Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sosialisasi Tanaman Obat Tradisional dan Penyuluhan Terapi Jerawat pada Siswa SMA di Pariaman Serdiani, Serdiani; Kamal, Sefrianita; Nofrizal, Nofrizal; Surya, Sara; Putri, Lusia Eka; Azzahra, Rafifah; Elsandra, Yesi; Usman, Hendrizal; Fauzan, Adrul; Nandayasa, Wira Wahyudi; Ilhami, Restu Wahyudi; Wahyu, Yazid Zidani; Rahmat, Albiya; Sari, Dian Permata
Jurnal Pengabdian Masyarakat Dharma Andalas Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat Dharma Andalas
Publisher : LPPM Universitas Dharma Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47233/jpmda.v3i2.1936

Abstract

Tanaman obat tradisional memiliki potensi besar sebagai alternatif pengobatan alami yang terjangkau, namun penggunaannya perlu didukung penelitian dan edukasi yang tepat. Pengetahuan masyarakat bervariasi, dipengaruhi usia, pendidikan, pengalaman, dan budaya. Warga pedesaan cenderung lebih akrab dengan tanaman obat karena kedekatan dengan alam dan tradisi, sementara di perkotaan mulai tergeser oleh obat modern. Untuk melindungi masyarakat dari produk ilegal atau berbahaya, BPOM menyediakan layanan Cek BPOM guna memastikan keamanan dan legalitas produk obat, makanan, kosmetik, dan suplemen. Di sisi lain, remaja rentan mengalami jerawat akibat perubahan hormonal, khususnya peningkatan hormon androgen yang memicu produksi sebum berlebih. Faktor lain yang memperparah jerawat meliputi genetik, pola hidup tidak sehat, stres, kurang menjaga kebersihan kulit, dan penggunaan kosmetik yang tidak sesuai. Edukasi dan pemilihan produk perawatan yang aman sangat penting pada fase ini. Dengan pemahaman dan penanganan yang tepat, jerawat pada remaja dapat dikontrol sehingga tidak berdampak negatif pada kesehatan fisik maupun psikologis. Hasil penelitian terjadi peningkatan pengetahuan peserta sebesar 40% tentang sosialisasi tanaman obat tradisional, 90% peserta mengaku lebih percaya diri dalam memilih produk karena memahami cara memverifikasi izin edar dan keamanan produk dan peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan tentang kebersihan kulit, bahaya steroid tanpa pengawasan, dan pentingnya konsultasi ke tenaga Kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait pemanfaatan tanaman obat tradisional (TOGA), penggunaan layanan cekBPOM untuk memastikan keamanan produk, serta penanganan jerawat dan penyakit kulit lainnya. Edukasi terpadu yang diberikan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman peserta di seluruh aspek yang disosialisasikan, dengan antusiasme tinggi terhadap penggunaan bahan alami dan produk yang legal serta aman.
Identifikasi dan Edukasi Adverse Drug Reactions (ADRs) dan Drug Related Problems (DRPs) pada Pasien PROLANIS Wilayah Puskesmas Tiakar, Kota Payakumbuh Lucida, Henny; Handayani, Fitri; Nandayasa, Wira Wahyudi
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.22570

Abstract

Peningkatan populasi lansia rentan mengalami polifarmasi, yang secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya Adverse Drug Reactions (ADRs) dan Drug Related Problems (DRPs). Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi dan memetakan masalah terkait obat pada komunitas PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) serta memberikan edukasi untuk meminimalkan risiko tersebut. Kegiatan PkM dilaksanakan pada Jumat, 21 November 2025, di Puskesmas Tiakar, Kota Payakumbuh. Metode yang digunakan adalah survey-based intervention dengan melibatkan 29 anggota PROLANIS. Identifikasi masalah dilakukan melalui wawancara dan pengisian kuesioner yang meliputi data demografi, prevalensi penyakit, profil penggunaan obat, dan keluhan yang mengindikasikan potensi ADR/DRPs. Data diolah secara deskriptif untuk menentukan frekuensi dan persentase. Intervensi berupa penyuluhan dan konseling farmasi klinis yang berbasis kebutuhan. Ditemukan bahwa 27,6% responden mengalami polifarmasi (konsumsi ≥ 5 jenis obat), menunjukkan risiko tinggi DRPs. Komorbiditas paling dominan adalah radang sendi (72,4%) dan maag/gangguan lambung (62,1%). Keluhan dominan yang dilaporkan adalah sakit sendi (44,8%) dan perut kembung (41,4%). Korelasi antara tingginya keluhan perut kembung dan nyeri sendi mengindikasikan DRPs akibat efek samping obat NSAID yang tidak dikelola dengan tepat. Sebanyak 55,2% responden juga mengonsumsi jamu/obat alternatif. Walaupun 69,0% responden mengenal profesi Apoteker, dialog menunjukkan kebutuhan tinggi akan informasi obat yang berimbang dan penatalaksanaan non-farmakologi untuk "hidup bersahabat dengan penyakit." Pasien PROLANIS Puskesmas Tiakar memiliki risiko DRPs yang tinggi akibat polifarmasi dan kurangnya informasi penggunaan obat yang aman. Kegiatan promotif kesehatan dan konseling perlu ditingkatkan. Disarankan integrasi Apoteker dalam kegiatan PROLANIS secara berkelanjutan untuk memberikan pendampingan farmasi klinis yang efektif dalam meminimalkan ADRs dan DRPs.