Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS V SD X, Y, Z BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN PARTISIPASI BIMBINGAN BELAJAR Santana, Kelly; Dewi, Fransisca I. R.; Budiarto, Yohanes
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.989

Abstract

Dalam masyarakat Indonesia, hampir tiga dekade, kursus bimbinan belajar menjadi bagian dari proses belajar, selain sekolah formal. Orang tua mengikutsertakan anaknya dalam bimbingan belajar dengan tujuan supaya prestasi belajar anak menjadi lebih baik. Prestasi belajar merupakan salah satu indikator dari motivasi belajar. Motivasi belajar merupakan prediktor signifikan dari prestasi belajar. Motivasi belajar dibedakan menjadi tiga, yaitu motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, dan amotivasi. Tujuan penelitian ini untuk menguji perbedaan motivasi belajar siswa berdasarkan jenis kelamin dan partisipasi bimbingan belajar. Partisipan adalah 157 siswa kelas 5 dari tiga sekolah dasar di Jakarta, berusia antara 9-12 tahun. Instrumen penelitian berupa kuesioner motivasi belajar. Setelah melalui uji validitas dan reliabilitas, diperoleh Cronbach’s alpha sebesar 0.727. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Analisis data menggunakan Independent-Samples T Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar berdasarkan jenis kelamin, t (155) = 2,137, p<0.05. Demikian pula terdapat perbedaan motivasi belajar berdasarkan partispasi bimbingan belajar, t (155) = 2.058, p<0.05. Kata kunci: motivasi belajar, sekolah dasar, partisipasi bimbingan belajar
GAMBARAN NILAI BUDAYA ANTARA GENERASI TUA DAN GENERASI MUDA PADA MASYARAKAT TIONGHOA BERAGAMA KONGHUCU Hambalie, Hertha Christabelle; Dewi, Fransisca Iriani R
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1828

Abstract

Nilai budaya mengalami perubahan dengan adanya modernisasi dan nilai-nilai baru, tidak terkecuali nilai budaya pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Nilai budaya didefinisikan sebagai ide abstrak yang menjadi pedoman tingkah laku individu dalam masyarakat tertentu. Penelitian ini menggambarkan bagaimana nilai budaya pada masyarakat Tionghoa dengan menggunakan menggunakan mix method, sequential explanatory design. Pertama, peneliti menggunakan metode kuantitatif untuk mendapatkan gambaran umum apakah terdapat perbedaan nilai budaya antara generasi tua dan generasi muda, yang kemudian diperdalam dengan metode kualitatif untuk mendapatkan gambaran lebih rinci bagaimana penerapan nilai budaya. Penelitian ini menggunakan alat ukur Chinese Culture Value (CVS) yang dibuat oleh Bond, dengan jumlah partisipan 62 orang, terdiri dari 31 orang tua yang mewakili generasi tua dan 31 orang anak yang mewakili generasi muda. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif dipilih 3 orang tua dan 3 orang anak dengan kategori nilai budaya (1) orang tua rendah dan anak tinggi, (2) orang tua tinggi dan anak tinggi, dan (3) orang tua tinggi dan anak sedang. 6 orang subjek diwawancara dengan wawancara semi-terstuktur. Berdasarkan analisis kuantitatif, diketahui tidak ada perbedaan nilai budaya Tionghoa antara generasi tua dan generasi muda, namun berdasarkan analisis kualitatif, ada perbedaan dalam cara penerapan nilai budaya pada kehidupan sehari-hari.
PERBEDAAN FAKTOR RISIKO RESILIENSI PADA TINGKAT SISWA SMP, SMA DAN MAHASISWA POLITEKNIK (STUDI KASUS PADA SEKOLAH DI JAKARTA, JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR) Marat, Samsunuwiyati; Idulfilastri, Rita Markus; Dewi, Fransisca Iriani R.; Bahiyah, Siti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i2.7499.2019

