Pemetaan wilayah berdasarkan kondisi kesehatan penting untuk mengidentifikasi ketimpangan pelayanan dan menentukan prioritas intervensi. Provinsi Nusa Tenggara Barat menghadapi tantangan berupa distribusi fasilitas kesehatan yang belum merata serta peningkatan kasus penyakit menular. Penelitian ini bertujuan mengelompokkan Kabupaten/Kota berdasarkan ketersediaan fasilitas kesehatan dan prevalensi penyakit menular menggunakan metode Fuzzy Possibilistic C-Means (FPCM). Variabel yang digunakan meliputi jumlah puskesmas, rumah sakit, serta kasus tuberkulosis, HIV/AIDS, demam berdarah, dan diare. Evaluasi hasil klasterisasi menggunakan Partition Entropy (PE), Partition Coefficient (PC), dan Modified Partition Coefficient (MPC) menunjukkan konfigurasi optimal pada tiga cluster (PE = 0.6125239, PC = 0.9798644, dan MPC = 0.9697966). Profilisasi hasil klaster menunjukkan bahwa Cluster 1 terdiri dari daerah-daerah dengan ketersediaan fasilitas kesehatan yang relatif rendah serta tingkat prevalensi penyakit menular yang tinggi. Cluster 3 mencakup wilayah dengan fasilitas kesehatan yang lebih memadai, namun tetap menghadapi beban penyakit menular yang signifikan. Cluster 2 mencakup wilayah dengan fasilitas kesehatan yang tinggi sedangkan kasus penyakit menular yang rata-rata rendah. Temuan ini menunjukkan pentingnya pendekatan berbasis data dalam mendukung perencanaan intervensi kesehatan yang lebih terfokus dan responsif terhadap kebutuhan masing-masing wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Barat.