Praksis bullying menurut data Federasi Serikat Guru Indonesia tahun 2023 menjadi kasus tertinggi terutama di lingkungan sekolah. Tindakan bullying sendiri melibatkan berbagai bentuk seperti kekerasan fisik, verbal, dan sosial. Kasus semacam ini tampaknya memerlukan perhatian khusus, karena setiap tahunnya selalu ada kasus bullying yang mengemuka. Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam mencegah bullying yakni dengan mensosialisasikan dan mengimplementasikan pendidikan empatif. Pendidikan empatif dapat menjadi solusi integral dalam mencegah perilaku bullying karena selain memberikan pemahaman mengenai perasaan dan pengalaman pribadi, di sisi lain membangun kepekaan terhadap perasaan dan perspektif orang lain sejak dini. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah service learning. Dalam service learning ini dirancang dalam bentuk pemaparan materi, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab. Sasaran pengabdian masyarakat adalah Pimpinan Anak Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Rejotangan yang para pengurusnya beragam latar belakang dan kebanyakan guru sekolah dasar. Harapannya para pengurus dapat menjadi agen anti bullying di lembaganya dengan mendiseminasikan serta mengimplementasikan pendidikan empatif dalam rangka mencegah perilaku bullying di lingkungan sekolah dasar. Karena pendidikan empatif dapat memengaruhi perilaku positif, meningkatkan kualitas interaksi sosial, dan membangun hubungan yang bernilai guna mencegah perilaku bullying.