Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Intercropping House of Wonosobo, A Form of Conservative Architectural Locality Wibowo, Ardiyan Adhi; Bambang Setyohadi KP; Fisa Savanti; Teguh Prihanto; Isna Pratiwi
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol. 26 No. 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v26i2.14706

Abstract

Highland areas are usually identical to agricultural areas, with abundant produce in the form of vegetables. On the other hand, the community's view of the highland area is considered insufficient in meeting the need for fresh fish, considering its distance from the sea. One of the highlands in Central Java Province that is quite widely known is Wonosobo Regency, where one of the areas has the potential to be a tourist area, namely the Dieng Plateau. If seen from a distance, Wonosobo Regency is quite far from the Java Sea and the Indian Ocean; besides being a highland area, its location is in the middle of Central Java Province. As a highland area, Wonosobo Regency differs from other hilly environments, especially in managing water resources in its residential areas. The management of water resources ultimately fosters a conservative environmental architectural design. The research aims to reveal how the process of forming settlements with wise and regenerative architectural design harmonizes the environment. An exploratory qualitative research method is used to answer the research objectives. The research location is in several neighborhoods in Wonosobo Regency, around the bottom of the Dieng plateau. The results of the study show that the design of residential houses in several residential areas of Wonosobo Regency uses the method of intercropping in the "back area," which is distinguished between the water source and the remnants of Bathing, Washing, Toilet (MCK) activities. Architectural design is a form of normative local wisdom passed down from generation to generation by the next generation so that the preservation of the "intercropping house of Wonosobo" runs well. In addition to the design of the house, each water distribution channel (water source and toilet residue) that crosses the settlement is also neatly arranged so that it can be well maintained without damaging the environment. Based on the research results, it can be concluded that the design of houses and settlements in Wonosobo Regency is a form of conservative architectural locality.
Peningkatan Aspek Keselamatan Pengguna Jalan di Wilayah RT. 09 RW. 10 Perumahan Graha Raya 3 Kabupaten Kendal Berbasis Metode Partisipatif: Pengabdian Listiyono Budi; Retno Mayasari; Alfita Ilfiyaningrum; Fisa Savanti; Evita Oktavia Hutabarat; Cholil Said Agil Husain; Raihan Akmal Mahandika Awantoro
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 3 Nomor 4 (April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v3i4.1127

Abstract

Jalan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung akses masyarakat dari suatu wilayah ke wilayah lainnya sebagai prasarana transportasi darat yang sangat signifikan. Perumahan Graha Raya 3 merupakan salah satu perumahan yang baru yang berada di wilayah Desa Kliris, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal yang mana perumahan ini terbagi menjadi 2 RW yaitu RW 09 dan RW 10. Perumahan ini dibangun di atas lahan berbukit sehingga memiliki kontur jalan dan lahan yang beragam, khususnya pada lokasi rencana kegiatan pengabdian yaitu di wilayah RT 09 RW 10. Wilayah RT 09 RW 10. Permasalahan yang ditemui pada saat tim pengabdi melakukan survei lokasi awal adalah adalah masih terdapat beberapa lokasi jalan permukiman yang memiliki tingkat keamanan terhadap pengguna jalan yang cukup rawan. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberikan dukungan dan bantuan dalam hal perencanaan, pelaksanaan dan bantuan dana agar dapat terwujud wilayah yang aman dalam aspek keselamatan pengguna jalan dengan biaya yang efektif dan efisien. Secara singkat uraian mengenai kegiatan pengabdian yang akan dilaksanakan oleh tim pengabdi akan terbagi menjadi 6 tahap yaitu observasi awal, koordinasi awal & perencanaan kegiatan, persiapan alat & bahan, pelaksanaan kegiatan, pengecekan hasil, dan diakhiri dengan serah terima pekerjaan kepada mitra. Hasil kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi mitra serta dapat meningkatkan aspek keselamatan pengguna jalan di wilayah mitra (RT. 09 RW. 10 Perumahan Graha Raya 3)
Dampak Variasi Dimensi Serat Kaleng Aluminium terhadap Kuat Tekan Beton Nurti Kusuma Anggraini; Fisa Savanti; Listiyono Budi; Retno Mayasari; Arie Taveriyanto; Nathanael Legawa Christian; Rifky Raif Setianto; Sayful Ammar
Aptek Vol. 18 No. 1 (2025): Jurnal Apliksai Teknologi (APTEK): Volume 18, No. 01, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Pasir Pengaraian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30606/aptek.v18i1.3817