Abstract

Penelitian mengenai resiliensi remaja secara indegenous belum banyak dilakukan. Penelitian mengenai faktor-faktor risiko di dalam resiliensi remaja Cina Benteng telah ditemukan adanya 7 (tujuh) faktor risiko yang dihadapi remaja yaitu (1) bencana alam (banjir), (2) pergaulan seks bebas, (3) penyalahgunaan narkoba, (4) bullying, (5) kemacetan lalu lintas, (6) pemalakan, (7) informasi negatif dari media sosial. Ke tujuh faktor risiko ini digunakan untuk menguji faktor risiko pada remaja dengan cakupan remaja yang lebih luas dan mempertahankan keragaman indigenous. Tujuan penelitian adalah menguji apakah ada perbedaan sikap pada remaja SMP, SMA dan Perguruan Tinggi sehingga remaja mampu bertahan atau keluar dari kesulitan hidupnya berdasarkan 7 faktor risiko resileiensi. Jumlah partisipan sebanyak 567 orang terdiri dari siswa SMP sebanyak 179 orang, siswa SMA sebanyak 221 orang dan mahasiswa duduk di semester 1 sebanyak 167 orang, sedangkan wilayah pengambilan data di Jakarta, Jawa Tengah-kota Purwokerto dan Jawa Timur-kota Bojonegoro. Pengolahan data menggunakan SPSS versi 22 dengan teknik statistik One-way ANOVA. Hasil pengujian adanya perbedaan (sig.< 0,05) pada faktor risiko bencana alam/banjir, perilaku seks bebas, narkoba, kemacetan lalu lintas dan informasi negatif dari media sosial. Artinya, siswa SMP, siswa SMA dan mahasiswa bersikap berbeda-beda terhadap faktor-faktor risiko tersebut. Sedangkan faktor risiko bullying tidak terbukti adanya perbedaan (sig.>0,05), dengan demikian ditanggapi dengan sikap sama antara siswa SMP, SMA dan Politeknik. Jika ditinjau dari tingkat pendidikan terbukti siswa SMA dan SMP bersikap sama (sig.>0,05) pada faktor risiko bencana alam dan kemacetan lalu lintas. Sedangkan, mahasiswa dan siswa mempunyai kesamaan sikap pada faktor risiko informasi negatif di media sosial. Terkait dengan budaya lokal terbukti bahwa remaja SMA di Jakarta, Purwokerto dan Bojonegoro berbeda sikap menyingkapi risiko yang dihadapinya terutama mengenai narkoba. Namun kesamaan sikap ketika dihadapi oleh situasi pemalakan dan mendapatkan informasi negatif dari sosial media. Remaja Jakarta mempunyai banyak sikap berbeda dengan remaja di Purwokerto dan Bojonegoro. There is little research on indigenous adolescents’ resilience. Research on risk factors in resilience of Benteng China adolescents has found 7 (seven) risk factors faced by adolescents, namely (1) natural disasters (floods), (2) promiscuity, (3) drug abuse, (4) bullying, (5) traffic congestion, (6) mugging, (7) negative information from social media. These seven risk factors are used to test risk factors broader range of adolescents while maintaining maintain indigenous diversity. The purpose of this study is to test whether there are differences in attitudes in adolescents of junior high, high school and tertiary institutions that allow adolescents to survive or solve their life issues based on the 7 risk factors for resilience. The number of participants were 567 people consisted of 179 junior high school students, 221 high school students and 167 students in semester 1 of tertiary education, while the data collection areas were in Jakarta, Central Java in Purwokerto and East Java in Bojonegoro. Data was processed using SPSS version 22 with One-way ANOVA statistical technique. The test results show differences (sig. <0.05) on risk factors for natural disasters / floods, free sex, drugs, traffic jams and negative information from social media. This means that middle school students, high school students and college students behave differently towards these risk factors. Meanwhile the risk factors for bullying have not shown significant differences (sig.> 0.05), causing similar responses among middle, high school and polytechnic students. When viewed from the level of education it is proven that high school and junior high school students behave in the same way (sig.> 0.05) on natural disaster risk factors and traffic congestion. Meanwhile, college students and students have the same attitude towards negative information on social media. Associated with local culture, it is evident that high school students in Jakarta, Purwokerto and Bojonegoro have different attitudes toward the risks they face, especially regarding drug abuse but similar attitudes when faced with mugging and exposure to negative information from social media. Adolescents in Jakarta show many different attitudes compared to adolescents in Purwokerto and Bojonegoro.
MENINGKATKAN KUALITAS PELAYANAN ORGANISASI DENGAN PERILAKU EXTRA ROLE Dewi, Fransisca Iriani R.; Saraswati, Kiky Dwi Hapsari
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.182 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v1i2.3027

