ABSTRAK Keluarga dengan latar belakang budaya patrilineal seperti suku Minang, Jawa dan Tionghoa menekankan bahwa tugas ayah adalah mencari nafkah, sedangkan tugas ibu adalah mengurus anak-anak dan rumah tangga. Sebagian besar wanita berpendidikan tinggi rela meninggalkan pekerjaan kantor dan mengambil keputusan menjadi ibu rumah tangga full-time (IRT penuh waktu), kembali kepada kodratnya sebagai seorang ibu. Peran seorang ibu rumah tangga sangat berpengaruh besar dalam menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga. Seiring berjalannya waktu, IRT penuh waktu ini mengalami parental burnout karena rutinitas yang baru. Penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu parental burnout sebagai variabel bebas, kesejahteraan keluarga sebagai variabel terikat. Kedua variabel ini dimediasi oleh resiliensi. Parental burnout adalah sindrom kelelahan yang diakibatkan karena adanya stres kronis berlebihan dalam peran sebagai orang tua. Hal ini disebabkan oleh pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak yang tak kunjung selesai dalam keseharian. Akibatnya IRT penuh waktu akan merasakan kejenuhan, stres, juga sangat kelelahan secara fisik dan psikologis. Resiliensi adalah daya lenting dalam menghadapi kesulitan dan stres. Kesejahteraan keluarga adalah kesejahteraan emosional dan fisik di dalam sebuah keluarga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Tiga instrumen alat ukur yang dipakai dalam penyusunan kuesioner penelitian ini adalah Parental Burnout Assessment (PBA), Subjective Well-Being for Mother (SWB-M) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Kuesioner dibagikan secara personal kepada 347 IRT penuh waktu yang sebelumnya pernah bekerja minimal enam bulan dan masih memiliki anak usia sekolah. Hasil penelitian ini adalah resiliensi terbukti sebagai mediator yang baik dalam membantu IRT penuh waktu yang mengalami parental burnout mendapatkan subjective well-being. ABSTRACT Families with patrilineal cultural backgrounds such as the Minang, Javanese and Chinese emphasize that the father's duty is to earn a living, while the mother's duty is to take care of the children and the household. Many highly educated women are willing to leave office work and decide to return to their nature as a full-time mother. Mother’s role has a big influence in creating family happiness and prosperity. As time went by, full--time mother experienced parental burnout due to new routines. This research consists of three variables, parental burnout as independent variable and family well-being as dependent variable. These two variables are mediated by resilience. Parental burnout is a fatigue syndrome caused by excessive chronic stress in the role of mother. This is caused by household work and childcare that are never completed in daily life which results in boredom, stress and extreme physical and psychological exhaustion. Resilience is the ability to bounce back in overcoming difficulties and stress. Family well-being is the emotional and physical well-being in a family. This research will use quantitative methods. The three measuring instruments that will be included in the questionnaire of this research are Parental Burnout Assessment (PBA), Subjective Well-being For Mother (SWB-M) and Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Questionnaires will be distributed personally to 347 full-time mothers who previously have worked at least six months and still have school-aged children. This research proves that resilience is a good mediator for full-ftime mom who is experiencing parental burnout to gain subjective well-being.