Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ABORTUS INKOMPLIT DI RSUD DEPATI HAMZAH KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2021-2023 Zahra, Zuni; Kusumajaya, Hendra; Kusumawardhani, Shandy
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 13 No. 5 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v13i5.11578

Abstract

Incomplete abortion is where some of the tissue resulting from conception is still left in the uterus where bleeding is still occurring and the amount can be large or small depending on the remaining tissue, which causes some of the placental tissue to still be open resulting in continuous bleeding. The aim of this research is to analyze the factors associated with the incidence of incomplete abortion at Depati Hamzah Hospital, Pangkalpinang City in 2021-2023. This research uses quantitative methods with a cross sectional design. Data collection using medical record data. The population in this study was all abortion mothers with a sample of 73 people. This research was conducted in August 2024. This data was analyzed using the chi quadrat test. The results of the study concluded that factors related to the incidence of incomplete abortion were age (P=0.000), occupation (P=0.000), history of abortion (P=0.000) and factors that were not related to the incidence of incomplete abortion, parity (P=0.943).The recommendation of this research is that hospitals need to provide intensive and continuous education to prevent incomplete abortions for mothers aged at risk (<20 years and >35 years), working mothers and mothers who have a history of abortion. Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus dimana perdarahannya masih terjadi dan jumlahnya bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian jaringan plasenta masih terbuka sehingga terjadi perdarahan terus menerus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus inkomplit di RSUD Depati Hamzah Kota Pangkalpinang tahun 2021-2023. Dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Pengumpulan data dengan data rekam medis. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu abortus dengan sampel sebanyak 73 orang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan agustus 2024. Data ini dianalisis menggunakan Uji Chi quadrat. Hasil penelitian menyimpulkan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian abortus inkomplit, usia (P=0,000), pekerjaan (P=0,000), riwayat abortus (P=0,000) dan faktor yang tidak berhubungan dengan kejadian abortus inkomplit, paritas (P=0,943). Rekomendasi penelitian ini adalah perlunya rumah sakit melakukan penyuluhan yang intensif dan continue untuk mencegah abortus inkomplit kepada ibu usia berisiko (<20 tahun dan >35 tahun), ibu yang bekerja dan ibu yang memiliki riwayat abortus.
The Effect Of SIMEPAS Leaflet On Students Readiness For Menarche Widiastuti, Yuni; Patimah, Siti; Kusumawardhani, Shandy
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 8 (2025): Volume 11 Nomor 8 Agustus 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i8.22206

Abstract

Latar Belakang: Menarche merupakan peristiwa penting dalam perkembangan reproduksi remaja putri yang sering kali menimbulkan kecemasan akibat kurangnya pengetahuan dan kesiapan dalam menghadapinya. Berdasarkan studi pendahuluan di SD Negeri 2 Simpang Rimba, diketahui bahwa sebagian besar siswi belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang menarche dan belum menerima informasi dari sumber terpercaya, termasuk orang tua dan guru. Upaya pendidikan kesehatan melalui media leaflet dinilai strategis untuk meningkatkan kesiapan siswi.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh leaflet SIMEPAS (Siap Menghadapi Menstruasi Tanpa Cemas) terhadap kesiapan menghadapi menarche pada siswi kelas V dan VI di SD Negeri 2 Simpang Rimba tahun 2025.Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan model nonequivalent control group design. Sampel terdiri dari 36 siswi kelas V dan VI berusia 10–13 tahun, masing-masing 18 responden dari SDN 2 Simpang Rimba (kelompok eksperimen) dan SDN 1 Simpang Rimba (kelompok kontrol). Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner pengetahuan dan sikap, dan analisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa intervensi leaflet SIMEPAS berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap siswi dalam menghadapi menarche. Uji Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 < α = 0,05 untuk kedua kategori.Kesimpulan: Leaflet SIMEPAS efektif meningkatkan kesiapan siswi menghadapi menarche melalui peningkatan pengetahuan dan sikap positif.Saran: Disarankan agar sekolah dan orang tua berperan aktif dalam memberikan edukasi tentang menarche kepada remaja putri. Kata Kunci: Menarche, Leaflet, Remaja Putri, Edukasi ABSTRACT Background: Menarche is a significant event in the reproductive development of adolescent girls, often causing anxiety due to a lack of knowledge and readiness. A preliminary study at SD Negeri 2 Simpang Rimba revealed that most students lacked sufficient information about menarche and had not received guidance from reliable sources such as parents or teachers. Health education through leaflets is considered a strategic effort to improve students' preparedness.Objective: This study aimed to determine the effect of the SIMEPAS leaflet (Ready to Face Menstruation Without Anxiety) on the readiness to face menarche among fifth- and sixth-grade students at SD Negeri 2 Simpang Rimba in 2025.Methods: This research employed a quasi-experimental design with a nonequivalent control group model. The sample consisted of 36 female students aged 10–13 years, with 18 students from SDN 2 Simpang Rimba (intervention group) and 18 from SDN 1 Simpang Rimba (control group). Data were collected using knowledge and attitude questionnaires, and analyzed using the Wilcoxon and Mann-Whitney tests.Results: The results showed that the SIMEPAS leaflet intervention had a significant effect on improving students’ knowledge and attitudes in facing menarche. The Mann-Whitney test indicated a significance value of p = 0.000 < α = 0.05 for both categories.Conclusion: The SIMEPAS leaflet is effective in enhancing students’ readiness to face menarche by improving their knowledge and positive attitudes.Suggestion: It is recommended that schools and parents take an active role in providing education about menarche to adolescent girls. Keywords: Menarche, Leaflet, Adolescent Girls, Education
Peningkatan kesadaran risiko kanker payudara pada perempuan dengan riwayat menyusui kurang dari dua tahun Marleni, Marleni; Kusumawardhani, Shandy
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2412

