Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Masyarakat di Desa Sibowi Wilayah Kerja Puskesmas Kamaipura Kabupaten Sigi: The Influence of Health Counseling on Community Knowledge, Attitudes, and Actions in Sibowi Village, Kamaipura Health Center Working Area, Sigi Regency Umi Kalsum; Sriyani Oktavia; Tri Septyo Indratno; Dewi Sugiarti; Helda Badarudin; Tri Eko; Prayitno Mulani; Lita Ulfa Ngaito; Elindawati Tutuf Arif; Hindun DJ Usman; Reza Alyani Djiko; Rahmatia; Febrianti; Reyhan; Finta Amalinda; Indrawan; Sudirman; Marselia Sandalayuk
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 4: April 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i4.7239

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu upaya strategis dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang dilakukan melalui program pembinaan dan penyuluhan oleh berbagai pihak. Berdasarkan data yang diambil oleh peneliti dari Puskesmas Kamaipura Tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah Rumah Tangga di Desa Sibowi 1.160, jumlah rumah tangga yang disurvey dan dibina untuk perilaku hidup bersih dan sehat 95 rumah tangga. Dari hasil pembinaan terdapat 66 rumah tangga yang berPHBS baik dan 26 rumah tangga yang tidak berPHBS baik. Metode penelitian ini adalah kuantitatif, desain penelitian yang digunakan adalah pre-experimental design dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 30 masyarakat Desa Sibowi, sampel yang berjumlah 30 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji wilcoxon (uji-t berpasangan). Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan pre dan post test, nilai P 0,008 < 0,05. Hasil sikap pre dan post test, nilai P 0,212 > 0,05. Hasil tindakan pre dan post test nilai P 0,002 < 0,05. Kesimpulan ada pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan dan tindakan masyarakat sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan, namun tidak ada pengaruh pada sikap masyarakat sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan di desa Sibowi Wilayah Kerja Puskesmas Kamaipura. Saran Diharapkan bagi pihak Puskesmas Kamaipura, khususnya bagian promosi kesehatan Puskesmas Kamaipura untuk selalu mensosialisasikan program PHBS kepada kader dan masyarakat sehingga masyarakat mendapatkan informasi tentang penting dan manfaat PHBS.
KESIAPSIAGAAN PUSKESMAS PUNGGAVA TOMPE DALAM PENANGGULANGAN BENCANA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI Sriyani Oktavia
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 2 (2025): Vol. 10 No. 2 Desember 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i2.2127

Abstract

Bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami menimbulkan dampak besar terhadap sistem kesehatan masyarakat, terutama di wilayah rawan seperti Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Puskesmas sebagai layanan kesehatan primer memiliki peran strategis dalam kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesiapsiagaan Puskesmas Punggava Tompe dalam menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan teknik wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap Kepala Puskesmas sebagai informan tunggal. Data diperoleh melalui wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puskesmas telah memiliki disaster plan, struktur tanggap darurat, serta menerapkan sistem triase saat bencana. Pelayanan tetap berjalan meskipun sarana rusak, didukung oleh tenaga kesehatan yang terbatas. Kolaborasi lintas sektor seperti Dinas Kesehatan, UGM, MDMC, dan PMI turut memperkuat kapasitas tanggap darurat. Namun, masih ditemukan kendala seperti keterbatasan SDM, lemahnya regulasi di tingkat desa, dan munculnya penyakit pascabencana akibat kondisi pengungsian. Edukasi berkala dan penguatan koordinasi lintas sektor sangat diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan puskesmas dan masyarakat ke depan.
Cadre Disposition as a Key Determinant of Local-Food Supplementary Feeding: A Mixed-Methods Study Sudirman Sudirman; Budiman, Budiman; Sriyani Oktavia
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 9 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i2.8658

Abstract

Introduction: Stunting remains a major public health concern in Indonesia. Local-food supplementary feeding (PMT berbasis pangan lokal) is prioritized in national strategies, yet implementation fidelity varies. This study aimed to assess determinants of PMT implementation in Donggala, Indonesia, a sequential explanatory mixed-methods approach among community health cadres and health workers, guided by Edwards III’s policy implementation framework. Methodology: A sequential explanatory mixed-methods design was employedmixed-methods sequential explanatory design was applied. Quantitative data were collected via structured questionnaires from 54 cadres and health workers, while qualitative insights were derived from focus group discussions (FGDs). . Binary logistic regression examined the associations between communication, resources, disposition, and bureaucratic structure with PMT implementation, adjusting for education, occupation, and years of service. Results are presented as odds ratios (ORs), 95% confidence intervals (CIs), pseudo-R², and exact p-values. Qualitative data were derived from focus group discussions and analyzed thematically to contextualize quantitative findings. Results: Disposition emerged as the only statistically significant determinant in the adjusted model (OR = 21.01; 95% CI: 3.02–146.18; p = 0.002), whereas communication, resources, and bureaucratic structure lost significance after adjustment. Qualitative findings reinforced these results, highlighting intrinsic motivation, peer solidarity, and willingness to serve as key drivers of implementation. Participants also identified systemic barriers, including unclear SOP dissemination, limited resources, and administrative burdens, which affected program continuity and cadre performance. Conclusion: Cadre disposition plays a pivotal role in PMT implementation; however, its effectiveness depends on supportive structural and resource conditions. Motivation alone cannot compensate for weak communication systems, limited budgets, or burdensome administrative procedures. Strengthening supervision, improving communication channels, and ensuring adequate resource allocation are essential. Findings should be interpreted cautiously given the modest sample size and non-validated measurement instruments. Further research using larger samples and validated tools is recommended.