Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PEMIKIRAN AYATULLAH KHOMEINI TENTANG WILAYAH AL-FAQIH DAN RESPON PARA ULAMA Nita Yuli Astuti
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.052 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v4i2.6499

Abstract

Peristiwa Revolusi Islam Iran pada 1 Februari 1979 merupakan salah satu panggung sejarah yang menakjubkan bagi dunia Islam karena yang menjadi tokoh utama yang menggerakannya adalah Ayatullah Khomeini. Ia merupakan tokoh ulama Syiah yang paling dihormati di Iran karena ia merupakan tokoh yang paling berjasa dalam terjadinya revolusi dan pencetus gagasan Wilayah Al-Faqih (Kepemimpinan Para Ulama), tak heran jika pemikirannya menjadi ideologi di negara Iran setelah terjadinya revolusi. Pro dan kontra terjadi berkaitan dengan gagasan yang dicetuskan oleh Khomeini yang dijadikan ideologi negara. Diantara yang sependapat dengan gagasan yang dicetuskan oleh Khomeini mereka beranggapan bahwa dengan melihat budaya masyarakat Iran yang mayoritas menganut Syiah merupakan model yang tepat untuk diterapkan di Iran yang melahirkan Negara Republik Islam Iran. Adapun yang tidak menyetujui bahwa konsep yang dicetuskan oleh Khomeini dalam ideologi negara karena Khomeini menerapkannya tanpa adanya musyawarah terlebih dahulu dan tidak menggunakan ideologi yang sudah dianut oleh negara-negara lain.Kata Kunci : Ayatullah Khomeini, Wilayah Al-Faqih, Respon, Ulama.
Transformasi Museum Hagia Sophia oleh Erdogan Persfektif Sejarah dan Implikasinya bagi Indonesia Budi Sujati; Wahyu Iryana
Tazkir : Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Keislaman Vol 6, No 2 (2020): 11 Articles, Pages 169 - 344
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/tazkir.v6i2.2690

Abstract

The conquest of Constantinople in 1453 became the highlight of the world today one of the triggering of Turkish President Recep Tayyip Erdogan changed the status policy of the museum's Hagia Sophia to the mosque. It gets a tremendous response from the world community especially from the West and Islam. Pros and cons arise because they assess the status of Hagia Sophia is a world heritage that can not change its status and must be a cultural property. From the stronghold in favor of arguing that it is the right and freedom of a country to change its identity with the support of its people. While those who reject the status of the change are due to access to visit the most sacred and sacred places will have difficulties so it will be difficult to visit them freely. This research is descriptive with a qualitative methodology. It used this methodology to explain a phenomenon that is happening now regarding the issue of Hagia Sophia. As Muslims must make wise decisions by its history through historical approaches with heuristic stages, criticism, interpretation, and historiography.
Transformasi Museum Hagia Sophia oleh Erdogan Persfektif Sejarah dan Implikasinya bagi Indonesia Budi Sujati; Wahyu Iryana
Tazkir : Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Keislaman Vol 6, No 2 (2020): 11 Articles, Pages 169 - 344
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/tazkir.v6i2.2690

Abstract

The conquest of Constantinople in 1453 became the highlight of the world today one of the triggering of Turkish President Recep Tayyip Erdogan changed the status policy of the museum's Hagia Sophia to the mosque. It gets a tremendous response from the world community especially from the West and Islam. Pros and cons arise because they assess the status of Hagia Sophia is a world heritage that can not change its status and must be a cultural property. From the stronghold in favor of arguing that it is the right and freedom of a country to change its identity with the support of its people. While those who reject the status of the change are due to access to visit the most sacred and sacred places will have difficulties so it will be difficult to visit them freely. This research is descriptive with a qualitative methodology. It used this methodology to explain a phenomenon that is happening now regarding the issue of Hagia Sophia. As Muslims must make wise decisions by its history through historical approaches with heuristic stages, criticism, interpretation, and historiography.
Kepemimpinan dan Konsep Ketatanegaraan Umar Ibn Al-Khattab M Al Qautsar Pratama
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.983 KB) | DOI: 10.30829/j.v2i1.1496

