Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELATIHAN PRAKTIS POCT: DETEKSI DINI HB DAN GLUKOSA DARAH UNTUK REMAJA SEHAT Soebagijo Poegoeh Edjianto; Ary Andini; Andreas Putro Ragil Santoso; Gilang Nugraha; Anita Rizki Rahmawati Asror; Robert Aditya Wijanarko
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.42626

Abstract

Di Indonesia, kasus anemia dan diabetes melitus masih mendapat perhatian tinggi terutama kesehatan bagi remaja. Anemia berkaitan erat dengan kadar Hb dalam darah, sementara diabetes melitus berkaitan dengan kadar glukosa darah. Salah satu pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan metode Point of Care Testing (POCT), yang dapat dilaksanakan di luar laboratorium, menggunakan peralatan portabel yang dekat dengan pasien untuk mendapatkan hasil secara cepat dan mengidentifikasi kadar hemoglobin (Hb) serta glukosa. Salah satu upaya untuk memberikan edukasi tentang penggunaan POCT bagi remaja khususnya dilakukan di SMK Muhammadiyah 1 Pandaan, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan remaja mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan dan cara menggunakan alat POCT untuk pencegahan penyakit. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada Rabu, 24 Juli 2024, di Aula SMK Mutu Pandaan, diikuti oleh 47 siswa dari jurusan Teknik Laboratorium Medik, Asisten Keperawatan, dan Farmasi Klinis dan Komunitas. Kegiatan ini terdiri dari dua tahap: penyuluhan dan pelatihan/praktek penggunaan POCT secara langsung. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa terkait pemeriksaan Hemoglobin (Hb) dan Glukosa menggunakan POCT mencapai rata-rata 85,10, menandakan keberhasilan penyuluhan. Pelatihan diikuti oleh tujuh peserta, di mana dukungan dari dosen dan mahasiswa Analis Kesehatan mendapat penilaian sangat membantu (71,4%) dan tingkat kepuasan peserta mencapai 100%.
“Bilik Deteksi Dini Stunting”: Inovasi Deteksi Dini Dan Edukasi Pencegahan Stunting Pada Balita Kelurahan Krembangan Utara Kota Surabaya Arhab Nashrullah; Adhisty Mutiara Isnain; Belarmino Gaudencio De C.; Karina Dewi Anggraeni; Siti Khotimah; Shofiyatun Hasanah; Muhammad Rafly Bouty; Anita Rizki Rahmawati Asror; Zahrotun Nur Faidah; Airatul Kibtiyah; Afifah Irfa'ul Ilmiyyah; Aslin Nuroniyah Azzahra; Dwica Sri Lestari; Ahmad Athoillah; Citra Rynda Oktavia; Nazma Sheny Latifa; Asysya Ashla; Paramita Viantry
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Multi Disiplin Vol. 3 No. 3 (2026): JUPENGEN - Agustus
Publisher : CV. SINAR HOWUHOWU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70134/jupengen.v3i3.2002

Abstract

Stunting remains a serious chronic nutrition problem in Indonesia, with a national prevalence of 19.8 percent in 2024, including in urban areas such as RW 02, Pesapen Village, Krembangan Utara, Surabaya. Most parents of children under five in this area were unfamiliar with early stunting screening and had never received education on regular monitoring of children's nutritional status. The "Bilik Dini Stunting" community service program aimed to conduct early detection of toddlers' nutritional status through anthropometric measurements (weight, height, and Mid-Upper Arm Circumference), provide education on early stunting screening, and improve parents' understanding of balanced meal portions through the "Isi Piringku" educational game. The activity was conducted on August 6, 2026, at PAUD Tunas Mekar using a participatory approach, including counseling, balanced-menu practice with food models, anthropometric measurement, and distribution of MUAC tapes, involving 9 parents/guardians, 2 teachers, and 9 PAUD students. Screening results showed no students indicated as stunted or at risk, and parents' understanding of stunting prevention and balanced nutrition improved. The program produced educational posters and an interactive "Isi Piringku" game sheet as outputs. It is concluded that integrating education, games, and growth screening effectively raises community awareness, though regular monitoring is still required.