Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Frasa Verba dan Adjektiva Pada Cerpen “Badai yang Reda” Karya Fauzia A Telaumbanua, Ledi Mawarni; Lase, Paulina Nariati; Zega, Putri Jan Friska; Aceh, Shaila Mahfuza; Halawa, Noibe
Journal of Literature Language and Academic Studies Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : EDUPEDIA Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56855/jllans.v4i1.1418

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis verba dan adjektiva yang terdapat dalam cerpen “Badai yang Reda” karya Fauzia A. Klasifikasi verba dilakukan berdasarkan tiga aspek, yaitu perilaku semantis (verba perbuatan, proses, keadaan, dan pengalaman), perilaku sintaksis (verba transitif dan taktransitif), serta bentuk (verba asal dan verba turunan). Sementara itu, adjektiva diklasifikasikan berdasarkan kategori semantis, seperti adjektiva kualitas, warna, ukuran, keadaan, evaluatif, dan sebagainya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini kaya akan penggunaan verba dan adjektiva dengan fungsi yang mendukung kekuatan naratif serta penggambaran suasana dan emosi tokoh. Dengan demikian, analisis ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam kajian linguistik, khususnya dalam pemahaman dan pengajaran tata bahasa melalui karya sastra.
Analisis Semiotik Terhadap Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar: Makna Perlawanan Sosial Zega, Putri Jan Friska; Zega, Angel Safitri; Gulo, Dikimentris; Bawamenewi, Arozatulo
TA'EHAO Vol 4 No 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Universitas Nias

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56207/taehao.v1i1.702

Abstract

Studi ini menelaah puisi “Aku” karya Chairil Anwar melalui pendekatan semiotik untuk mengungkap makna perlawanan sosial di dalamnya. Ditulis pada masa kolonial, puisi ini memanfaatkan simbol-simbol kuat yang mengekspresikan kebebasan, pemberontakan, dan kritik terhadap kekuasaan kolonial serta norma sosial yang mengekang. Dengan metode deskriptif kualitatif, penelitian menerapkan teori semiotik Saussure, Peirce, dan Barthes untuk menafsirkan hubungan penanda dan petanda, ikon, indeks, simbol, serta makna denotatif dan konotatif. Data diperoleh melalui studi pustaka, dengan puisi sebagai sumber utama dan literatur pendukung sebagai sumber sekunder. Analisis menunjukkan bahwa citra seperti “binatang jalang,” “peluru menembus kulitku,” dan “hidup seribu tahun lagi” melambangkan perlawanan ideologis terhadap penindasan, ketidakadilan, dan hegemoni sosial. Pembacaan hermeneutik menempatkan tokoh “aku” sebagai ekspresi individualisme penyair sekaligus suara kolektif generasi muda yang mendambakan kebebasan. Studi menyimpulkan bahwa “Aku” memiliki kekuatan estetis dan kritik sosial yang tetap relevan bagi konteks Indonesia masa kini.