Di daerah perkotaan seperti DKI Jakarta, pemenuhan kebutuhan air masyarakat bergantung pada beberapa sumber, antara lain air perpipaan (PALYJA/AETRA), sumur gali atau bor (sumur pantek), serta penampungan air hujan. Untuk keperluan domestik, sumur pantek umumnya dibor hingga kedalaman kurang dari 60 meter, sementara untuk kebutuhan perkantoran, hotel, dan industri, pengeboran sering kali dilakukan hingga kedalaman lebih dari 60 meter untuk menjangkau akuifer dalam. Studi ini menyelidiki sifat hidrodinamika akuifer dan hubungannya dengan persebaran wilayah rawan air bersih di Jakarta. Metode yang digunakan meliputi analisis data sekunder geologi dan hidrogeologi, serta pengukuran muka airtanah langsung di lapangan menggunakan water level meter portabel pada empat titik sumur pantau di wilayah Jakarta Barat. Penggunaan water level meter portabel ini memungkinkan akuisisi data yang cepat, akurat, dan dapat dilakukan secara berkala untuk memantau fluktuasi muka airtanah secara spasial dan temporal. Apabila pemanfaatan air tanah dangkal, khususnya di kawasan padat penduduk, tidak dikendalikan sesuai dengan daya dukung akuifer, maka berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan lingkungan. Dampak kerusakan lingkungan ini sering kali semakin nyata terlihat pada periode musim kemarau maupun penghujan, yang ditandai dengan kesulitan air bersih, penurunan muka airtanah, dan intrusi air laut.Tujuan sebaran area rawan air bersih yang memenuhi kebutuhan air penduduk pada tingkat sumur dangkal (0–60m) dan sumur dalam (60–300m).