Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH KETERLIBATAN AYAH DENGAN REGULASI EMOSI GEN Z Banun, Jihan Soraya; Aurora, Amelia; Larasati, Ajeng Meilyana; Manurung, Irene Hilary; Hastuti, Rahmah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.5321

Abstract

This study aims to examine the influence of father involvement on emotion regulation abilities in Generation Z individuals who live in Jakarta. Generation Z, which is developing in the digital era with complex social and emotional challenges, requires an active role of the family, especially the father figure in the formation of adaptive emotion regulation strategies. This study used a non-experimental quantitative approach with correlational methods. The sample consisted of 140 individuals aged 17 to 25 years, selected using a combination of criterion sampling, convenience sampling, and snowball sampling techniques. The instruments used included the Father Involvement Scale (FIS) and the Indonesian version of the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), which have been tested for validity and reliability. Simple regression analysis showed that father involvement has a significant effect on emotion regulation in Generation Z, with a contribution of 63.9%. This result confirms that the higher the father's involvement, the better the child's emotion regulation ability. This finding reinforces previous literature on the importance of fathers' role in parenting and children's psychological development in the modern era. This study recommends the need for educational programmes and interventions that involve fathers in parenting, as well as policies that support the balance of fathers' roles in the family to improve the psychological well-being of young people. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh keterlibatan ayah terhadap kemampuan regulasi emosi pada individu Generasi Z yang berdomisili di Jakarta. Generasi Z, yang berkembang dalam era digital dengan tantangan sosial dan emosional yang kompleks, memerlukan peran aktif keluarga terutama figur ayah dalam pembentukan strategi regulasi emosi yang adaptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan metode korelasional. Sampel terdiri dari 140 individu berusia 17 hingga 25 tahun, dipilih menggunakan kombinasi teknik criterion sampling, convenience sampling, dan snowball sampling. Instrumen yang digunakan mencakup Father Involvement Scale (FIS) dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) versi Bahasa Indonesia yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis regresi sederhana menunjukkan bahwasanya keterlibatan ayah berpengaruh signifikan terhadap regulasi emosi pada Generasi Z, dengan kontribusi sebesar 63,9%. Hasil ini menegaskan bahwa semakin tinggi keterlibatan ayah, semakin baik kemampuan regulasi emosi anak. Temuan ini memperkuat literatur sebelumnya mengenai pentingnya peran ayah dalam pengasuhan dan perkembangan psikologis anak di era modern. Penelitian ini merekomendasikan perlunya program edukasi dan intervensi yang melibatkan ayah dalam pengasuhan, serta kebijakan yang mendukung keseimbangan peran ayah dalam keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis generasi muda.
HUBUNGAN KETERGANTUNGAN PADA CHATGPT DAN SELF-EFFICACY PADA MAHASISWA AKTIF DI UNIVERSITAS Sanjaya, Alvin; Aurora, Amelia; Clarance Benedict, Edbert; Az Zahra Nurnajma Kalenggo, Sezilya; Winata, Tantony; Hendra Heng, Pamela; Markus Idulfilastri, Rita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i3.7659

Abstract

This study examines the relationship between problematic ChatGPT use defined as excessive or unhealthy dependence on this technology and academic self-efficacy among active students at University X, using a quantitative correlational design. A purposive sample of 76 respondents was selected from various faculties within the university. Data were collected through an online questionnaire consisting of the Problematic ChatGPT Use Scale and the Self-Efficacy Scale. The results indicate that the majority of students experience moderate dependence on ChatGPT, but no significant relationship was found between ChatGPT dependence and academic self-efficacy (rs? = - 0.128, p = 0.271 > 0.05). This finding is important because, although problematic use of ChatGPT is relatively common among students, it does not significantly affect their academic self-confidence. This suggests that other factors, such as prior academic experience or social support, may have a greater impact on students' self-efficacy. This study provides new insights into the use of ChatGPT in higher education and recommends the wise management of its use. Proper management can enrich students' learning experiences, while excessive dependence may reduce learning independence and critical thinking skills. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji hubungan antara penggunaan ChatGPT yang bersifat problematik diartikan sebagai ketergantungan yang berlebihan atau tidak sehat terhadap teknologi ini dan self-efficacy akademik pada mahasiswa aktif Universitas X dengan desain kuantitatif korelasional. Sampel purposive sebanyak 76 responden diambil dari berbagai fakultas di universitas tersebut. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang terdiri dari Skala Penggunaan ChatGPT Problematis dan Skala Self-Efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami ketergantungan moderat terhadap ChatGPT, namun tidak ditemukan hubungan signifikan antara ketergantungan ChatGPT dan self-efficacy akademik (rs? = ?0,128, p = 0,271 > 0,05). Temuan ini penting karena meskipun penggunaan ChatGPT yang problematik cukup sering terjadi di kalangan mahasiswa, hal tersebut tidak mempengaruhi secara signifikan kepercayaan diri akademik mereka. Ini menunjukkan bahwa faktor lain, seperti pengalaman akademik sebelumnya atau dukungan sosial, mungkin memiliki dampak yang lebih besar terhadap self-efficacy mahasiswa. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang penggunaan ChatGPT dalam konteks pendidikan tinggi dan menyarankan pengelolaan yang bijak terhadap penggunaannya. Pengelolaan yang tepat dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sementara ketergantungan yang berlebihan dapat mengurangi kemandirian belajar dan kemampuan berpikir kritis.
KORELASI DIGITAL HOARDING BEHAVIOR DAN MINDFULNESS PADA GURU DI JAKARTA Aurora, Amelia; Hastuti, Rahmah
MANAJERIAL : Jurnal Inovasi Manajemen dan Supervisi Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/manajerial.v6i2.10477

