Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PEMULIHAN HOLISTIK DALAM LUKAS 8:40–48: TAFSIR TEOLOGIS ATAS MISI YESUS BAGI KAUM TERMARGINALKAN Pontoh, Andrew Otto Sergius; Tewu, Peggy Sandra
EKKLESIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2025): November 2025
Publisher : STT Ekklesia Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63576/ekklesia.v4i1.155

Abstract

Abstract: This article analyzes Luke 8:40–48 with a focus on Jesus’ act of restoring the woman who had suffered from chronic bleeding for twelve years as a form of holistic restoration encompassing physical, social, and spiritual dimensions. In the context of first-century Jewish society, the woman was considered unclean and experienced both social and religious exclusion. Using a qualitative approach with narrative-critical and socio-historical methods, this study highlights how Luke presents Jesus as the Messiah who transcends social and religious boundaries to manifest God’s saving love in its fullness. Drawing on modern interpretive theories from Stephen D. Moore, Joel B. Green, Barbara E. Reid, Mary H. Schertz, and Dedi Bili Laholo, this research demonstrates that the healing event is not merely a physical miracle but a theological symbol of liberation and inclusivity within the Kingdom of God. Theologically and pastorally, this study affirms the church’s calling to embody Jesus’ love through inclusive, empathetic, and holistic ministry one that not only proclaims spiritual salvation but also restores human dignity and builds solidarity with the marginalized. Abstrak: Artikel ini menganalisis Lukas 8:40–48 dengan fokus pada tindakan Yesus yang memulihkan perempuan yang menderita pendarahan selama dua belas tahun sebagai bentuk pemulihan holistik yang mencakup dimensi fisik, sosial, dan spiritual. Dalam konteks masyarakat Yahudi abad pertama, perempuan tersebut dianggap najis dan mengalami keterasingan sosial serta religius. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode kritik naratif dan sosio-historis, penelitian ini menyoroti bagaimana Lukas menampilkan Yesus sebagai Mesias yang melampaui batas-batas sosial dan religius untuk menghadirkan kasih Allah yang menyelamatkan secara utuh. Dengan memanfaatkan teori-teori tafsir modern dari Stephen D. Moore, Joel B. Green, Barbara E. Reid, Mary H. Schertz, dan Dedi Bili Laholo, kajian ini menunjukkan bahwa peristiwa penyembuhan tersebut tidak sekadar mukjizat fisik, tetapi simbol teologis pembebasan dan inklusivitas Kerajaan Allah. Secara teologis dan pastoral, penelitian ini menegaskan panggilan gereja masa kini untuk meneladani kasih Yesus melalui pelayanan yang inklusif, empatik, dan holistik yang tidak hanya berfokus pada keselamatan rohani, tetapi juga memulihkan martabat manusia dan membangun solidaritas dengan kaum termarginalkan.
Studi Eksegesis atas Filipi 4 : 6-7 dalam Konteks Anxiety Disorder Zaman Modern Talu, Siselia Jacobina; Tewu, Peggy S
EULOGIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2025): November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Blessing Indonesia Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62738/ej.v5i2.158

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu gangguan mental yang paling umum dialami manusia di era modern, ditandai oleh ketidakpastian hidup, tekanan sosial, serta tantangan eksistensial yang kompleks. Studi ini bertujuan untuk menelaah pengharapan Kristen dalam menghadapi kecemasan melalui pendekatan eksegesis terhadap Filipi 4:6–7, sebuah teks yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi yang tengah mengalami tekanan dan kekhawatiran. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan analisis eksegetikal terhadap teks Alkitab, dikaitkan dengan pemahaman gangguan kecemasan dari perspektif psikologi modern. Hasil studi menunjukkan bahwa Paulus tidak hanya menawarkan larangan untuk tidak khawatir, tetapi memberikan solusi spiritual yang konkret melalui praktik doa, permohonan, dan ucapan syukur. Janji akan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal menjadi inti dari pengharapan Kristen yang tetap relevan untuk menjawab kebutuhan spiritual manusia modern. Temuan ini menyiratkan bahwa iman Kristen dapat menjadi sumber kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi kecemasan, serta memberikan kontribusi terhadap pendekatan holistik dalam penanganan gangguan kecemasan yang melibatkan dimensi spiritual.
Rekonstruksi Integritas Panggilan Pelayanan Melalui Kajian Hermeneutik Injil Lukas 23:50-56a Annatasya Tanti Meilynda Worang; Peggy Sandra Tewu
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 5 No 2 (2025): Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Predica Verbum Vol. 5 No. 2 (December) 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v5i2.154

Abstract

The church is called to serve with integrity, but is often faced with ethical and moral challenges that threaten the credibility of its ministry. Often the church is used as a means of power, with church leaders preferring to compromise with corrupt systems for the sake of position and a comfortable life rather than upholding faith and truth. This points to a deep crisis of integrity in ministry. This study aims to reconstruct the understanding of integrity in ministry through a hermeneutical analysis of the narrative in Luke 23:50-56a, which focuses on the figure of Joseph of Arimathea. As a member of the Sanhedrin, Joseph was faced with a difficult choice: to prioritize his position or to act out of compassion for Jesus. He chose to take down and bury Jesus' body, an act that went against the Sanhedrin's consensus and could potentially endanger himself. This study uses a qualitative approach, with narrative hermeneutics based on E. G. Singgih's method, which includes: structure, plot, characters, conflict, setting, time, style, and narrator. The results of the study show that integrity in service lies not only in institutional obedience, but in the willingness to transcend institutional and social barriers. Joseph's actions show that true service is rooted in moral courage and compassion, which are capable of setting aside personal, political, and comfort interests. Contemporary churches must reconstruct their understanding of ministry to emphasize courage, ethics, and commitment, even when facing personal risk. In this way, the ministry of the Church can once again become an authentic and transformative witness.
Peran Roh Kudus dalam Yohanes 14:16-26 Sebagai Landasan Hidup Bagi Pemuda Kristen Yang Mengalami Insecure Kardia Kaligis; Peggy Sandra Tewu
Educatio Christi Vol 6 No 2 (2025): Juli 2025
Publisher : UPT Penelitian Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70796/educatio-christi.v6i2.196

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk menelusuri dan mendalami peran Roh Kudus dalam Yohanes 14:16–26 sebagai landasan hidup bagi pemuda yang mengalami rasa insecure. Insecure merupakan perasaan tidak aman, takut, dan ragu terhadap diri sendiri yang umum dialami oleh generasi muda masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, di mana penulis menganalisis perikop Yohanes 14:16–26 melalui pendekatan hermeneutika tematik dan mengaitkannya dengan literatur teologi serta realitas kehidupan pemuda kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roh Kudus berperan sebagai Penghibur, Penolong, dan Pemberi damai yang menyertai orang percaya. Kehadiran Roh Kudus memberikan kekuatan spiritual, ketenangan batin, dan keyakinan identitas diri dalam Kristus. Dengan demikian, pemuda yang mengalami insecure dapat memperoleh keteguhan dan pengharapan melalui relasi pribadi dengan Roh Kudus.