Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SOSIODEMOGRAFI STUNTING PADA BALITA DI INDONESIA Sudikno sudikno; Yekti Widodo; Irlina Raswanti Irawan; Doddy Izwardy; Vivi Setiawaty; Budi Setyawati; Yunita Diana Sari; Dyah Santi Puspitasari; Feri Ahmadi; Rika Rachmawati; Amalia Safitri; Nurilah Amaliah; Prisca Petty Arfines; Bunga Christitha Rosha; Aditianti Aditianti; Elisa Diana Julianti; Joko Pambudi; Nuzuliyati Nurhidayati; Febriani Febriani
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v44i2.4953

Abstract

ABSTRACT The problem of stunting in children under five (0-59 months) is still a public health problem, especially in developing countries. This study aims to measure the prevalence of stunting and determine its sociodemography risk factors in Indonesia. This study was a nationwide survey in 514 districts consisting of 32,000 census blocks (320,000 households). The study design was cross-sectional. The population of this study was all families of children under five in all districts in Indonesia. The sample was households with children under five which were visited by Susenas (National Sociodemographic Survey) in March 2019. The data collected were the length/height of children under-five of age, gender, age (months), region (rural and urban), all provinces which were divided into 7 regions. (Java-Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua), and diarrhea. The results showed that the prevalence of stunting in children under five (0-59 months) was 27.6 percent. Multivariate regression analysis showed that children 12 month old and older, living in rural areas (AOR=1,444; 95% CI: 1,442-1,447), in the Nusa Tenggara region (AOR=1,874; 95% CI: 1,866-1,882), and suffering from diarrhea (AOR=1,409; 95%CI: 1,401-1,417) were more at risk of becoming stunted. ABSTRAK Masalah stunting pada balita (0-59 bulan) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi stunting dan faktor risiko stunting menurut sosiodemografi di Indonesia. Penelitian ini merupakan survei nasional di 514 kabupaten/kota yang terdiri dari 32.000 blok sensus (320.000 rumah tangga). Desain penelitian adalah cross-sectional. Populasi dari penelitian ini adalah semua keluarga balita yang ada di seluruh kabupaten/ kota di Indonesia. Sampel adalah rumah tangga yang memiliki balita yang dikunjungi oleh Susenas Maret 2019. Data yang dikumpulkan adalah panjang/tinggi badan balita, jenis kelamin, umur (bulan), wilayah (perdesaan dan perkotaan), provinsi yang dibagi dalam 7 wilayah (Jawa bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua), dan penyakit diare pada balita. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting pada balita (0-59 bulan) sebesar 27,6 persen. Analisis regresi multivariate menunjukkan bahwa balita yang berumur lebih dari 11 bulan, tinggal di perdesaan (AOR=1,444; 95% CI: 1,442-1,447), wilayah Nusa Tenggara (AOR=1,874; 95% CI: 1,866-1,882) dan yang menderita diare (AOR=1,409; 95%CI: 1,401-1,417) lebih berisiko untuk menjadi stunting. [Penel Gizi Makan 2021, 44(1):71-78]
DAMPAK PANDEMI COVID-19 PADA RUMAH TANGGA PETANI/ NELAYAN/ BURUH DI INDONESIA (ANALISIS LANJUT STUDI DETERMINAN STATUS GIZI TAHUN 2020) Yunita Diana Sari; Irlina Raswanti Irawan; Rika Rachmawati; Sudikno Sudikno; Elisa Diana Julianti
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v45i1.6037

Abstract

ABSTRACT The implementation of Large-Scale Social Restrictions (PSBB) policies which have implications for limiting community activities, including economic activities, educational activities, and other social activities. This activity restriction has an impact on the decline in the socio-economic conditions of the community, especially in vulnerable communities such as farmers/fishermen/laborers who do not have a fixed income. Therefore, the government, both at the National and regional levels, has issued various policies to deal with the spread of COVID-19 as well as policies to mitigate the social and economic impacts of this pandemic. The purpose of this analysis is to see the impact of the COVID-19 pandemic on households of farmers/fishermen/laborers who have children under five by conducting further analysis of the 2020 Nutritional Status Determinant Survey (SDSG) data. The number of respondents being analyzed is 6,866 households of farmers/fishermen/laborers. During the COVID-19 pandemic, the head of the family stated that they were economically less able to meet family needs (60.7%), had less income (80.9%), had more difficulty buying family food (63.8%), and had received social assistance from the government in the form of cash (57.4%). The consumption patterns for staple foods, where rice is still consumed by 99.6 percent of households, for the most consumed sources of protein, are fish (78.4%) and eggs (70.6%). Under-five children who did not access health services when sick were 46.7% for reason that they were not seriously ill so they did not need treatment (75.3%) and 17.9% did not or delaying the provision of basic immunization because of forgetting (18.2). Posyandu is the most visited health facility for basic immunization services and growth monitoring. Keywords: COVID-19 pandemic, social assistance, consumption patterns ABSTRAK Penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berimplikasi terhadap pembatasan aktivitas masyarakat, termasuk aktivitas ekonomi, aktivitas pendidikan, dan aktivitas sosial lainnya. Pembatasan aktivitas ini berdampak pada menurunnya kondisi sosial-ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat rentan seperti petani,nelayan,buruh lainnya yang tidak berpenghasilan tetap. Oleh sebab itu, pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menanggulangi penyebaran COVID-19 serta kebijakan yang bersifat penanggulangan dampak sosial dan ekonomi akibat pandemi ini. Tujuan analisis ini untuk melihat dampak dari pandemi COVID-19 pada keluarga petani/nelayan/buruh yang mempunyai anak balita . menggunakan sumber data Survey Determinan Status Gizi (SDSG) 2020. Metode analisis adalah deskriptif analitik. Jumlah responden yang dianalisis sebanyak 6866 rumah tangga dengan pekerjaan kepala keluarga sebagai petani/nelayan/buruh. Selama pandemi COVID-19 kepala keluarga menyatakan kurang mampu secara ekonomi dalam memenuhi kebutuhan keluarga (60,7%), pendapat yang lebih sedikit (80,9%), lebih sulit untuk membeli bahan pangan keluarga (63,8%), pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah berupa uang tunai (57,4%). Pola konsumsi makanan pokok rumah tangga adalah beras (99,6 persen), untuk sumber protein yang paling banyak dikonsumsi yaitu ikan (78,4%) dan telur (70,6%). Balita yang tidak mengakses ke pelayanan kesehatan ketika sakit46,7 persen dengan alasantidak sakit parah sehingga tidak perlu berobat (75,3%)ak/menunda pemberian imunisasi dasar 17,9 persen dengan alasan lupa (18,2%). Posyandu merupakan fasilitas kesehatan yang paling banyak dikunjungi untuk mendapatkan layanan imunisasi dasar dan pemantauan pertumbuhan. [Penel Gizi Makan 2022, 45(1):11-22]
HUBUNGAN OBESITAS DENGAN PROFIL LIPID PADA REMAJA DI INDONESIA Nuzuliyati Nurhidayati; Irlina Raswanti Irawan; Sudikno Sudikno
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v45i1.6081