Abstract

Umar ibn al-Khattab adalah sahabat rasul yang menjadi khalifah pasca wafatnya baginda Nabi Muhammad Saw. Umar ibn al-Khattab merupakan panglima perang yang terlibat langsung dalam peristiwa perang Badar, Uhud, Kaybar.  Umar dikenal sebagai salah satu sosok Khilafah yang hebat dalam perjalanan sejarah peradaban umat islam, 10 tahun memimpin beliau berhasil memperluas wilayah kekuasaan Islam sampai ke wilayah Romawi (Syiria, Palestina, dan Mesir), serta seluruh wilayah kerajaan Persia termasuk Irak dengan pengaturan yang sitematis atas daerah-daerah yang ditaklukkannya. Kepimimpinan  Umar ibn al-Khattab membawa umat islam kearah kemajuan dari aspek agama, pendidikan. budaya, sosial-budaya dan politik. Berbagai prestasi berhasil diraih pada saat puncak kepemimpinannya. Sosok pemimpin yang berani, pekerja keras, bijaksana dan memiliki sikap lemah lembut.. Keberhasilan Umar ibn al-Khattab memimpin umat Islam pada saat itu membuktikan bahwa beliau merupakan pribadi yang handal dalam bidang  ketatanegraan. Umar ibn al-Khattab merupakan khalifah kedua setelah Abu Bakar as-Siddiq yang sukses dalam menjalankan amanat umat dalam menjalankan roda pemerintahan.
Review Book The Voice of The Past: Oral History Karya Paul Thompson Budi Sujati; Setia Gumilar
JUSPI (Jurnal Sejarah Peradaban Islam) Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.631 KB) | DOI: 10.30829/j.v2i2.1623

Abstract

Ingatan manusia terkandung sebuah peristiwa sejarah yang tidak akan dilupakan begitu saja oleh orang yang mengalaminya. Namun tidak semua ingatan yang ada dalam pikiran manusia bisa menjadi sebuah sejarah, karenanya berkaitan dengan ingatan/suara-suara dari masa silam jika tidak ada yang menuliskannya maka suara-suara tersebut akan hilang ditelan masa. Berkaitan dengan tersebut, Thompson menuliskan tentang teori dan praktek sejarah lisan. Dalam tulisannya menjelaskan bagaimana sejarawan menggunakan sumber berkaitan dengan bukti lisan yang bisa diandalkan. Dalam tulisannya ia membagi kedalam 8 sub tema: sejarah dan komunitas, sejarawan dan sejarah lisan, pencapaian sejarah lisan, bukti, proyek lisan, wawancara, interpretasi dalam menciptakan sejarah. Dengan  pembagian kedalam beberapa tema tersebut memudahkan proses transformasi dan transmisi dalam memudahkan sejarawan menjelaskan historiografi. Sehingga cakupan penulisan sejarah pun diperluas dan diperkaya, dan pada saat yang bersamaan, pesan sosialnya berubah. Penelitian ini menggunakan metode review buku dimana bab per bab, sehingga akan memunculkan sebuah ringkasan dalam menggunakan buku tersebut.  
Penegakan Hukum Polres Sumedang dalam Menangani Perkara Kecelakaan Lalu Lintas di tinjau dari Pasal 235 UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Hardani; Budi Sujati
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 17 No. 2 (2019): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.694 KB) | DOI: 10.32694/qst.v17i2.796

Abstract

Data on traffic accidents collected by Sumedang Regional Police in 2014 as well as from daily observations provide an illustration that the level of traffic safety and the level of public compliance with traffic laws and regulations is very alarming, this is if strategic steps are not taken to improve the level of safety and improvement of community legal compliance will not only cause loss of life, but will also cause economic losses. So to realize legal certainty in traffic, Law Number 22 of 2009 concerning Traffic and Road Transportation Article 235 was formed.The two factors that influence the implementation of Law Number 22 Year 2009 include: (1). External factors such as substantive legal substance, lack of personnel and many personnel violating professional discipline and ethics, limited police facilities and infrastructure, changes and developments in Sumedang Regency. (2). Internal factors such as the Sumedang Regional Police made an effort to propose to revise the Traffic Law, increase the number of personnel, budget support had been allocated up to the police station level, build a toll road, conduct morning malls, and grow public legal awareness.The results of the study concluded that the enforcement of traffic law at the Sumedang Regional Police Station had not been fully implemented and was not effective enough. Because the responsibility of traffic accidents is not based on Article 235 of Law Number 22 Year 2009 concerning Traffic and Road Transportation and the high number of traffic accidents in Sumedang Regency.
PERJUANGAN KEMERDEKAAN KIAI ABBAS BUNTET CIREBON PADA 1928-1945 Ahmad Faiz Rofii; Budi Sujati
Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam Vol 8, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : IAIN Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/zjpi.v8i2.4302

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji Perjuangan Kiai Abbas Buntet; Suatu Bentuk Nasionalisme Anti-Kolonial. Catatan nasionalisme ulama santri pada masa pra kemerdekaan sudah ada sejak awal abad ke-20 yang ditandai dengan kehadiran organisasi sosial keagamaan maupun yang bersifat politis, antara lain Serekat Islam, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama. Masing-masing organisasi itu menawarkan gagasan pembaharuan pendidikan, juga sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan kolonialisme Belanda. Adapun metode yang digunakan adalah metode historis dengan menggunakan empat tahapan yakni, Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perjuangan Kiai Abbas dalam menentang kolonialisme dan imperealisme. Salah satunya dengan mendirikan Madrasah Abnaoul Wathan pada 1928 dan terlibat langsung dalam perang rakyat semesta Surabaya 1945. sehingga jika dilihat dari perspektif nasionalisme, perjuangan Kiai Abbas merupakan suatu bentuk nasionalisme.
REFLEKSI AJARAN AHIMSA MAHATMA GANDI Wahyu Iryana; Budi Sujati; Galun Eka Gemini
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 9 No 2 (2022): Jurnal Guna Widya Volume 9 Nomor 2 September 2022
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.114 KB) | DOI: 10.25078/gw.v9i2.974

