Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Kemampuan Ekstrak Metanol Daun Bidara Indigenous Pulau Sumbawa Sebagai Pengawet Ikan Nila: Analysis of Indigenous Sumbawa Bidara Leaf Extract as Preservative for Tilapia Fish Nairfana, Ihlana; Murtawan, Heri; Fatimah, Nurul
Jurnal Teknologi dan Mutu Pangan Vol. 2 No. 1 (2023): JTMP: Jurnal Teknologi dan Mutu Pangan
Publisher : Universitas Bumigora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30812/jtmp.v2i1.3121

Abstract

Tilapia (Oreochromis niloticus) is one type of freshwater fish that has good prospects for development. Mentioning one of the weaknesses of tilapia is that it is easy to experience a decrease in freshness, microorganism activities that occur in fish or the presence of fat oxidation processes that cause damage and deterioration in quality in fish. Bidara (Ziziphus mauritiana) leaves contains, alkaloids, flavonoids, phenols, tannins and saponins so that they can be used as natural preservatives for fish because of the activity of flavonoids and phenols found in bidara leaves can be used as antimicrobial and natural preservatives. The purpose of this study was to determine the effect of bidara leaf methanol extract on the quality of tilapia freshness and tilapia microbiology. This study used 2 methods, organoleptic results using empirical methods with methanol extract concentrations of bidara leaves 0%, 5%, 10% and 15%, while bacterial tests used the TPC (Total Plate Count) method. Based on the results of the study showed that the methanol extract of bidara leaves was able to maintain the quality of tilapia freshness based on the appearance of the eyes, gills, mucus, meat, aroma and texture and the number of microbes. The best treatment is a 5% extract concentration that is able to maintain the freshness of the fish for up to 9 hours. Total cell during storage of 3 hours, 6 hours and 12 hours are still included in the SNI requirements, which is no more than 5.0 x 105 cell/g.
TEKNOLOGI BIOFLOK UNTUK BUDIDAYA IKAN DI DAERAH ERIT: PELUANG PENGEMBANGAN DI NUSA TENGGARA TIMUR Murtawan, Heri
Jurnal TAMBORA Vol 9 No 2 (2025): EDISI 25
Publisher : Wakil Rektor 3, Direktorat Riset, Publikasi dan Inovasi, Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36761/tambora.v9i2.6171

Abstract

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memilliki tantangan dalam           pengembangan budidaya ikan air tawar akibat keterbatasan sumber daya air. Teknologi bioflok bertujuan menerapakan budidaya yang hemat air dan menerapkan proses biokonversi limbah serta efisensi pakan berpotensi sebagai solusi untuk budidaya ikan di NTT yang minim sumberdaya air tawar. Artikel ini adalah literature review yang membahas tentang prinsip kerja dari teknologi bioflok, keunggulannya bagi sistem budidaya intensif, serta peluang dan tantangan implementasinya di wilayah erit. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa bioflok memiliki potensi yang sangat besar untuk diterapkan di NTT, terutama dalam skala kecil berbasis komunitas. Namun, tantangan teknis seperti kebutuhan energi untuk aerasi perlu diatasi melalui pendekatan berbasis lokalitas yaitu sumberdaya energi. Kajian ini merekomendasikan pemanfaatan energi alternatif, serta uji coba sistem percontohan untuk mendukung pengembangan budidaya bioflok yang berkelanjutan di NTT.
Keanekaragaman Lamun di Pesisir Bahoi, Sulawesi Utara: Indonesia Fahruddin, Muh.; Suriyadin, Adi; Abdurachman, Muhammad Haikal; Murtawan, Heri; Ilyas, Anita Prihatini
JURNAL LEMURU Vol 4 No 3 (2022): JURNAL LEMURU: Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan Indonesia
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan|Fakultas Pertanian|Universitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/lemuru.v4i3.2282

Abstract

Bahoi merupakan desa pesisir yang terdapat di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Pesisir Bahoi menyuguhkan ekowisata bahari yang diantaranya adalah mangrove, lamun, dan terumbu karang. Adapun fokus dalam tulisan ini adalah ekosistem lamun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman lamun di pesisir Desa Bahoi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling dengan menggunakan transek kuadrat berukuran 50 x 50 cm. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam jenis lamun yaitu Enhalus acoroides, Thallasia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, dan Halodule uninervis. Frekuensi dan kerapatan lamun didominasi oleh jenis lamun berukuran besar seperti E. acoroides dan T. hemprichii. Sedangkan indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi jenis lamun ke tiga stasiun pengamatan menunjukkan kategori yang rendah.
Performa Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dengan Padat Tebar 114 ekor/m² di Tefa Politeknik KP, Kupang Kostakurta Bule, Alexander Boy; Lukmini, Aisyah; Rina, Timotius Ragga; Nuban, Sri Rahayu; Juanda, Shobikhuliatul J; Khairani, Nurul Fitri; Banggut, Emanuel D; Murtawan, Heri; Rahman, Ihsan Sanggar; Swari, Wahyu Dani
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 11, No 1 (2026): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/akuakultur.v11i1.304

Abstract

This study analyzes the growth and survival performance of whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) reared at a stocking density of 114 shrimp/m² during a 90-day period at the Teaching Factory of Poltek KP Kupang. Cultivation was conducted in a 350 m² pond using a combination of blind feeding and biomass-based feeding methods, with routine monitoring of water quality parameters including temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, and water clarity. The average body weight (ABW) increased significantly from 2.59 g/shrimp at day 30 to 21.74 g/shrimp at day 90. The average daily gain (ADG) during the culture fluctuated between 0.13 and 0.42 g/shrimp/day, indicating good growth performance. Feed conversion ratio (FCR) was 1.18, indicating efficient feed utilization, while the survival rate (SR) reached 85.1%, reflecting effective management and favorable culture conditions. Water quality parameters remained within optimal national standards, supporting shrimp physiological processes. The findings suggest that whiteleg shrimp aquaculture at this stocking density yields good growth and high survival, offering practical insights to improve intensive vannamei shrimp farming, particularly in the Nusa Tenggara Timur region.