Abstract

ABSTRACT The prevalence of obesity in the world shows an increase in both developed and developing countries, including obesity in adolescents. Obesity in children and adolescents can be a predictor of obesity in adulthood. Adolescents who are overweight have the potential to have higher lipid levels. This study aims to determine the relationship between obesity and lipid profile among adolescents in Indonesia. This study uses secondary data from Riskesdas 2013. The research design was cross-sectional. A sample of 2,921 adolescents aged 15-19 years had complete anthropometric data of height and weight, blood lipid examination results, gender, occupation, education, physical activity, consumption of fruit and vegetables, fat consumption, and smoking behavior. The results showed that the variables that were significantly related (p<0.05) to the lipid profile were obesity status, gender, age, area of residence, occupation, marital status, smoking behavior, and fat consumption. Based on obesity status, the three lipid profiles were statistically significant, namely total cholesterol (p=0.000), LDL cholesterol (p=0.000), and triglycerides (p=0.001), but not significant to HDL cholesterol (p=0.059). Obese adolescents have 1.92 times the risk of having high total cholesterol (>= 200 mg/dl) with 95% CI=1.36-2.72, 1.82 times the risk of having high LDL levels (>=130 mg/dl) with 95% CI=1.32-2.50, and 1.75 times risk of having high triglyceride levels (>=150 mg/dl) with 95% CI=1.26-2.44 compared to adolescents who are not obese. It can be concluded that obesity has a risk of increasing blood lipid levels in adolescents in Indonesia, namely total cholesterol levels, LDL cholesterol levels, and triglyceride levels, obesity does not contribute to HDL cholesterol levels. Keywords: obesity, overweight, adolescent, lipid profile ABSTRAK Prevalensi obesitas di dunia menunjukkan peningkatan baik di negara maju maupun berkembang, termasuk obesitas pada remaja. Obesitas pada anak dan remaja dapat menjadi prediktor terjadinya obesitas saat dewasa. Remaja yang memiliki berat badan lebih berpotensi untuk memiliki kadar lipid yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas dengan profil lipid pada remaja di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2013. Desain penelitian potong lintang (cross-sectional). Sampel berjumlah 2.921 remaja berumur 15-19 tahun memiliki kelengkapan data antropometri berupa tinggi badan dan berat badan, hasil pemeriksaan lipid darah, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, aktivitas fisik, konsumsi buah sayur, konsumsi lemak, perilaku merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan secara signifikan (p<0,05) terhadap profil lipid adalah status obesitas, jenis kelamin, umur, wilayah tempat tinggal, pekerjaan, status pernikahan, perilaku merokok dan konsumsi lemak. Berdasarkan status obesitas, ketiga profil lipid bermakna secara statistik yaitu kolesterol total (p=0,000), kolesterol LDL (p=0,000), dan trigliserida (p=0,001), namun tidak signifikan terhadap kolesterol HDL (p=0,059). Remaja yang obesitas berisiko 1,92 kali memiliki kolesterol total tinggi (>=200 mg/dl) dengan CI 95%=1,36-2,72, berisiko 1,82 kali memiliki kadar LDL tinggi (>=130 mg/dl) dengan CI 95%=1,32-2,50, dan berisiko 1,75 kali memiliki kadar trigliserida tinggi (>=150 mg/dl) dengan CI 95%=1,26-2,44 dibandingkan dengan remaja yang tidak mengalami obesitas. Dapat disimpulkan bahwa obesitas berisiko meningkatkan kadar lipida darah pada remaja di Indonesia, yaitu kadar kolesterol total, kadar kolesterol LDL dan kadar trigliserida, obesitas tidak memberikan kontribusi terhadap kadar kolesterol HDL. [Penel Gizi Makan 2022, 45(1):35-46]