Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

ANALISIS MIKROBIOTA SALURAN CERNA PADA BALITA YANGMENGALAMI STUNTING DI PUSKESMAS BENU-BENUA KOTA KENDARI MENGGUNAKAN METODE KULTUR Sugireng; Suwarny; Rabiatun Nisa
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 8 No. 1 (2024): JURNALMEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883.08.01.09..

Abstract

Mikrobiota merupakan sekumpulan mikroorganisme berupa bakteri, virus, dan organisme lainnya yang hidup dalam organisme inang. Mikrobiota usus mempunyai peranan penting terhadap imunitas maupun penyerapan zat gizi. Mikrobiota usus berkontribusi terhadap kejadian stunting. Tujuan penelitian untuk membandingkan populasi mikrobiota patogen dan non patogen yang terdapat pada saluran pencernaan balita normal dan stunting di Puskesmas Benu-benua Kota Kendari. Jenis penelitian adalah deskriptif untuk mengetahui bakteri apakah yang terdapat pada saluran pencernaan balita stunting menggunakan metode kultur. Penelitian ini melibatkan anak stuntingdengan besar sampel sebanyak 4 yang dipilih menggunakan metode purposive sampling yaitu menurut TB/U usia 24-60 bulan dengan ambang batas <-2 SD sampai dengan -3 SD.Metode penelitian ini dimulai dari isolasi bakteri, karakteristik koloni, pemurnian, pewarnaan Gram dan uji biokimia. Berdasarkan hasil yang diperoleh mikrobiota saluran cerna pada kelompok stunting dan normal menunjukan lebih dominan terdapat bakteri patogen dari ke dua kelompok tersebut. Pada kelompok stunting terdapat 2 isolat bakteri Enterobacter aerogenes, 2isolat Klebsiella, dan 4 isolatStaphylococcus aureus, sedangkan pada kelompok normal terdapat 1 isolat bakteri Klebsiella, 3 isolatEschericia coli, dan4 isolatStaphylococcus aureus. Jenis bakteri tidak jauh berbeda antara ke dua kelompok. Namun, bakteri Enterobacter lebih dominan pada kelompok stunting dibandingkan kelompok normal, sedangkan pada kelompok normal lebih dominan Eschericia coli. Perlunya untuk menjaga dan memperhatikan kondisi bayi pada hari pertama kelahiran (HPK) dari lingkungan terutama air bersih dan makanan yang dikonsumsi, agar terhindar dari mikrobiota patogen yang masuk kedalam saluran pencernaan sehingga dapat menghindar risiko terjadinya stunting.
DETEKSI JAMUR DERMATOPHYTA PADA KUKU KAKI PETANI DENGAN METODE KULTUR DI DESA MATANGGORAI KECAMATAN PADANGGUNI KABUPATEN KONAWE Sugireng; Jumita Sari; Selpirahmawati Saranani
Jurnal MediLab Mandala Waluya Vol. 8 No. 2 (2024): JURNAL MEDILAB MANDALA WALUYA
Publisher : Prodi D4 Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/

Abstract

Dermatofita merupakan golongan jamur yang melekat dan tumbuh pada jaringan keratin, seperti stratum korneum kulit, kuku, dan rambut pada manusia. Keratin digunakan sebagai sumber makanan. Dermatofita menyebabkan dermatofitosis. Spesies penyebab utama dermatofitosis yang biasa menginfeksi masyarakat Indonesia adalah Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes, Microsporum canis, Microsporum gypseum. Tujuan penelitian ini bertujuan Mendeteksi Jamur Dermathopita pada kuku kaki petani dengan menggunakan metode kultur di Desa Matanggorai Kecamatan Padangguni Kabupaten Konawe. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif untuk melihat jamur dermatophyta pada sampel kerokan kulit kuku petani dengan desain penelitian yakni dilakukan identifikasi jamur dermatophyta pada kerokan sampel kulit. Populasi pada penelian ini yaitu 39 dan besar sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 28 orang. Berdasarkan hasil penelitian ini dengan metode kultur didapatkan hasil positif jamur Dermatophyta pada 9 sampel dengan presentase 32,14% yaitu pada sampel 1, 13, 15, dan 25 terduga jamur Epidermophyton Floccosum dengan morfologi mikroskopis jamur menunjukkan makrokonidia berbentuk gada bersekat tanpa mikrospora, serta hifa bersekat tipis sebagai struktur utama jamur. Pada sampel 5, 14, 16 dan 26 terduga jamur Trichophyton rubrum dengan morfologi mikroskopis jamur menunjukkan hifa bersekat dan hialin dari Trichophyton rubrum, dengan sedikit makrokonidia berbentuk cerutu dan mikrospora kecil di sepanjang hifa. Sedangkan pada sampel 22 terduga jamur Trycophyton mentagrophytes dengan morfologi mikroskopis jamur menunjukkan hifa bersekat yang hialin, makrokonidia berbentuk cerutu atau spindle, dan mikrospora bulat atau oval di sepanjang hifa, warna biru dari perwarnaan LCB memperjelas detailnya. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu dari 28 sampel terdapat 9 sampel dengan presentase 32,14% yang positif terdeteksi jamur dermatofita pada kuku kaki petani. Saran diharapkan kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan metode lain seperti melakukan pemeriksaan PCR kemudian melanjukan sampai ke tahap sequensing.