Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

EKSPLORASI ORGANOLOGI DAN INSTRUMENTASI DALAM SENI TRADISI TAMBUR MASYARAKAT SASAK Suryadmaja, Galih; Mukminah; Nurtikawati; Salniwati; Ningsih, Dewi Puspita
Keteg : Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 25 No. 1 (2025): Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi
Publisher : Surakarta: Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/keteg.v25i1.7130

Abstract

This research explores the traditional Tambur art of the Sasak community as a cultural artifact possessing historical, organological, and social significance. The Tambur is not merely regarded as an instrument; it also serves as a symbol of identity and a space for contesting narratives between claims of Balinese heritage and the local Sasak roots. The study indicates that the Tambur has undergone a process of localisation, rendering it an inseparable part of the cultural practices of the Wetu Telu Islamic community, particularly within the context of the Perang Topat ritual. From an organological perspective, the Tambur instrument and its ensemble demonstrate the technological skills of the community in transforming natural materials such as wood, metal, skin, and bamboo into musically meaningful and functional instruments. Its rhythmic and collaborative instrumental structure reflects values of mutual cooperation, spirituality, and a connection to the environment. In a social context, the Tambur serves as a binding medium for the community and a link between generations. It functions as a cultural communication tool that preserves the continuity of tradition amidst the challenges of changing times. Therefore, the preservation of the Tambur should be understood as an effort to maintain the identity and vitality of local culture, which is increasingly threatened by global homogenisation.
DESAIN MOTIF DAN WARNA ANYAMAN BERBASIS BAHAN LOKAL BAGI PELAJAR SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KECAMATAN WAWONI BARAT Ashmarita; Jalil, Abdul; La Ode Topo Jers; Umar; Nurtikawati
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 1 No. 2 (2023): JULI 2023
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya produk kerajinan atau anyaman di Konawe Kepulauan yang bahan dasarnya tersedia dan berpotensi untuk dikembangkan lebih agar memiliki nilai jual, paling tidak untuk variasi dan mendorong pengunjung diluar Konawe Kepulauan lebih tertarik, lebih dari itu bisa ditingkatkan pemasarannya lewat pihak pihak terkait untuk meningkatkan kesejahteraan para pengrajin. Bentuk anyaman yang sudah terpola selama ini adalah polos, seperti bentuk tikar, topi, caping dan sejenis tas atau yang lain, seiring waktu dan untuk menarik pasar, maka diperlukan pola dan motif yang tidak sekedar polos, tetapi perlu desain dan motif dan berpola agar produk anyaman tersebut lebih menarik dan bernilai lebih terutama bagi pengunjung atau pihak lain di dunia industri dan kerajinan tangan. Artinya para pengrajin dapat didorong agar motif yang tersedia dapat didesain dan dimotif dengan warna warna tertentu agar tampilan produk dari anyaman tersebut dapat bernilai indah dan menarik sehingga secara otomatis akan bertambah nilai jualnya. Adapun penerima sasaran pertama dalam kegiatan ini adalah siswa siswi SMAN 1 Wawonii Barat dengan harapan mereka bisa memberikan edukasi dan informasi serta pengetahuan pentingnya motif yang dimiliki para pengrajin dapat dikembangkan atau memberikan inovasi pada motif atau pola dasar produk anyaman tersebut. Penelitian ini secara kualitatif menilai potensi anyaman daun purun atau bahan lokal di Konawe Kepulauan untuk didorong menjadi produk unggulan, utamanya mengedukasi dan memberikan ketrampilan agar produk yang ada didesain dan dimotif. Dengan bekerjasama pada dunia industri dan akademik, produk anyaman bisa ditingkatkan pemasarannya pasca dimotif, utamanya produk produk topi atau tikar yang menjadi basis pola atau bentuk selama ini. Hasil yang ingin diharapkan dari kegiatan ini tersedianya produk anyaman dengan berbagai pola dan motif melalui dunia pendidikan dimulai tingkat SMA, selain di tingkat sekolah juga tersedia guru bidang prakarya, perlunya dukungan dari berbagai stakeholders untuk meningkatkan nilai jual produk anyaman ini, baik dengan pemerintah maupun swasta.
Makna Simbolik Tari Lense Pada Masyarakat Kulisusu Di Desa Rombo Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara Felis Andriani; Nurtikawati; Shinta Arjunita Saputri
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/wrbegd77