Abstract

Mahatma Gandhi merespon fenomena masyarakat India dengan gerakan ahimsa. Dengan ajarannya tersebut, ia menawarkan solusi menyeluruh pada penyadaran manusia untuk lebih mengenal dirinya, karena menurutnya dalam ahimsa tercakup toleransi, kesabaran, rendah hati dan cinta akan kebenaran. Ciri seperti inilah yang konon akan membawa manusia untuk lebih mengenal diri dan bagaimana seharusnya bertindak. Penelitian ini hendak menggali bagaimana konsep ahimsa yang ditawarkan oleh Mahatma Gandhi dan bagaimana implikasi dari ahimsa bagi perjuangan mencapai kemerdekaan India.Penelitian ini bersifat kepustakaan murni (library research) yang didasarkan pada karya-karya Gandhi, sebagai sumber data primer dan buku-buku lain yang berkaitan sebagai sumber data sekunder. Sedangkan metode yang dipakai adalah pendekatan deskriptif analistik yang berupaya memaparkan pemikiran Gandhi secara jelas, akurat dan sistematis. Hasil dari penelitian ini diperoleh beberapa jawaban bahwa pertama, konsep ahimsa Mahatma Gandhi menuntut setiap orang untuk tidak menyakiti mahluk apa pun, baik dengan perkataan, pikiran, ucapan dan tindakan sekalipun untuk kepentingan manusia. Keywords: Politik, Ahimsa, Gandi
DINAMIKA NAHDLATUL ULAMA DI TASIKMALAYA TAHUN 1926-1961 Budi Sujati
Sinau : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora
Publisher : LPPM STKIP Pangeran Dharma Kusuma Segeran Juntinyuat Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37842/sinau.v6i2.19

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang dinamika Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya pada tahun 1926-1961. Penelitian ini dipandang menarik karena berdirinya Nahdlatul Ulama di Tasikmalaya merupakan tantangan dan respon dari Bupati RAA Wirataoeningrat mendirikan perkumpulan Guru Agama (PGA) yang anggotanya senantiasa mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah sehingga mereka yang tidak sependapat dan tidak sepaham dengan visi dan misi perkumpulan itu membentuk sepakat mendirikan Nahdlatul Ulama hingga Nahdlatul Ulama di Tasiklamaya mengalami dinamika sebelum dan sesudah pemilu 1955 yang pada akhirnya pada 1961 banyak warga Nahdliyin Tasikmalaya banyak terlibat dalam roda pemerintahan sehingga eksis sampai sekarang. Penelitian ini menggunakan penelitian sejarah dengan metode heuristik, kritik, interpetasi dan historiografi. Oleh karena itu, sumber data untuk penelitian ini adalah dokumen-dokumen sejarah yang menyangkut jiwa zamannya: arsip, majalah, buku, wawancara dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian, Nahdlatul Ulama berdiri di Tasikmalaya secara legal formal pada 1928 dan mengalami kemajuan pada rentang waktu 1955 dikarenakan peran kyai/ ajengan yang sangat besar.
KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN PADA SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM DI MTs KIFAYATUL AKHYAR KOTA BANDUNG Budi Sujati
Sinau : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora Vol. 5 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora
Publisher : LPPM STKIP Pangeran Dharma Kusuma Segeran Juntinyuat Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37842/sinau.v5i2.49

Abstract

Berdasarkan kebijakan dari kementrian agama tentang pendidikan Islam yang mengatur bahan ajar pembelajaran, maka Sejarah dan kebudayaan Islam merupakan pelajaran yang wajib diajarkan di tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Aliyah. Dalam pembelajaran tersebut sangat menarik untuk ditelaah mengenai aspek-aspek dan pendekatan dalam pembelajaran tersebut. Harapannya hasil kajian telaah bisa memberikan paragdigma baru mengenai pemetaan materi yang selama ini masih membingungkan baik untuk siswa sendiri maupun tenaga pendidik yang selama ini kesulitan memberikan pemahaman untuk psesrta didik khususnya di tingkat satuan pendidikan jenjang Madrasah Tsanawiyah. Oleh karenanya tulisan ini memberikan aspek kognitif dan informatif mengenai suatu cara bagaimana para stockholder bisa mengembangkan materi pelajaran secara deskriptif-naratif sejarah dan kebudayaan Islam agar bisa dipahami oleh para siswa di tingkat Tsanawiyah.