Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Empowerment of Gulf Communities Tomini In Improving Blue Economy Through Soft skills Technopreneurship in the Subdistrict North Leato, Gorontalo Lapananda, Eva Rivana; Pomalingo, Samsi; Nurain; Pontoh, Riviyanti; Tala'a, Rahmat; Alhijrah; Ajengsari, Desti; Patamani, Tri Yulianti; Tupamahu, Jessia Ruth Cladya; Nabius, Riski
Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32815/jpm.v6i1.2387

Abstract

Purpose: This research discusses the processing of skipjack tuna into frozen food in the form of rolls for UKM (Small and Medium Enterprises) groups in the North Leato sub-district, Gorontalo City. The study aims to improve the understanding of UKM groups regarding skipjack tuna processing to enhance the blue economy through technopreneurship soft skills training. Method: The process of making skipjack tuna rolls began with coordination with the UKM group members. This was followed by a socialization session about community empowerment in producing long-lasting fish products. After the socialization, training was conducted on processing skipjack tuna and utilizing fish waste as organic fertilizer. This was done to assess the participants’ understanding of processing skipjack tuna into rolls. A Focus Group Discussion (FGD) was then held with the community and the North Leato government to discuss marketing techniques and product processing. Practical Application: The results offer practical benefits for the SME groups in the North Leato sub-district by increasing their understanding of skipjack tuna processing training, which can help improve their income and ensure sustainability in producing skipjack tuna rolls. Conclusion: Empowering the community around Tomini Bay, especially in the North Leato sub-district, is a strategic step in enhancing the blue economy through the development of technopreneurship soft skills. Through training and interpersonal skill development, the community can become better prepared to manage marine resources sustainably and foster creative innovation in technology-based businesses.
Implementasi Etika Ai Dalam Pendidikan: Analisis Kebijakan Dan Tantangan Operasional Prinsip FATE Paulutu, Masniyati; Pontoh, Riviyanti; Lalu, Widy Natasya; Novian, Dian; Bouty, Abd. Aziz
JURNAL PETISI (Pendidikan Teknologi Informasi) Vol. 7 No. 2 (2026): JURNAL PETISI (Pendidikan Teknologi Informasi)
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/jurnalpetisi.v7i2.4733

Abstract

Untuk hal-hal seperti otomatisasi proses administrasi, personalisasi pembelajaran, dan analisis data pembelajaran, kecerdasan buatan telah mengubah pendidikan. Meskipun AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendidikan, ia juga menghadirkan banyak masalah etis, seperti bias algoritmik, pelanggaran privasi data, ketidakjelasan dalam pengambilan keputusan, dan kemungkinan pengurangan interaksi manusia dalam proses belajar-mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari bagaimana penggunaan AI di sektor pendidikan berhubungan dengan moral, penerapan teknologi, dan kebijakan publik. Metode Sistematic Literature Review (SLR) digunakan dalam penelitian ini, yang menggunakan metode analisis bibliometrik dan kualitatif pada 713 artikel ilmiah yang diterbitkan dari 2018 hingga 2024. Setelah melewati prosedur seleksi yang didasarkan pada protokol PRISMA, sebanyak 87 artikel yang relevan dievaluasi secara tematik dengan bantuan NVivo 14 dan VOSviewer untuk analisis bibliometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan besar dalam kerangka kebijakan saat ini dan praktik lapangan dalam menerapkan AI. Meskipun empat prinsip etika AI utama, Fairness, Accountability, Transparency, dan Ethics (FATE), digunakan secara berbeda dan tidak konsisten. Privasi data (72%), bias algoritmik (64%), ketergantungan teknologi (47%), dan kesenjangan akses (41%). Selain itu, hanya 29% lembaga memiliki mekanisme akuntabilitas yang jelas, sementara hanya 24% guru memasukkan etika AI ke dalam kurikulum mereka. Hasilnya menegaskan bahwa untuk memastikan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak hanya efektif secara teknis tetapi juga adil, inklusif, dan sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan pendidikan, diperlukan pengembangan kebijakan yang responsif, aplikatif, dan kontekstual. Hasil penelitian ini memberikan bantuan teoretis dan praktis untuk membangun kebijakan pendidikan yang moral dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi di masa depan