Abstract

Kinerja suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh kinerja para anggotanya. Kinerja yang maksimal dapat dicapai bila setiap anggota melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Seiring dengan perkembangan zaman, tugas dan tanggung jawab yang perlu dipenuhi pelaksanaannya bukan hanya berkisar pada tugas dan tanggung jawab pokok, namun juga yang bersifat informal dan tidak tercantum dalam deskripsi pekerjaannya, yang disebut sebagai perilaku extra role. Dalam banyak penelitian sebelumnya, telah dibuktikan bahwa perilaku extra role berperan signifikan dalam pencapaian kinerja, baik secara individual maupun organisasional. Istilah perilaku extra role lalu dikembangkan menjadi perilaku kewargaan organisasional (PKO) dengan lima dimensi, yaitu altruism, conscientiousness, sportsmanship, civic virtue, dan courtesy. Berdasarkan konsep ini, Penulis menyelenggarakan sebuah workshop sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan organisasi. Sasaran workshop adalah pengurus dan anggota organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang St. Laurensius, Tangerang. Workshop ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 April 2018 dan dihadiri oleh 35 orang pengurus dan anggota organisasi. Berdasarkan hasil evaluasi, terdapat peningkatan pengetahuan mengenai konsep organisasi dan perilaku extra role antara sebelum dan setelah diadakannya workshop. Selain itu, secara umum, peserta merasa materi workshop ini menarik, mudah dipahami, bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, serta memerlukan materi sejenis untuk pengembangan diri mereka.
GAMBARAN KUALITAS KEHIDUPAN LANSIA DI GIANYAR BALI Wardani, Ni Putu Saraswati; Dewi, Fransisca Iriani Roesmala
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.8254.2020

Abstract

Bali as one of the cities with the fourth rank has the largest number of elderly people in Indonesia. Religious, social and cultural life has a very strong influence on the quality of life of the elderly. The purpose of this study was to describe the quality of life of the elderly in Gianyar, Bali. This study uses a phenomenological qualitative approach with data collection techniques, interviews and observations. The subjects involved in this study were eight elderly individuals, eight subjects consisted of 4 men and 4 women, aged 60-70 years, with low educational status. The majority of participants have a partner (married), and still have a job as a daily activity. five out of eight elderly felt that the income they earned was sufficient to meet their daily needs, while three elderly felt that the income they earned could not meet their daily needs. The results of this study illustrate that eight elderly people have been able to achieve a quality life in 6 aspects, namely social relationships (active in social life); psychological well-being (positive feelings, self-worth); spiritual (gratitude), independence (organize and decide on their own activities, be financially independent); self-empowerment (beneficial for others. involved in decision making for family or community); environment (facilities and infrastructure or health care facilities). Meanwhile, one other aspect, namely physical health is defined as a condition of the body that is not fit and visual disturbances are often sick, so that it is perceived that their life is less qualified. Bali sebagai salah satu kota dengan peringkat keempat yang memiliki jumlah penduduk lansia terbanyak di Indonesia. Kehidupan beragama, sosial dan budaya yang sangat kuat mempengaruhi kualitas kehidupan lansia. Tujuan Penelitian ini untuk mendeskripsikan kualitas kehidupan lansia di Gianyar, Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Subyek yang terlibat dalam penelitian in adalah delapan individu lansia, delapan subyek terdiri dari 4 orang laki–laki dan 4 perempuan, berusia antara 60-70 tahun, dengan status pendidikan yang rendah. Mayoritas partisipan memiliki pasangan (menikah), serta masih memiliki pekerjaan sebagai aktivitas kesehariannya. Lima dari delapan lansia merasakan bahwa penghasilan yang didapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari sedangkan tiga lansia merasa bahwa penghasilan yang didapatkan kurang dapat memenuhi kebutuhannya. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa delapan lansia telah mampu mencapai kehidupan yang berkualitas pada 6 aspek yaitu hubungan sosial (aktif dalam kehidupan bermasyarakat); kesejahteraan psikologis (perasasan positif, keberhargaandiri); spiritual (rasa syukur), kemandirian (mengatur dan memutuskan aktivitas sendiri, mandiri secara finansial); pemberdayaan diri (bermanfaat untuk orang lain. dilibatkan dalam pengambilan keputusan untuk keluarga atau masyarakat); lingkungan (sarana dan prasarana atau fasilitas perawatan kesehatan). Sementara satu aspek lainnya, yakni kesehatan fisik dimaknai dengan keadaan tubuh yang kurang fit dan gangguan penglihatan sering sakit, sehingga dipersepsikan kehidupannya kurang berkualitas.
GAMBARAN KUALITAS KEHIDUPAN REMAJA (STUDI PADA REMAJA DI DAERAH GEMPA BUMI) Dewi, Fransisca Iriani Roesmala; Idulfilastri, Rita Markus; Angela, Lisa; Sari, Meylisa Permata
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.11030.2021

