Hesti Amelia Mawardani
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PRAKTIK STEREOTIP GENDER DALAM PEMILIHAN KETUA KELAS: STUDI PADA MAHASISWA BARU SOSIOLOGI UNESA Hesti Amelia Mawardani; Indri Nurul Kumalasari; Dewi Siti 'Aisah; Clarissa Ayu Fitri Ramadhani; Sugeng Harianto
Indonesian Gender and Society Journal Vol. 5 No. 2 (2024): October
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/igsj.v5i2.88277

Abstract

Stereotip gender dalam kepemimpinan masih menjadi isu yang relevan untuk dikaji di lingkungan akademik. Masalah penelitian dalam studi ini berfokus pada praktik stereotip gender dalam pemilihan ketua kelas di kalangan mahasiswa baru Sosiologi UNESA. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik stereotip gender dalam pemilihan ketua kelas pada mahasiswa baru Sosiologi UNESA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teori praktik sosial Bourdieu dan fenomenologi Husserl, subjek dalam penelitian ini berfokus paða mahasiswa. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan delapan informan karena peneliti data yang di dapatkan dirasa telah konsisten, observasi partisipatif di lima kelas, dan studi dokumentasi. Instrumen penelitian meliputi pedoman wawancara semi-terstruktur, lembar observasi terstruktur, dan panduan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil menunjukkan dominasi kepemimpinan laki-laki (80%) meskipun mahasiswa mayoritas perempuan (70%). Analisis mengungkap internalisasi habitus patriarkal melalui stereotip tentang ketidakmampuan perempuan dalam memimpin dan praktik diskriminatif dalam proses pemilihan. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya pengembangan program pendidikan kritis gender, reformasi sistem pemilihan kepemimpinan yang inklusif, dan penguatan kapasitas kepemimpinan mahasiswa perempuan. Implikasi penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai bagaimana stereotip gender masih memengaruhi proses pemilihan pemimpin dalam lingkungan akademik, khususnya di kalangan mahasiswa baru Sosiologi.
The Dialectics of Tradition: Negotiating Habitus and Field in the Persistence of the Mantu Kucing Ritual among Agrarian Communities Hesti Amelia Mawardani; FX Sri Sadewo; Kholida Ulfi Mubaroka; Permata Ayu Widyasari
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 11 No. 1 (2026): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v11i1.7022

Abstract

The Mantu Kucing, or ‘cat marriage,’ ritual in Curahjati Village, Banyuwangi, Indonesia, stands as a significant traditional practice that reflects the spiritual responses of agrarian communities to ecological uncertainty. Passed down through generations, this ritual was historically a means to invoke rain, yet it now confronts challenges posed by modernization, scientific rationality, and climate change. Although academic discourse surrounding traditional rain-making beliefs has expanded, systematic research on the social reproduction mechanisms that support their persistence remains limited. This study explores how the meanings and functions of Mantu Kucing are expressed in community life and how traditional beliefs are negotiated alongside modern meteorological knowledge. Employing Pierre Bourdieu's social practice theory, this qualitative ethnographic research analyzes the interactions among habitus, field, and symbolic capital. Conducted in Curahjati Village, the research involved interviews with ten informants, comprising traditional leaders, farmers, religious figures, and youth, as well as participant observation and documentation. The findings reveal that Mantu Kucing operates as a complex mechanism for social reproduction, where the ritual habitus engages with various overlapping fields: traditional rituals, Islamic practices, modern scientific knowledge, and the market economy. The ritual serves not only as a spiritual expression of cosmological beliefs but also as a means of fostering social solidarity through gotong royong (mutual cooperation). Additionally, it acts as a source of symbolic capital that enriches cultural identity and provides a venue for negotiating authority between traditional and modern knowledge systems. The tradition persists through strategic adaptation, maintaining its spiritual essence while embracing digital documentation and actively engaging younger generations by reinterpreting the ritual as local wisdom. This study underscores how agrarian communities exercise cultural agency within structural constraints, effectively preserving their collective identity through creative transformation and offering alternative rationalities for navigating ecological uncertainty.