Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Nilai-Nilai Pendidikan Islam Moderat dalam Kitab Risalatul Mu’awanah Karya Abdullah Al-Haddad: Penelitian Indana Zulfa; Hani’atul Khoiroh
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 3 Nomor 4 (April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v3i4.1034

Abstract

Pendidikan Islam memegang peranan vital dalam membentuk pandangan dunia serta perilaku individu dalam berbagai aspek kehidupan, baik secara personal, sosial, maupun kebangsaan. Dalam konteks globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, dunia pendidikan menghadapi tantangan baru berupa meningkatnya paham radikalisme dan ekstremisme, khususnya di kalangan generasi muda. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan telah menjadi salah satu sasaran utama penyebaran ideologi ekstrem. Oleh karena itu, urgensi penguatan nilai-nilai moderasi beragama dalam pendidikan Islam semakin tinggi. Kementerian Agama Republik Indonesia sejak 2019 telah menggulirkan program Moderasi Beragama sebagai upaya strategis untuk menangkal intoleransi, radikalisme, dan kekerasan berbasis agama. Dalam konteks ini, kitab klasik Risalatul Mu’awanah karya Abdullah Al-Haddad menjadi relevan untuk dikaji ulang sebagai sumber otoritatif dalam memperkuat moderasi pendidikan Islam. Kitab ini berisi ajaran moral dan nilai-nilai keagamaan yang menyeluruh, mencakup aspek akidah, ibadah, dan muamalah yang disampaikan dengan pendekatan tasawuf dan syariat yang seimbang. Abdullah Al-Haddad dikenal sebagai ulama yang berpemikiran moderat, dan karya-karyanya menekankan pentingnya pengembangan karakter yang luhur, toleransi, keseimbangan spiritual, serta hubungan sosial yang harmonis. Nilai-nilai utama yang terkandung dalam Risalatul Mu’awanah seperti ta’awun (tolong-menolong), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), ta’adul (keadilan), dan ta’aruf (saling mengenal) merupakan pilar penting dalam membentuk kepribadian Muslim yang moderat, adil, dan mampu hidup berdampingan dalam masyarakat multikultural. Studi ini menyoroti pentingnya merelevansikan pemikiran klasik Abdullah Al-Haddad dengan kebutuhan pendidikan modern, khususnya dalam pembentukan karakter, penguatan akhlak, pendidikan tauhid, serta penanaman nilai-nilai toleransi antarumat beragama. Pendidikan Islam yang berlandaskan prinsip wasathiyah (moderat) menjadi instrumen kunci dalam melawan disintegrasi sosial dan ideologi kekerasan. Selain itu, nilai-nilai ilahiyah (spiritual) dan insaniyah (kemanusiaan) dalam kitab ini sangat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cinta kepada Allah, menerima takdir, menjaga kebersihan, berbakti kepada orang tua, hingga menghormati perbedaan dan menjaga silaturahmi. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai moderasi dalam pendidikan Islam melalui pengkajian kitab klasik seperti Risalatul Mu’awanah, diharapkan terbentuk generasi muda yang memiliki ketahanan moral, akhlak yang mulia, serta kesadaran sosial yang tinggi dalam merespons kompleksitas tantangan zaman. Penelitian ini juga menjembatani kekayaan intelektual Islam klasik dengan kebutuhan sistem pendidikan yang lebih adaptif dan humanis di era modern.
Akulturasi Pendidikan Islam Dan Budaya Lokal Dalam Membentuk Masyarakat Yang Moderat (Studi Etnografi Di Dusun Guyangan Madureso Mojokerto): Penelitian Niswatun Kharimah; Hani’atul Khoiroh
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 3 No. 4 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 3 Nomor 4 (April 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v3i4.705

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana akulturasi pendidikan islam dan budaya lokal dalam membentuk masyarakata yang moderat di dusun Guyangan Madureso Mojokerto. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya sinergitas yang bagus antara seluruh lapisan masyarakata serta peranna penting pendidikan islam dan budaya lokal di dusun Guyangan. Tantangan utama yang dihadapi adalah arus globalisasi yang senantiasa menjadi momok dalam menghamabat rasa cinta terhadap budaya dan merong-rong keteguhan pendidikan islam pada tiap individu khususnya pemuda. Strategi dari pemberian pengetahuan mengenai islam moderat melalui forum-forum kecil dan pendidikan non formal seperti ngaji rutinan, tahlil dan lain sebagainya, hingga muncullah pembiasaan yang mengakar, (moral knowing) sehingga muncullah (moral feeling) yakni rasa membuat masyarakat Guyangan bertahan dalam moderasi bukan sekadar karena mereka tahu, tapi karena mereka merasakan. Ada kedekatan emosional yang kuat terhadap tradisi—bukan dalam arti fanatisme budaya, tapi rasa memiliki terhadap sesuatu yang mempererat. Misalnya saat acara tahlilan atau sedekah bumi, ada perasaan hangat yang tumbuh dari duduk melingkar, berbagi doa, makan bersama, dan mendengarkan petuah kiai. Di sana, muncul empati antarwarga, rasa hormat antar generasi, dan cinta terhadap nilai kebersamaan. Inilah moral feeling dalam wujud nyata: nilai-nilai yang tidak hanya dipahami, tapi menyentuh batin. Kemudian tumbuhlah (moral action) yaitu berupa tindakan yang merupakan perwujudan dari moderat.
Strategi Memadukan Pembelajaran Bahasa Arab dan Pendidikan Islam Moderat di Pesantren Al- Ma’arif Muhammad Said; Muhammad Makinuddin; Hani’atul Khoiroh
INNOVASI : JURNAL INOVASI PENDIDIKAN Vol. 11 No. 3 (2025): DESEMBER (JURNAL INOVASI PENDIDIKAN)
Publisher : Education Reserach Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64540/n04pk969