Abstract

Indonesia's territory which is located at the confluence of three major tectonic plates in the world, causes Indonesia to experience frequent natural disasters such as earthquakes. Three areas in Indonesia that experienced major earthquakes in the last 10 years are Aceh, Mataram / Lombok, and Palu. The earthquake not only caused material damage but also psychological trauma. Post-disaster trauma is vulnerable to children and adolescents. Problems experienced from a disaster have an impact on various aspects of life so that they can affect the quality of life of the victim. Quality of life is very important especially for adolescents, because adolescents who have higher quality of life tend to have low physical and psychological problems. Therefore, this study aims to describe the quality of life of adolescents in earthquake areas. Participants in this study were 437 senior high school students aged 12-19 years. All participants came from Aceh (NAD), Mataram (NTB), and Palu (Central Sulawesi). Data collection was carried out through a survey with WHOQOL-BREF questionnaire which consisted of 4 aspects, namely physical, psychological, social, and environmental. Data analysis used descriptive statistical techniques which is processed using the IBM 22.0 version of the SPSS (Statistical Product and Service Solutions) computer program and the LISREL 8.80 program. Data collection was carried out before the COVID-19 Pandemic occurred. The results showed that the quality of life of adolescents in terms of physical, psychological, social, and environmental aspects in Aceh, Mataram and Palu was classified as moderate. The results of this study can be used as a first step in designing interventions related to the quality of life of adolescents in earthquake areas. Posisi wilayah Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama di dunia menyebabkan Indonesia sering mengalami bencana alam seperti gempa bumi. Daerah di Indonesia yang mengalami gempa besar dalam 10 tahun terakhir yaitu Aceh, Mataram/Lombok, dan Palu. Gempa tersebut tidak hanya memberikan dampak berupa kerusakan materiil tetapi juga trauma psikologis. Trauma pasca bencana ini rentan dialami oleh anak-anak dan remaja. Masalah yang dialami dari satu peristiwa bencana berdampak pada berbagai aspek kehidupan sehingga dapat memengaruhi kualitas hidup korban. Kualitas hidup sangat penting khususnya bagi remaja karena remaja yang memiliki kualitas kehidupan yang tinggi cenderung rendah mengalami permasalahan fisik dan psikologis. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup remaja di daerah gempa. Partisipan dalam penelitian ini adalah 437 siswa SMA sederajat berusia 12-19 tahun. Partisipan berasal dari Aceh (NAD), Mataram (NTB), dan Palu (Sulawesi Tengah). Pengumpulan data menggunakan metode survei melalui kuesioner WHOQOL-BREF yang terdiri dari 4 aspek yaitu fisik, psikologis, sosial dan lingkungan. Analisis data menggunakan teknik statistik deskriptif dengan bantuan komputer program SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi IBM 22.0. Pengambilan data dilaksanakan sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup remaja ditinjau dari aspek fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan di Aceh, Mataram, dan Palu tergolong sedang. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai langkah awal dalam merancang intervensi terkait kualitas kehidupan remaja di daerah gempa.
Pengujian Efektivitas Strategi Schema-Based Instuction (SBI) terhadap Kemampuan Memecahkan Soal Cerita Matematika Penjumlahan dan Pengurangan (Studi pada Siswa Sekolah Dasar Kelas Dua) Vivi Sutanto; Sri Tiatri; Fransisca I. R. Dewi
Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Vol 4, No 1 (2010): Provitae
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/provitae.v4i1.280

Abstract

Learning to solve mathematical story-problem is beneficial since it emphasizes on thinking process. However, grade two students often experience difficulties in solving the mathematical story-problems. The students’ experiences of difficulties could lead to the reluctance of the students to learn them. Therefore, a strategy is needed to enhance the students’ ability to solve the mathematical story-problem. The purpose of current study is to examine the effectiveness of Schema-Based Instruction (SBI) in enhancing the ability to the grade two primary school students to deal with mathematical story-problem. The participants were six students at WK state primary school in West Jakarta. Results showed that there was an improvement of the participants’ abilities to solve the mathematical story-problems although it was not statistically significant. Further implications were discussed regarding time efficiency and the implementation of the strategy.Keywords: Schema-Based Instruction (SBI), word-problem solving, mathematics, think aloud.  
Penggunaan Umpan Balik Rekan Sebaya terhadap Evaluasi Diri dan Efikasi Diri dalam Keterampilan Menulis Samuel Adhi; Fransisca I. R. Dewi; Fidelis E. Waruwu
Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Vol 5, No 1 (2012): Provitae
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.641 KB) | DOI: 10.24912/provitae.v5i1.236