Abstract

Penggunaan bahan daur ulang dalam konstruksi semakin mendapat perhatian sebagai upaya mendukung pembangunan berkelanjutan. Limbah padat yang berpotensi digunakan untuk campuran adalah limbah kaleng aluminium. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi dimensi serat kaleng aluminium terhadap kinerja mekanik beton, khususnya kuat tekan. Limbah kaleng aluminium dijadikan serat dengan dipotong menyesuaikan dimensi panjang 5cm dan lebar masing-masing 0,2 cm, 0,5 cm, dan 0,8 cm, dan sebagai campuran beton sebanyak 2% dari volume beton. Pengujian dilakukan pada umur beton 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan dengan adanya penambahan serat aluminium pada beton justru menurunkan performa beton akibat distribusi yang kurang merata. Penambahan serat tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kuat tekan beton. Penambahan serat kaleng menyebabkan kuat tekan beton serat kaleng mengalami penurunan dibandingkan dengan beton tanpa serat, yaitu Beton 0,2 berkurang sebesar 25,91%, Beton 0,5 berkurang sebesar 37,34% dan Beton 0,8 berkurang sebesar 45,43%.
Physicochemical Characterization and Bioactive Compound Profiling of Oil Palm Leaf (Elaeis guineensis Jacq.) Extract for Green Nutraceutical Effervescent Tablets Hanif Ardhiansyah; Fisa Savanti; Meci Aryani Saputri; Nisa, Khusnul Khairul
Journal of Clean Technology Vol. 3 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/joct.v3i1.44909

Abstract

The valorisation of oil palm leaf (Elaeis guineensis Jacq.) agricultural waste into high-value nutraceutical products embodies circular economy principles within the world's largest palm oil producing nation. Oil palm leaves, currently discarded across 16.83 million hectares of Indonesian plantations, harbour diverse antioxidant, antimicrobial, and anti-inflammatory bioactive compounds. This study presents a comprehensive, multi-technique physicochemical and chemical characterisation of palm leaf ethanol extract and its optimal effervescent tablet formulation (F1, acid:base = 1:1) relevant to clean technology nutraceutical development. The palm leaf extract was characterised by X-Ray Diffraction (XRD) nanostructural analysis using the Debye-Scherrer equation, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), and Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Antioxidant stability was assessed by the DPPH radical scavenging assay over four weeks (n = 3). XRD analysis revealed nanoparticulate crystal sizes of 58.91 nm (granules) and 56.38 nm (tablets), with predominantly amorphous phase morphology preserved through pharmaceutical processing. FTIR confirmed phenolic O–H stretching (3420 cm⁻¹), fatty acid C–H chains (2920, 2851 cm⁻¹), ester carbonyl (1740 cm⁻¹), and aromatic C=C (1633 cm⁻¹), validating chemical composition. GC-MS identified 25 peaks with 19 characterised compounds; dominant bioactives include n-hexadecanoic acid (11.80%), combined heneicosane peaks (31.14%), hexadecanoic acid 2-hydroxy ester (10.39%), and heptadecene-(8)-carbonic acid-(1) (10.15%), with documented antioxidant, antimicrobial, and antiproliferative activities. Formulation F1 maintained IC50 = 21.22 mg/L unchanged over four weeks. Pharmaceutical processing preserves the nanostructural integrity and bioactive composition of palm leaf extract. The research validates a clean technology circular economy pathway converting palm leaf waste—currently 91.5 million tonnes dry weight annually in Indonesia—into stable, bioavailability-enhanced nutraceutical ingredients.