Abstract

This study aims to examine and formulate integrative strategies for combining Arabic language instruction with moderate Islamic education in Islamic boarding schools as a means of cultivating students who are both linguistically proficient and characterized by wasathiyah (moderation). Employing a descriptive qualitative approach with a field research design, the study was conducted at Al-Ma’arif Islamic Boarding School in Jombang, East Java. Data were collected through participatory observation, semi-structured in-depth interviews, and document analysis involving 20 respondents, including Arabic language teachers, students, and institutional leaders. The data were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman, with validity ensured through triangulation and member checking. The findings reveal that the integration of Arabic learning and moderate Islamic education is implemented systemically through four interrelated components: curriculum integration, contextual-reflective instructional methods, the reinforcement of a moderate language environment (bi’ah lughawiyyah), and holistic evaluation encompassing cognitive, affective, and social dimensions. Empirical evidence indicates that this integrative strategy not only enhances students’ Arabic language competencies but also effectively internalizes values of Islamic moderation such as tolerance, justice, and balance thereby positioning Arabic as both an academic and moral-ideological instrument in fostering inclusive, critical, and peace oriented student character.
KOMPETENSI GURU PAI DALAM PENGEMBANGAN LINGKUNGAN SEKOLAH BERWAWASAN MODERASI BERAGAMA: STUDI MULTISITUS Nailun Nabilah; Hani’atul Khoiroh
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.47538

Abstract

This study is motivated by the important role of Islamic Religious Education (PAI) teachers’ competence in developing a school environment that promotes religious moderation amid the diversity of students’ social and religious backgrounds. Schools are not only institutions for transferring knowledge, but also spaces for shaping students’ character, tolerance, and inclusive attitudes. Therefore, PAI teachers are expected to possess pedagogical, personal, social, and professional competencies that support the internalization of religious moderation values within the school environment. This study aims to examine the competence of PAI teachers in developing a school environment based on religious moderation at SMAN 1 Cerme and SMPN 24 Gresik. The research employed a qualitative approach with a multisite study design. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation involving PAI teachers, school principals, and students. The findings indicate that the competence of PAI teachers plays a significant role in creating a moderate school environment through dialogical learning, exemplary behavior, harmonious social interaction, and the integration of religious moderation values into intracurricular and extracurricular activities. Pedagogical competence is reflected in teachers’ ability to design inclusive learning processes, while personal and social competencies are demonstrated through tolerant, fair, and open-minded attitudes in daily interactions. In addition, professional competence supports the strengthening of religious moderation values through contextual learning strategies. The development of a moderate school environment is also supported by school culture, leadership policies, and the participation of all school members, although challenges remain in the form of limited understanding of religious moderation and the influence of digital media
Pengembangan Budaya Pesantren dalam Mewujudkan Pendidikan Islam Moderat Berbasis Multikultural Aldina Fauziyah; Mohammad Makinuddin; Hani’atul Khoiroh
YASIN Vol 6 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i1.8815

Abstract

Although moderate Islamic education is often positioned merely as theoretical curriculum content in the classroom, practice in Islamic boarding schools (pesantren) shows that religious moderation is in fact formed through everyday experiences that unfold over a full 24 hours. This study aimed to reveal how pesantren culture is transformed into a multicultural ecosystem that effectively instills the values of moderation in practical terms. The research employed a library study method by reviewing literature related to pesantren, religious moderation, and multicultural education. The findings indicate three main points. First, pesantren build an inclusive ecosystem through the management of student heterogeneity and cultural acculturation processes that enable continuous encounters across diverse social and cultural backgrounds. Second, the internalization of moderation values is carried out through daily traditions such as sorogan and roan, which cultivate discipline, responsibility, and social empathy through consistent habituation. Third, the Filosofi Ikan di Air Asin (Fish in Salty Water Philosophy) serves as an ethical framework that guides students to remain adaptive in a plural society without losing the integrity of their creed. The study concludes that strengthening pesantren culture is an effective preventive strategy to counter radicalism while simultaneously reinforcing social cohesion at the national level through the formation of a moderate habitus within Islamic educational environments.