Abstract

This research was based on Bandura’s system of triadic reciprocal causation in social cognitive concept. The research was designed to test the hypothesis that the usage of different type of peer feedback (as an enviroment factor) has a different effect in increasing students’ self-evaluation (as a behavioural factor) and selfefficacy (as a personal factor) in writing skills learning situation. The research design was pre-test post-test control group design. Sixty six subjects participated in three equal classes divided into two groups. First group consisted of two experimental classes which stood for two types of feedback (formated and unformated) and one control group with placebo. The results showed that there was a significant effect of peer feedback type (formated and unformated) to increase student self-evaluation and self-efficacy in writing skills. Differences in self-evaluation scores F(2.63) = 37.506, (p <0.05), and self-efficacy F(2.63) =7.272, (p < 0.05). Skills writing students in the experimental group was higher than in the control group. The results also showed differences in the usage of the type of feedback and free peer to increased self-evaluation unformated, however there was no difference in the improvement of self-efficacy students.Keywords: peer feedback, students’ self-evaluation, self-efficacy in writing skills learning context
PERAN PSYCHOLOGICAL CAPITAL TERHADAP STUDENT ENGAGEMENT MAHASISWA KEPERAWATAN TINGKAT AKHIR [THE ROLE OF PSYCHOLOGICAL CAPITAL IN FINAL-YEAR STUDENT ENGAGEMENT] Veronica Paula; Fransisca I.R Dewi
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 8, No 1 (2020): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v8i1.2725

Abstract

Introduction: The quality of education is measured through satisfactory learning achievements. Student success in learning is assessed based on learning outcomes. Students need to increase their desire to learn, thus students need to increase involvement in the learning process. The desire to learn can be increased by developing psychological strengths that exist in students which can be incorporated in one variable called psychological capital. The purpose of this study is to determine the role of psychological capital in student engagement during their senior year as nursing students. Research methods: This study was conducted using quantitative correlation methodology. The instruments used in this study were the Academic Psychological Capital Questionnaire (A-PCQ) and the University Student Engagement Inventory (USEI). Participants in this study were 130 senior nursing students. The results of the study: The result shows that the dimensions of psychological capital has a significant role in the involvement of students. The different dimensions of psychological capital included in the analysis are: (1) self-efficacy (p-value = 0,000), (2) resilience (p-value = 0.019), (3) optimism (p-value = 0.016) and (4) expectations (p- value = 0.558). Recommendation: Researchers can explore the internal factors in senior nursing students that help them develop self-efficacy, hope, resilience, and optimism. These dimensions are necessary for nursing students' progress to advanced learning and improvement of their achievements. Researchers then need to examine the impact of psychological capital in influencing leadership effectiveness, teamwork, and readiness to change.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Pendahuluan: Mutu pendidikan diukur melalui prestasi belajar yang tinggi dan memuaskan merupakan dambaan setiap mahasiswa untuk membanggakan orang tua. keberhasilan mahasiswa dalam belajar dinilai berdasarkan hasil belajar. Mahasiswa perlu meningkatkan keinginan belajar, sehingga mahasiswa perlu meningkatkan keterlibatan dalam proses pembelajaran. Keinginan untuk belajar dapat ditingkatkan dengan mengembangkan kekuatan-kekuatan psikologis yang ada dalam diri mahasiswa yang tergabung dalam satu variabel yaitu psychological capital. Tujuan penelitian: untuk mengetahui peran psychological capital terhadap student engagement mahasiswa keperawatan tingkat akhir. Metode penelitian: kuantitatif korelasi, alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Academic Psychological Capital Questionnaire (A-PCQ) dan University Student Engagement Inventory (USEI). Partisipan pada penelitian ini berjumlah 130 mahasiswa keperawatan tingkat akhir. Hasil penelitian: menunjukkan peranan yang siginifikan bahwa dimensi psychological capital memiliki peranan terhadap keterlibatan mahasiswa adalah Efikasi diri (p-value= 0,000), resilien (p-value = 0,019), dan optimis (p-value = 0,016) sedangkan harapan (p-value =0,558). Rekomendasi: Peneliti selanjutnya maka peneliti dapat menggali faktor yang berhubungan dengan melakukan tinjauan pada aspek yang berasal dalam diri yaitu psychological capital dan tinjauan faktor yang berasal dari luar diri mahasiswa yaitu student engagement, pada mahasiswa keperawatan tingkat awal, untuk melihat peranan psychological capital dan student engagementnya. meneliti variable-variabel lain yang dapat diprediksi melalui psychological capital. Serta perlu menguji dampak dari psychological capital dalam memengaruhi efektivitas kepemimpinan, kerjasama tim, kesiapan untuk berubah.
Penggunaan Umpan Balik Rekan Sebaya terhadap Evaluasi Diri dan Efikasi Diri dalam Keterampilan Menulis Samuel Adhi; Fransisca I. R. Dewi; Fidelis E. Waruwu
Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2012): Provitae
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/provitae.v5i1.236

