain/aktor dalam produksi tersebut. Proses analisis berpijak pada gagasan eksperimentasi dalam ranah teater, di mana istilah tersebut menawarkan keluasan imajinasi serta eksplorasi pada seniman atas bentuk karya yang akan digarap atau dengan kata lain tidak adanya konvensi atau pakem yang mengikat, tetapi tidak pula dimaksud agar seniman dapat berproses secara serampangan. Hasilnya ialah proses yang dilalui menunjukkan kejelasan tahapan, di antaranya: peleburan gagasan antara sutradara dengan para aktor, mempersiapkan tubuh aktor, peleburan tubuh dengan gagasan, peleburan tubuh dengan gagasan serta properti, peleburan tubuh dengan musik dan sound effect, terakhir peleburan tubuh dengan jiwa tubuh itu sendiri guna mencapai kenikmatan bermain saat pementasan.
Kajian Absurditas Pada Drama Permainan Akhir Karya Samuel Beckett Susandro Susandro
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 2 No 1 (2022): GESTUS JOURNAL : PENGKAJIAN DAN PENCIPTAAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v2i1.36596

Abstract

Drama absurd memiliki unsur intrinsik yang cenderung berbeda dari konvensi drama sebelumnya, terutama apabila dibandingkan dengan drama bergaya realisme. Hingga dewasa ini, telah banyak diskursus terkait bagaimana memahami drama tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan memaparkan unsur intrinsik lakon serta gagasan yang ada di baliknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Adapun teknik yang dilakukan yaitu studi kepustakaan. Objek utama yang diteliti adalah lakon Permainan Akhir karya Samuel Beckett terjemahan Djoko Quartantyo dengan menguraikan unsur intrinsik lakon, yaitu struktur dan tekstur sebagaimana yang dikemukakan oleh George R. Kernodle. Meski lakon ini dikategorikan sebagai drama absurd, namun juga memiliki struktur; tema, alur, penokohan dan tekstur; dialog, mood atau suasana serta spektakel yang cukup terukur, sebagaimana ditemukan pada drama bergaya realisme. Kata Kunci: Permainan Akhir, Struktur, Tekstur, Absurditas 
Perancangan Tata Panggung Pergelaran Ketoprak Dor Rahayu Cipto Rukun di Aceh Tengah Hatmi Negria Taruan; Susandro Susandro; Rika Wirandi
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 8 No. 01 (2024): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v8i01.2452

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan merespon dan memberi solusi terhadap persoalan berkesenian yang khususnya dialami oleh Grup Ketoprak Rahayu Cipto Rukun di Aceh Tengah. Kegiatan ini berpijak pada hasil kegiatan penelitian terdahulu yang juga dilaksanakan oleh tim pengusul pengabdian ini. Maka dari itu, kegiatan ini dapat disebut pula dengan practice-led research yang berarti penelitian berarah praktik. Namun, perihal yang ditekankan dalam artikel ini bukanlah aspek penelitian maupun kekaryaan; bagaimana tim pengusul turut berkontribusi dalam mengangkat kembali kesenian yang dulunya tidak terdengar lagi gaungnya melalui kelompok tersebut. Adapun detail persoalan yang didapati ialah sangat minimnya pengembangan cerita yang hanya berupa kerangka cerita saja, serta tidak adanya set dan properti sebagai penunjang pergelaran. Maka dari itu, kegiatan pengabdian ini mencoba melakukan semacam kolaborasi dengan grup tersebut dengan jalan merancang ulang atau merekonstruksi tata panggung yang berlatar suatu cerita yang biasa mereka mainkan. Bentuk pelaksanaan yang dilakukan ialah merancang beberapa sketsa layar belakang (backdrop) untuk pergelaran Grup Ketoprak Dor rahayu Cipto Rukun.
Redesain Busana Pergelaran Ketoprak Dor Sanggar Rahayu Cipto Rukun di Aceh Tengah Hatmi Negria Taruan; Susandro Susandro; Rika Wirandi
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 10 No. 01 (2026): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v10i01.3789

