Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Mengintegrasikan Pendidikan Bahasa Inggris dan Pemberdayaan UMKM dalam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia di Desa Sasahan, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang - Banten Teguh Kurniyanto; Maman Qomaruzzaman
ABDIMAS Iqtishadia Vol. 2 No. 1 (2024): ABDIMAS Iqtishadia
Publisher : Prodi Ekonomi Syariah Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/iqtis.v2i1.41840

Abstract

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah pedesaan Indonesia merupakan salah satu tantangan utama dalam upaya pembangunan berkelanjutan. Desa Sasahan, yang terletak di Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, memiliki potensi besar tetapi menghadapi banyak kendala. Beberapa di antaranya adalah kurangnya dukungan untuk UMKM dan pendidikan berkualitas tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa tersebut dengan menggunakan strategi komprehensif untuk mendukung UMKM dan pendidikan bahasa Inggris. Studi kasus kualitatif ini menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, survei, dan analisis dokumen. Penelitian ini melibatkan penduduk desa, guru, pengusaha UMKM, dan pihak lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan bahasa Inggris yang efektif dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa, kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan orang di seluruh dunia, dan kemampuan mereka untuk mengakses informasi di seluruh dunia. Kolaborasi antara sektor pendidikan dan UMKM meningkatkan partisipasi siswa dalam pendidikan, kehadiran dan prestasi akademik, serta efisiensi dan pendapatan UMKM. Program pemberdayaan UMKM mencakup pelatihan manajemen usaha, workshop pemasaran digital, dan pembentukan jaringan kolaboratif antar pelaku UMKM untuk mendukung teknologi dan inovasi produk. Untuk meningkatkan kualitas SDM di daerah pedesaan, penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan holistik sangat penting. Untuk memperluas program ke desa lain, disarankan untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal. Selain itu, disarankan untuk membuat kebijakan pemerintah yang mendukung integrasi ekonomi dan pendidikan, serta memberikan dana untuk pelatihan guru dan fasilitator UMKM. Metode integratif ini memiliki potensi besar untuk menghidupkan kembali desa-desa di Indonesia dan membuat mereka lebih mandiri dan kompetitif baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Manajemen Edupreneurship Dalam Pembentukan Karakter Kewirausahaan Siswa Kurniyanto, Teguh; Maman Qomaruzzaman; Nurlelah
KARIR Jurnal Ilmiah Manajemen Vol. 3 No. 2 (2024): KARIR Jurnal Ilmiah Manajemen
Publisher : Prodi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/karir.v3i2.44781

Abstract

Edupreneurship adalah konsep yang menggabungkan pendidikan dan kewirausahaan untuk menciptakan inovasi, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan merespons perubahan dalam dunia pendidikan. Di SMK Nurul Huda Baros Serang Banten, konsep ini diterapkan dengan mensinergikan proses pembelajaran di sekolah dengan praktik kerja industri secara sinkron dan sistematis. Tujuan utama penelitian ini adalah memberikan penjelasan dan analisis menyeluruh tentang bagaimana program edupreneurship dan manajemen membentuk karakter kewirausahaan siswa. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan metode observasi, pengumpulan data, dokumentasi, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang dikumpulkan dan menarik kesimpulan dari makna tersebut. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, Pedoman Pengembangan Edupreneurship dari Kementerian Pendidikan Nasional digunakan untuk memulai manajemen edupreneurship di SMK Nurul Huda Baros, yang meliputi penyusunan struktur organisasi, penjaminan mutu produk dan jasa, serta pemasaran. Kedua, program edupreneurship, melalui business center dan teaching factory, menumbuhkan sifat kewirausahaan pada siswa, seperti kepercayaan diri, fokus pada tugas dan hasil, keberanian mengambil risiko, kejujuran, dan ketekunan. Program business center melibatkan praktik bisnis nyata, sementara program teaching factory menggunakan model 6 M untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan dan keberanian dalam menghadapi risiko. Kata Kunci: Edupreneurship, Teaching Factory, Business Center, Kewirausahaan, Organisasi.
Sosialisasi Peningkatan Kualitas Sdm Umkm Tahu Walantaka Melalui Pelatihan Media Sosial Teguh Kurniyanto; Maman Qomaruzzaman; Nurlelah; Muhammad Rifki AA Alifia; Fini Ikfini Maulaya
Jurnal Dedikasi Abdi Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2025): Jurnal Dedikasi Abdi Masyarakat
Publisher : Program Studi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Kota Serang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/jdam.v1i1.54122

Abstract

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) UMKM Tahu di Walantaka, Kota Serang, melalui pemanfaatan media sosial sebagai alat pemasaran. Kegiatan ini difokuskan pada pelatihan keterampilan praktis dalam menggunakan platform seperti Instagram, Facebook, dan WhatsApp Business untuk mempromosikan produk, menjangkau pelanggan baru, dan meningkatkan penjualan. Metode yang digunakan meliputi survei awal untuk mengidentifikasi kebutuhan peserta, penyusunan modul pelatihan, dan penyelenggaraan workshop berbasis praktik dengan pendampingan langsung. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa 85% peserta berhasil membuat akun media sosial bisnis, dan 75% memahami teknik pembuatan konten menarik, seperti penggunaan foto produk yang profesional dan tagar yang relevan. Sebanyak 40% peserta melaporkan peningkatan penjualan hingga 20% dalam dua minggu setelah pelatihan. Kendala utama yang dihadapi mencakup keterbatasan literasi digital dan akses internet, serta kesulitan menjaga konsistensi konten. Untuk mengatasi hal tersebut, peserta diberikan panduan tertulis, tutorial video, dan diskusi kelompok. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pelatihan media sosial secara signifikan meningkatkan keterampilan digital dan pemasaran peserta. Namun, pendampingan berkelanjutan dan pengembangan modul pelatihan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan keberlanjutan dampak program. Program ini diharapkan dapat menjadi model untuk pelatihan serupa di wilayah lain.