Nofrizal Nofrizal
Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Perbedaan Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Bubu Dasar di Sungai Kampar Kiri di Desa Rantau Baru Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau Pandu Permana; Bustari Bustari; Nofrizal Nofrizal
Jurnal Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 10 No. 1 (2022): Maret
Publisher : LPPM Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Sejak zaman dahulu keberadaan Sungai Kampar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat termasuk dalam usaha penangkapan ikan. Salah satu alat tangkap perikanan yang digunakan oleh nelayan Indonesia adalah bubu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis umpan terhadap hasil tangkapan bubu dasar di perairan sungai Kampar Kiri, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Adapun umpan yang digunakan berupa dua umpan nabati dan tanpa umpan. Perbandingan hasil tangkap dilakukan pada umpan ampas kelapa serta umpan sawit dan tanpa umpan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen berupa rancangan acak lengkap (RAL) dengan tingkat kesalahan sebesar 5% dengan f tabel 5,14. Analisis uji f (Anova) menunjukkan tidak terdapat perbedaan hasil tangkap yang signifikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa umpan sawit menunjukkan hasil tangkap paling banyak sebesar 1670 g.
Komposisi Hasil Tangkapan Alat Tangkap Gombang di Desa Maini Darul Aman Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kepulauan Meranti Warhamni Warhamni; Alit Hindri Yani; Nofrizal Nofrizal
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 14 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.14.2.144-150

Abstract

Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan wilayah pesisir dengan potensi sumber daya perikanan yang melimpah, di mana sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup dari kegiatan penangkapan ikan tradisional. Salah satu alat tangkap yang banyak digunakan adalah gombang, yaitu alat tangkap pasif yang memanfaatkan arus pasang surut untuk menangkap ikan dan udang. Namun, informasi ilmiah mengenai komposisi hasil tangkapan alat ini masih terbatas, khususnya di Desa Maini Darul Aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, jumlah, dan proporsi hasil tangkapan alat tangkap gombang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei dan observasi lapangan selama 14 kali trip penangkapan. Data yang dikumpulkan meliputi jenis, jumlah, dan berat hasil tangkapan serta parameter perairan seperti suhu, salinitas, dan arus. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20 jenis biota tertangkap, terdiri atas 4 jenis tangkapan utama (main catch), 10 tangkapan sampingan (bycatch), dan 6 tangkapan buangan (discard). Spesies dominan adalah udang putih (Penaeus merguiensis) dengan proporsi 90,63% dari total tangkapan 88.581 individu. Kondisi lingkungan perairan memiliki salinitas 27–30 ppt, suhu 28–32°C, dan kecepatan arus 0,3–0,8 m/s. Secara keseluruhan, alat tangkap gombang menunjukkan efisiensi tinggi, selektivitas baik, dan potensi keberlanjutan dalam perikanan tangkap tradisional.
Dampak Perbedaan Kebijakan Alat Tangkap Bagan Apung terhadap Penangkapan Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis) di Danau Singkarak Nabilla Khaira; Nofrizal Nofrizal; Polaris Nasution
Ilmu Perairan (Aquatic Science) Vol. 14 No. 2 (2026): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jipas.14.2.151-159

Abstract

Perbedaan regulasi penggunaan bagan apung antara Permen KP No. 36 Tahun 2023 dan Pergub Sumatera Barat No. 4 Tahun 2023 menimbulkan dinamika pengelolaan ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) di Danau Singkarak. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kebijakan, dampaknya terhadap hasil tangkapan berdasarkan ukuran mata jaring, serta persepsi nelayan terhadap implementasinya. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan mixed methods. Data dikumpulkan dari 40 nelayan bagan apung melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan One-Way ANOVA, serta wawancara untuk memperkuat analisis kebijakan. Hasil menunjukkan bahwa kebijakan pusat memperbolehkan bagan apung dengan syarat teknis (≥¾ inci), sedangkan kebijakan daerah melarang secara total. Ukuran mata jaring berpengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan (p < 0,05), di mana jaring lebih kecil menghasilkan tangkapan lebih tinggi namun kurang selektif. Perbedaan kebijakan berdampak pada ketidakpastian teknis, penurunan stabilitas ekonomi nelayan, serta dinamika sosial di komunitas. Sinkronisasi kebijakan berbasis data ilmiah dan partisipasi nelayan diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara konservasi dan keberlanjutan ekonomi.