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk mendukung geliat berkesenian Sanggar Ketoprak Rahayu Cipto Rukun di Desa Payatumpi Baru, Kebayakan, Aceh Tengah. Kegiatan ini berpijak pada hasil kegiatan penelitian dan pengabdian terdahulu yang juga dilaksanakan oleh tim pengusul pada tahun 2022 dan 2023. Maka dari itu, kegiatan pengabdian kali ini berpijak pada metode R & D (research and development) atau dengan kata lain mengembangkan hasil penelitian terdahulu menjadi produk baru. Produk yang dimaksud ialah (merancang ulang) desain busana para pemain berdasarkan data-data dari penelitian terdahulu. Adapun detail persoalan yang didapati ialah minimnya variasi kostum/busana yang dikenakan para pemain membuat setiap judul cerita yang dipertunjukkan tidak relevan; dikarenakan busana yang dipakai tidak sesuai dengan latar cerita. Maka dari itu, kegiatan pengabdian ini semacam kolaborasi dengan Sanggar Ketoprak Rahayu Cipto Rukun dengan jalan merancang ulang (redesain) busana pergelaran yang berlatar suatu cerita yang biasa sanggar tersebut mainkan. Tahapan pelaksanaan yang dilakukan ialah dengan merancang beberapa sketsa atau desain busana para pemain berdasarkan tokoh yang diperankan, membuat template atau pola, membuat sample (semacam prototipe kostum), lalu kemudian mengaplikasikannya bersama para anggota sanggar. Hasil dari kegiatan ini adalah lima buah kostum alternatif untuk pertunjukan Ketoprak Dor grup Rahayu Cipto Rukun yang didesain menyesuaikan dengan salah satu nomor cerita lokal dari Tanah Gayo, yaitu, cerita Putri Pukes.
Personifikasi sebagai Basis Rekonstruksi Dramaturgi Idalupa Alue Glong Naga di Aceh Barat Susandro Susandro; Hatmi Negria Taruan; Achmad Zaki
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.18964

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan pertunjukan Sanggar Seni Alue Glong Naga dengan grup Dalupa lain dengan jalan menelusuri cerita yang melatarbelakanginya. Penelitian kualitatif ini berfokus pada asal-usul kemunculan grup, varian kisah yang dibawakan, dan alasan perbedaan bentuk pertunjukannya dibanding grup lain. Proses penelitian dilaksanakan dari April hingga November 2023 melalui tiga tahap: (1) prapenelitian, (2) penelitian lapangan, dan (3) pascapenelitian. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah Idalupa versi Sanggar Seni Alue Glong Naga berlatar peristiwa peperangan antara Raja Badar dengan Raja Namrud. Raja Badar merupakan personifikasi dari peristiwa Perang Badar antara umat Islam dengan kaum Quraisy. Raja Namrud merupakan tokoh yang terdapat dalam kitab-kitab suci agama samawi yang hidup di masa Nabi Ibrahim. Dua latar masa yang terpaut jauh, tetapi direkonstruksi ke dalam satu kisah. Oleh karena itu, pentingnya pendokumentasian dan dukungan berkelanjutan bagi sanggar seni tradisional seperti Alue Glong Naga, mengingat tantangan akses dan regenerasi serta menyoroti perlunya kebijakan budaya yang responsif terhadap kelestarian seni lokal.Personification as a Basis for Reconstructing the Dramaturgy of Idalupa Alue Glong Naga in West AcehThis study aims to describe the differences between the performances of the Alue Glong Naga Art Studio and other Dalupa groups by tracing the stories behind them. This qualitative research focuses on the origins of the group, the variants of the stories they present, and the reasons for the differences in the form of their performances compared to other groups. The research process was carried out from April to November 2023 through three stages: (1) pre-research, (2) field research, and (3) post-research. Data validity was strengthened through source triangulation. The results of the study show that the story of Idalupa, according to the Alue Glong Naga Art Studio, is set during the war between King Badar and King Namrud. King Badar is the personification of the Battle of Badr between Muslims and the Quraysh. King Namrud is a figure found in the holy books of the monotheistic religions who lived during the time of the Prophet Ibrahim. Two time settings that are far apart, but are reconstructed into one story. Hence, the importance of documentation and ongoing support for traditional art studios such as Alue Glong Naga, given the challenges of access and regeneration, and highlighting the need for cultural policies that are responsive to the sustainability of local arts.