Abstract

Background:: Breast cancer is a leading cause of morbidity and mortality in women. A protective factor against breast cancer is adequate breastfeeding. However, many women who have breastfed for less than two years still do not understand the potential health risks. Purpose: To increase women's awareness and knowledge of the breast cancer risks associated with breastfeeding for less than two years. Method: This community service activity was carried out on Saturday, December 10, 2025, at 09.00–11.30 WIB at the Melati Integrated Health Post, Air Kepala Tujuh Village, Gerunggang District, Pangkalpinang, Bangka Belitung Islands. The target group of this activity was a group of mothers who were breastfeeding or who had a history of breastfeeding for less than two years. Using a purposive sampling technique based on suitability criteria, 30 respondents were obtained, consisting of breastfeeding mothers and mothers with a history of breastfeeding for less than two years. The implementation of health education was carried out through direct, communicative and interactive counseling with powerpoint presentation media. The material included the definition of breast cancer, risk factors, duration of breastfeeding related to risks, benefits of long-term breastfeeding, and early detection efforts, especially breast self-examination. The instrument to measure the level of knowledge and understanding of respondents used a questionnaire and the evaluation of the activity was carried out descriptively by comparing the assessment of knowledge and awareness of respondents before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Results: The average age of respondents was 29.14 years with a standard deviation of ±2.64 years. The majority of respondents (19 respondents) were between the ages of 26 and 29. 46.7% were housewives, the majority (60.0%) were elementary school graduates, and most (21 respondents) had one child. There was an increase in the average knowledge score of respondents from 56 points before the educational activity (pre-test) to 82 points after the educational activity (post-test). Conclusion: Direct, communicative, and interactive health education regarding breast cancer, risk factors, and breastfeeding duration has proven effective in increasing awareness and understanding of the importance of early detection and preventive behaviors as an effort to prevent breast cancer. Mothers' behavior of breastfeeding their babies for a longer period has a protective effect against breast cancer risk. Suggestion: Continuous strengthening of community-based health education is needed to ensure wider dissemination of information about the long-term benefits of breastfeeding and the importance of early breast cancer detection and foster sustainable health behaviors. Educational materials on the importance of early breast cancer risk detection are also recommended for integration into health worker programs for premarital adolescents, maternal and child health, and the broader community. Keywords: Breast cancer; Breastfeeding; Early detection; Health education; Prevention Pendahuluan: Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada perempuan. Salah satu faktor protektif terhadap kanker payudara adalah pemberian ASI dalam jangka waktu yang cukup. Namun, masih banyak perempuan yang memiliki riwayat menyusui kurang dari dua tahun dan belum memahami risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan perempuan mengenai risiko kanker payudara yang berkaitan dengan riwayat menyusui kurang dari dua tahun. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Desember 2025, pukul 09.00–11.30 WIB di Posyandu Melati, Kelurahan Air Kepala Tujuh, Kecamatan Gerunggang, Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Sasaran dalam kegiatan ini adalah kelompok ibu yang sedang menyusui maupun yang memiliki riwayat menyusui kurang dari dua tahun. Dengan teknik purposive sampling berdasarkan kesesuaian kriteria mendapatkan 30 orang responden yang terdiri dari ibu menyusui dan ibu dengan riwayat menyusui kurang dari dua tahun. Pelaksanaan edukasi kesehatan dilakukan melalui penyuluhan langsung, komunikatif dan interaktif dengan media presentasi powerpoint. Materi mencakup pengertian kanker payudara, faktor risiko, durasi menyusui terkait risiko, manfaat menyusui jangka panjang, serta upaya deteksi dini, khususnya pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Instrumen untuk mengukur tingkat pengetahuan dan pemahaman responden menggunakan kuesioner dan evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan penilaian pengetahuan dan kesadaran responden sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden berada di usia 29.14 tahun dengan standar deviasi ±2.64 tahun dan sebagian besar responden berada di rentang usia 26-29 tahun yaitu sebanyak 19 orang (63.3%). Sebesar 46.7% responden adalah sebagai IRT, mayoritas tingkat pendidikan responden adalah lulusan SD-SMP yaitu sebesar 60.0% dan sebagian besar responden memiliki 1 anak yaitu sebanyak 21 orang (70.0%). Terdapat peningkatan rata-rata skor pengetahuan responden dari sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah 56 poin dan menjadi 82 poin sesudah kegiatan edukasi (post-test).  Simpulan: Penyuluhan kesehatan secara langsung, komunikatif dan interaktif mengenai pengertian kanker payudara, faktor risiko, dan durasi menyusui terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya deteksi dini dan perilaku preventif sebagai upaya pencegahan kanker payudara. Perilaku ibu dengan menyusui bayinya dalam jangka waktu lebih lama memberikan efek protektif terhadap risiko kanker payudara. Saran: Diperlukan penguatan edukasi kesehatan berbasis komunitas secara berkesinambungan agar informasi mengenai manfaat menyusui jangka panjang dan pentingnya deteksi dini kanker payudara lebih luas tersosialisasi serta membentuk perilaku kesehatan yang berkelanjutan. Diharapkan juga untuk mengintegrasikan materi edukasi tentang pentingnya deteksi dini risiko kanker payudara ke dalam program kegiatan tenaga kesehatan pada remaja pranikah, kesehatan ibu dan anak, dan komunitas yang lebih luas.