Abstract

A crucial phenomenon among middle-adult teachers indicates that 77.9% of participants exhibit a high level of digital hoarding behaviour. Digital hoarding is the tendency to collect and retain digital files excessively, often accompanied by emotional attachment and difficulty in deleting data that are no longer in use. Mindfulness, defined as full awareness of present-moment experience without judgement, functions as a protective factor in managing impulsive behaviours, including digital hoarding. This study aims to identify the correlational relationship between digital hoarding behaviour and mindfulness among middle-adult teachers in Jakarta. The research sample consisted of 149 teachers aged 40–50 years, selected through purposive sampling and assessed using the Indonesian versions of the Digital Hoarding Questionnaire (DHQ) and the Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ). Statistical analysis showed that the majority of respondents had high digital-hoarding scores (77.9%) and moderate mindfulness (79.2%), while only 3.4% achieved a high level of mindfulness. The correlation analysis yielded a significant negative relationship, with a Spearman’s rho value of –0.449 (p<0.001), indicating that the higher the mindfulness, the lower the digital hoarding behaviour. Further analysis found significant differences based on age and school level, though not by gender or the number of digital devices. These findings emphasise the importance of practical interventions such as mindfulness training and digital-data management workshops to reduce digital hoarding behaviour and improve teachers’ psychological well-being. It is suggested that educational institutions develop mentoring, coaching, and monitoring programmes to help teachers manage digital data and work-related stress. Future research is recommended to explore more deeply the influence of psychological and organisational factors. ABSTRAK Fenomena krusial pada guru dewasa madya menunjukkan bahwa 77,9% partisipan memiliki tingkat digital hoarding behavior yang tinggi Digital hoarding merupakan kecenderungan mengumpulkan dan mempertahankan file, digital secara berlebihan, seringkali, disertai keterikatan emosional dan kesulitan untuk menghapus data yang telah tidak terpakai.. Mindfulness, yang didefinisikan sebagai kesadaran penuh terhadap pengalaman saat ini tanpa menghakimi, berperan sebagai, faktor protektif dalam mengelola perilaku impulsif termasuk digital hoarding. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, hubungan korelasi antara digital hoarding behavior dan mindfulness pada guru dewasa madya di, Jakarta. Sampel penelitian adalah 149 guru berusia 40-50 tahun, dipilih melalui, purposive, sampling dan diukur menggunakan Digital Hoarding Questionnaire, versi Indonesia (DHQ) serta Five, Facet Mindfulness Questionnaire, versi Indonesia (FFMQ). Analisis statistik menunjukkan mayoritas responden memiliki, skor digital hoarding tinggi (77,9%) dan mindfulness sedang (79,2%), sedangkan hanya 3,4% yang mencapai mindfulness tinggi.. Analisis korelasi menghasilkan hubungan negatif signifikan, dengan nilai, Spearman's tho sebesar -0,449 (p<0,001), menandakan bahwa semakin tinggi, mindfulness maka semakin rendah perilaku digital hoarding Analisis lanjutan me.nemukan perbedaan signifikan berdasarkan usia dan jenjang sekolah, namun tidak berdasarkan jenis kelamin atau jumlah perangkat digital Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi praktis seperti, pe Jatihan mindfulness dan workshop manajemen data digital dalam upaya menurunkan digital hoarding behavior dan meningkatkan kesejahteraan psikologis guru diberikan Saran agar institusi pendidikan mengembangkan program pendampingan, coaching, dan monitoring untuk membantu guru mengelola data digital dan stres kerja Direkomendasikan penelitian selanjutnya agar lebih mengeksplorasi pengaruh faktor psikologis maupun organisasi secara lebih mendalam.