Abstract

This research was based on Bandura’s system of triadic reciprocal causation in social cognitive concept. The research was designed to test the hypothesis that the usage of different type of peer feedback (as an enviroment factor) has a different effect in increasing students’ self-evaluation (as a behavioural factor) and selfefficacy (as a personal factor) in writing skills learning situation. The research design was pre-test post-test control group design. Sixty six subjects participated in three equal classes divided into two groups. First group consisted of two experimental classes which stood for two types of feedback (formated and unformated) and one control group with placebo. The results showed that there was a significant effect of peer feedback type (formated and unformated) to increase student self-evaluation and self-efficacy in writing skills. Differences in self-evaluation scores F(2.63) = 37.506, (p <0.05), and self-efficacy F(2.63) =7.272, (p < 0.05). Skills writing students in the experimental group was higher than in the control group. The results also showed differences in the usage of the type of feedback and free peer to increased self-evaluation unformated, however there was no difference in the improvement of self-efficacy students.Keywords: peer feedback, students’ self-evaluation, self-efficacy in writing skills learning context
Co-Authors , Nivia Afrina Sari Agnestiara, Asrianti Clara Agustina Agustinus Purna Irawan Angela, Lisa Anggarina, Paula Tjatoerwidya Aqila, Nyimas Anastasia Astuti, Miguna Audy, Ervina AULIA, SULTHAN AZFA Bahiyah, Siti Basaria, Debora Basel, Wiwin Charolina Putri BEATITUDO, EWALDUS SENARAI Bellarmino, Edward Bernadin Dwi M Celine Vandea A. Tumundo Claudes, Juniven Daeli, Griselda Artha Dany Setiawan Devotyasto, Mario Edbert, Bruce Efna, Nayra Fitrianita Ettah, Nurul Aini Adinda Febriani, Oki Kartika FIDELIS E. WARUWU Frederik, Kimberly Hambalie, Hertha Christabelle I Wayan Sukania Idulfilastri, Rita Markus Ivanka, Risa Juselda Kimberley Kimberley Kirana, Liuciana Handoyo Lathifah, Shavina Lau, Andy Lavinsky, Saskia Marat, Samsunuwiyati Mei Ie Meylisa Permata Sari Mulya, Marsya Diva Nababan, Fidiyah Anggini O. Naomi Soetikno, Naomi Natalie Nivia Noviyanto Noviyanto, Noviyanto Oktariana, Putri Pamela Hendra Heng Paula Jessica C. Sibi Paula, Veronica Putri, Dhita Widya REZA FAHLEVI Riana Sahrani Samuel Adhi Santana, Kelly Santoso, Alexander Halim Saputra, Mikhael Adam Saputri, Marselina Saputro, Bayu Eko Saraswati, Kiky Dwi Hapsari Sari, Meylisa Permata Satyanegara, William Gilbert Setiawan, Dan Setiawan, Fiona Valencia Sikumbang, Laila Husna Simanjuntak, Jesica Febiani Sri Tiatri Sri Tiatri Suros, Angel Sharon Tiarti, Sri Utomo, Mochamad Hammam Tegar Valentina, Eveline Valentine, Raissa Vivi Sutanto Wardani, Ni Putu Saraswati Warsito, Jonathan Hadi Widyastuti, Philomena Esti Wijaya, Bryan Anna Yohanes Budiarto Yohanes Firmansyah Yusuf, Dania Zamralita, Zamralita