Fauzan , Ahmad
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Demonstrasi Pengolahan Keripik Terong dan Boncabai sebagai Alternatif Ide Wirausaha Masa Pandemi di Kampung. Ciheulang, Desa Margaluyu, Kecamatan Kiarapedes, Purwakarta Setiani , Nur Aulia; Purwansya, Yuvicko Gerhaen; Shafira , Anisya Elsa; Fauzan , Ahmad; Liyantono, Liyantono
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim, Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4246.015 KB) | DOI: 10.29244/pim.4.1.102-115

Abstract

Desa Margaluyu merupakan salah satu desa yang dominansi perekonomiannya berasal dari pertanian. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya lahan pertanian yang menghasilkan padi, cabai rawit, cabai merah, terong, dan kacang panjang. Hasil pertanian di Desa Margaluyu biasanya dijual langsung ke pasar atau untuk dikonsumsi pribadi. Permasalahan umumnya adalah pendapatan yang relatif rendah sehingga perlu upaya dalam meningkatkan pendapatan di desa, terutama saat harga komoditas sedang turun. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk sosialisasi pengolahan keripik terong dan boncabai sebagai alternatif ide wirausaha saat masa pandemi di Kampung Ciheulang, Desa Margaluyu, Kabupaten Purwakarta. Metode pelaksanaan dalam proses berbagi ilmu dan teknologi pengolahan hasil pertanian menjadi produk pangan olahan dilakukan dengan metode pendampingan, yaitu melakukan praktik pembuatan produk olahan keripik terong dan bon cabai secara langsung di lapangan. Kegiatan ini dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Demonstrasi pengolahan terong dan cabai menjadi produk olahan keripik terong dan bon cabai berlangsung dengan baik dan mendapatkan respon yang baik dari ibu-ibu warga RT 002 Kampung Ciheulang. Hal tersebut dapat dilihat saat proses demonstrasi berlangsung ibu-ibu warga RT 002 sangat antusias untuk memperhatikan, membantu dan ikut serta dalam proses pembuatan produk olahan tersebut. Selain itu, pengolahan keripik terong dan bon cabai yang dilakukan dapat menjadi ide wirausaha. Keuntungan yang dapat diperoleh dari satu kali produksi keripik terong sebesar Rp 46.521 dengan rasio R/C diperoleh 1,87 sedangkan keuntungan yang dapat diperoleh dari satu kali produksi keripik terong sebesar Rp 35.163 dengan rasio R/C nya 1,90.
Pengaruh Investasi Infrastruktur terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Tertinggal di Indonesia Timur Yosephine, Maria; Fauzan , Ahmad
Jurnal Ilmu Hukum, Ilmu Sosial dan Ekonomi Vol. 3 No. 1 (2025): Edisi Oktober
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh investasi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah tertinggal di Indonesia Timur. Wilayah tertinggal di kawasan ini, seperti di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur, masih menghadapi keterbatasan akses transportasi, energi, dan konektivitas yang berdampak pada rendahnya produktivitas ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis data panel kabupaten/kota periode 2015–2024. Variabel yang dianalisis meliputi belanja infrastruktur pemerintah, investasi swasta, indeks pembangunan manusia (IPM), dan produk domestik regional bruto (PDRB) sebagai indikator pertumbuhan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi infrastruktur berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah tertinggal. Infrastruktur transportasi dan energi memiliki kontribusi paling besar dalam mendorong peningkatan aktivitas ekonomi lokal, memperluas akses pasar, serta meningkatkan mobilitas tenaga kerja. Namun demikian, efektivitas investasi dipengaruhi oleh kualitas tata kelola, kapasitas sumber daya manusia, dan integrasi kebijakan pembangunan daerah. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa investasi infrastruktur merupakan instrumen strategis dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah tertinggal di Indonesia Timur, tetapi harus disertai dengan penguatan kelembagaan dan peningkatan kualitas SDM agar dampaknya berkelanjutan.