Abstract

Tari Lense merupakan tari tradisional asal kulisusu, Tari Lense sendiri terdiri dari kata Lense dimana dalam bahasa Kulisusu Lense memiliki arti menarik yang diartikan menarik perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  Bentuk pertunjukan Tari Lense dan Makna simbolik yang terkandung dalam Tari Lense pada masyarakat di Desa Rombu Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah Bentuk pertunjukan Tari Lense meliputi Gerakan Tari Lense terdiri dari 8 gerakan yaitu, Poato,Pesombha, Manu-Manu, Mesalili, esudho, Payasa, Petaghali dan Peropa. Penari tari Lense berjumlah tujuh orang dari kalangan anak-anak, dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Akan tetapi, jumlah dapat berkurang ataupun bertambah tergantung dimana dan kapan Tari Lense akan ditampilkan. Pola lantai yang digunakan ada tiga yaitu garis lurus vertikal, segitiga dan garis lurus sejajar horizontal. Iringan musik terdiri dari Tepe, Ndengu-Ndengu, Tawa-Tawa dan Ndoo serta diiringi syair lagu berbahasa Kulisusu. Kostum Tari terdiri dari Pari-Pari/Sungke, Dhali (anting), Jaojaonga (kalung), Bhiludu (baju beludru), Sulepe (ikat pinggang), Simbi (gelang), Dhoridi (sarung/rok). Properti dalam Tari Lense menggunkan properti selendang. Tempat pertunjukan Tari Lense Rumah Baruga Adat pada perayaan hari besar Islam, Panggung Raja Jin. Makna Simbolik Tari Lense meliputi Gerak Tari Lense menggambarkan wanita Kulisusu yang cantik, tangguh, dan anggun. Syair lagu menggambarkan seorang wanita yang bernama Waode Bilahi yang mempelajari Tari Lense. Kostum Tari yang melambangkan identitas masyarakat etnis Kulisusu. Properti selendang yang memiliki mitos tentang bidadari.
Tradisi Mepupuri di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan Agustina Eka Ningrum; Nurtikawati; La Ode Marhini
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 2 (2025): Volume 8 No 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sqt16y22

Abstract

Tradisi mepupuri merupakan pengobatan yang digunakan oleh masyarakat Desa Langkowala untuk mengobati penyakit cacar yang ada dalam tubuh dengan cara di tiup-tiup. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi mepupuri yang ada di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan, untuk menjelaskan bagaimanakah fungsi dari tradisi mepupuri yang ada di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan, untuk mengetahui pola pewarisan di Desa Langkowala Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan. Metode  penelitian  yang  digunakan  dalam  penelitian  ini adalah deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive,data di analisis dengan teknik pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses pelaksanaan tradisi mepupuri terdiri dari beberapa tahap  yaitu tahap persiapan, tahap ini adalah tahap untuk menyiapkan gelas yang berisi air putih, tahap proses pelaksanaan dan  tahap akhir proses pengobatan. Adapun fungsi tradisi mepupuri pada suku Wawonii  diDesa Langkowala  Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Kepulauan yaitu  untuk pengobatan, untuk mengurangi biaya pengeluaran dan untuk mempertahankan pola tradisi. Pola pewarisan dalam tradisi mepupuri pada suku Wawonii di Desa Langkowala  Kecamatan Wawonii BaratKabupaten Konawe Kepulauan yaitu proses pewarisan tradisi mepupuri melalui keluarga dan pola pewarisan melalui lingkungan keluarga.