Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Bimbingan Teknis Menulis Resensi Buku Fiksi dan Nonfiksi bagi Siswa di SMA Negeri 1 Paguyangan Casim Casim; Cintya Nurika Irma; Ghulam Arif Rizal
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v6i1.2947

Abstract

Tujuan kegiatan PkM yaitu untuk memperkuat kebiasaan membaca di kalangan siswa dengan cara meningkatkan keterampilan dalam menulis resensi buku fiksi dan nonfiksi. Latar belakang kegiatan ini muncul dari perlunya pengembangan kemampuan berpikir kritis dan apresiasi sastra dan nonsastra yang masih minim di kalangan pelajar. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kemampuan analitis, ekspresif, dan reflektif siswa saat memahami dan menulis resensi karya sastra. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan yang melibatkan partisipasi melalui empat tahap: 1) tahap observasi; 2) penyampaian materi tentang literasi dan teknik menulis resensi, 2) praktik menulis resensi, dan 3) evaluasi hasil karya dengan umpan balik yang terstruktur. Jumlah peserta dalam kegiatan ini adalah 20 siswa yang merupakan anggota Komunitas Siswa Pecinta Perpustakaan di SMA Negeri 1 Paguyangan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya kemajuan dalam kemampuan siswa menulis resensi dengan sistematis, 80% siswa berhasil memenuhi standar bahasa dan isi yang baik. Kegiatan ini juga berkontribusi pada peningkatan minat membaca, kemampuan berpikir kritis, dan keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan literasi di sekolah. PkM ini memberikan dampak signifikan dalam penguatan budaya literasi melalui model bimbingan teknis yang mengedepankan partisipasi aktif siswa dan kerjasama antar siswa untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kaya literasi.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DIGITAL BERBASIS PROJECT BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS CERITA RAKYAT BREBES Casim Casim; Yukhsan Wakhyudi; Moch. Ihsan Nurul Amin
Jurnal Metamorfosa Vol 14 No 2 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, STKIP Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran menulis cerita rakyat memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kreatif sekaligus melestarikan kearifan lokal di perguruan tinggi. Namun, keterampilan menulis sastra kreatif mahasiswa masih rendah karena keterbatasan media pembelajaran digital yang inovatif, rendahnya keterlibatan mahasiswa, serta belum optimalnya penerapan pembelajaran yang mendorong kreativitas dan kolaborasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan bahan ajar menulis cerita rakyat berbasis pembelajaran berbasis proyek, menguji kelayakannya melalui validasi ahli, serta mengetahui efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan menulis sastra kreatif mahasiswa. Metode yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan dengan model tiga tahap (3-D), yaitu Define (pendefinisian), Design (perancangan), dan Develop (pengembangan). Tahap pendefinisian dilakukan melalui analisis kebutuhan, karakteristik mahasiswa, dan materi cerita rakyat. Tahap perancangan menghasilkan rancangan bahan ajar yang memuat materi, langkah proyek, dan instrumen penilaian dalam format digital. Tahap pengembangan meliputi validasi ahli, revisi, dan uji coba produk. Hasil analisis kebutuhan menunjukkan rendahnya keterampilan menulis sastra kreatif mahasiswa serta minimnya ketersediaan bahan ajar berbasis proyek. Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar digital menulis cerita rakyat yang dirancang untuk meningkatkan kreativitas, keterlibatan, dan kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan karya sastra yang bermakna. ABSTRACT Learning to write folktales plays a crucial role in enhancing creative literacy and preserving local wisdom in higher education. However, students' creative literary writing skills remain low due to limited innovative digital learning media, low student engagement, and suboptimal implementation of learning that encourages creativity and collaboration. This study aims to develop project-based folktale writing teaching materials, test their feasibility through expert validation, and determine their effectiveness in improving students' creative literary writing skills. The method used is research and development with a three-stage (3-D) model: Define, Design, and Develop. The definition stage is carried out through an analysis of needs, student characteristics, and folktale materials. The design stage produces a teaching material design that includes materials, project steps, and assessment instruments in digital format. The development stage includes expert validation, revision, and product trials. The results of the needs analysis indicate low students' creative literary writing skills and the limited availability of project-based teaching materials. The product developed is a digital teaching material for writing folktales designed to enhance students' creativity, engagement, and ability to produce meaningful literary works.
BAHASA FIGURATIF DALAM PUISI HELVY TIANA ROSA: KAJIAN STILISTIKA DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA: BAHASA FIGURATIF DALAM PUISI HELVY TIANA ROSA: KAJIAN STILISTIKA DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA sabrina zerlinda rokhan khaenudin; Casim Casim
Sipakainge: Inovasi Penelitian, Karya Ilmiah, dan Pengembangan (Islamic Science) Vol. 4 No. 1 (2026): Sipakainge: Inovasi Penelitian, Karya Ilmiah, dan Pengembangan (Islamic Science
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/sipakainge.v4i1.18543

Abstract

Figurative language is often taught as a set of rhetorical categories, although understanding poetry requires learners to move beyond identifying figures of speech toward explaining how linguistic choices construct meanings, emotions, and values. This study examines the forms, meanings, and stylistic functions of figurative language in Helvy Tiana Rosa’s poetry collection Jantung yang Berdetak dalam Batu and explores its pedagogical affordances for poetry learning at the junior secondary level. The study employed a qualitative textual design informed by stylistics and pedagogical stylistics. Ten poems were purposively selected from the collection based on the diversity of their figurative expressions and themes. The textual analysis was complemented by curriculum documents, Grade VIII learning materials, and an interview with an Indonesian language teacher at SMP Muhammadiyah 3 Sirampog. The analysis identified 60 instances of figurative language: 19 similes (31.67%), 16 metaphors (26.67%), 14 personifications (23.33%), four repetitions (6.67%), four hyperboles (6.67%), two ironies (3.33%), and one paradox (1.67%). More importantly, these devices function not merely as aesthetic ornaments but as meaning-making resources that concretize abstract experience, construct imagery and emotional atmosphere, intensify messages, and articulate ethical and sociocultural concerns. Pedagogically, the findings suggest that the poems can support an evidence-based sequence of identifying linguistic forms, locating textual evidence, interpreting contextual meanings, and transforming interpretation into discussion and creative writing. The study therefore extends figurative-language analysis from taxonomic identification toward pedagogical stylistics that connects linguistic evidence, literary interpretation, and productive engagement with poetry.
NILAI EDUKATIF DAN KEARIFAN LOKAL DALAM CERITA RAKYAT SIRAMPOG: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA 1vika aranaia_,26. wasiah; Casim Casim
Sipakainge: Inovasi Penelitian, Karya Ilmiah, dan Pengembangan (Islamic Science) Vol. 4 No. 1 (2026): Sipakainge: Inovasi Penelitian, Karya Ilmiah, dan Pengembangan (Islamic Science
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/sipakainge.v4i1.18566

Abstract

Folklore is not merely a repository of traditional narratives but also a medium through which communities preserve cultural memory, ecological knowledge, social norms, and place-based meanings. This study examines four folktales from Sirampog Subdistrict, Brebes Regency—Mitos Alur Jahat, Legenda Gunung Wayang, Asal-Usul Curug Putri, and Mata Air Kali Sura—to explain how narrative structure, text, co-text, and cultural context operate as a local knowledge transmission system and to identify their pedagogical implications for literature learning in junior high school. The study employed a descriptive qualitative design with structuralist and anthropolinguistic approaches. Data were obtained through observation, interviews, documentation, and literature study, and were analyzed in four stages: structural identification, text–co-text–context interpretation, cross-case thematic synthesis, and pedagogical alignment with Grade VII Indonesian language learning. The findings show that the four folktales transmit local knowledge through four interrelated functions: place-based cultural memory, ecological ethics, social-linguistic regulation, and intergenerational cultural continuity. Natural sites such as forests, mountains, waterfalls, and springs are narrated not only as settings but also as culturally meaningful spaces that organize community memory and behavioral norms. Oral transmission through families and community actors sustains these meanings across generations. Pedagogically, the folktales can support narrative analysis, cultural literacy, vocabulary development, contextual interpretation, and the production of locally grounded narratives. The study contributes an integrative view of folklore as a living knowledge system and proposes that literature learning move beyond identifying intrinsic elements toward interpreting the relationship among language, place, cultural memory, and community knowledge.