Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

MITIGATION OF VEGETABLE PRODUCTION RISK WITH HYDROPONIC TECHNIQUES FOR BEGINNER FARMERS USING HOUSE OF RISK AND FUZZY LOGIC METHODS Neng Rika Lisdayanti Nurrohmah; Ivonne Ayesha; Widhi Netraning Pertiwi
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 1 (2025): JSER, June 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i1.959

Abstract

This study aims to identify, analyze, and map production risks in hydroponic vegetable cultivation and formulate appropriate risk mitigation strategies for novice farmers. The method used in this study is HOR (House of Risk) which is used to identify risk sources (risk agents) and prioritize mitigation actions based on severity and occurrence values. In addition, fuzzy logic is used to provide a deeper understanding of the level of relationship between each risk source and the handling strategy. Based on the results of the analysis at the research location (FL), 16 risk events and 27 risk causes were identified in the hydroponic vegetable production process. The risk with the highest ARP (Aggregate Risk Potential) value reached 648, indicating a high potential for loss if not handled properly. Through risk mapping using the Pareto method, it was found that the three main risk causes that need to be prioritized are: 1) inadequate greenhouse conditions (related to temperature, humidity, and air circulation), 2) pest and disease attacks, 3) worker negligence in handling seed containers. Based on the identification of priority risks, 11 risk mitigation strategies were formulated to reduce the risks from recurrence, as indicated by the highest effectiveness/difficulty (ETDk) scores. The results of this study are expected to serve as a practical reference for novice farmers in managing hydroponic production risks more effectively and sustainably.
MITIGATION OF VEGETABLE PRODUCTION RISK WITH HYDROPONIC TECHNIQUES FOR BEGINNER FARMERS USING HOUSE OF RISK AND FUZZY LOGIC METHODS Neng Rika Lisdayanti Nurrohmah; Ivonne Ayesha; Widhi Netraning Pertiwi
Journal of Social and Economics Research Vol 7 No 1 (2025): JSER, June 2025
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v7i1.959

Abstract

This study aims to identify, analyze, and map production risks in hydroponic vegetable cultivation and formulate appropriate risk mitigation strategies for novice farmers. The method used in this study is HOR (House of Risk) which is used to identify risk sources (risk agents) and prioritize mitigation actions based on severity and occurrence values. In addition, fuzzy logic is used to provide a deeper understanding of the level of relationship between each risk source and the handling strategy. Based on the results of the analysis at the research location (FL), 16 risk events and 27 risk causes were identified in the hydroponic vegetable production process. The risk with the highest ARP (Aggregate Risk Potential) value reached 648, indicating a high potential for loss if not handled properly. Through risk mapping using the Pareto method, it was found that the three main risk causes that need to be prioritized are: 1) inadequate greenhouse conditions (related to temperature, humidity, and air circulation), 2) pest and disease attacks, 3) worker negligence in handling seed containers. Based on the identification of priority risks, 11 risk mitigation strategies were formulated to reduce the risks from recurrence, as indicated by the highest effectiveness/difficulty (ETDk) scores. The results of this study are expected to serve as a practical reference for novice farmers in managing hydroponic production risks more effectively and sustainably.
ANALISIS KELAYAKAN BUDIDAYA UDANG VANAME BERDASARKAN KESESUAIAN PERAIRAN DI JAWA TENGAH widhi netraning pertiwi
WIRATANI Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/wiratani.v9i1.614

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung analisis kelayakan ekonomi budidaya udang vaname berdasarkan kesesuaian air. Kualitas air diukur dengan mengukur indikator suhu, pH, salinitas, dan DO/Oksigen Terlarut. Pengukuran kualitas air ini digunakan sebagai parameter keberhasilan budidaya udang vaname, karena kualitas air dapat memengaruhi pertumbuhan udang vaname. Penelitian ini dilakukan di Jawa Tengah, yaitu di Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Pemalang. Hasil Penelitian Berdasarkan hasil pengukuran dan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa Kabupaten Pemalang memiliki nilai keuntungan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten Purworejo, yaitu keuntungan Kabupaten Pemalang sebesar Rp 42.564.049, sedangkan keuntungan yang diperoleh di Kabupaten Purworejo sebesar Rp 38.345.793, meskipun budidaya udang vaname di kedua kabupaten ini layak dilakukan. Hal ini ditinjau dari kualitas air yang dihasilkan dari kedua kabupaten tersebut yang berbeda. Kabupaten Pemalang dianggap memiliki kualitas air yang ideal jika diukur dari suhu, salinitas, pH, dan DO untuk budidaya udang vaname, sehingga produksi udang vaname di Kabupaten Pemalang lebih tinggi daripada Kabupaten Purworejo, yang mengakibatkan keuntungan/manfaat yang lebih tinggi diperoleh dari budidaya udang vaname di Kabupaten Pemalang.
STRUKTUR PASAR DAN POSISI TAWAR PETANI KECIL DALAM PASAR JAGUNG TERKONSENTRASI: BUKTI EMPIRIS DARI WILAYAH PRODUKSI NON-SENTRA Wulan Ramadhani; Ivonne Ayesha; Widhi Netraning Pertiwi
MAHATANI: Jurnal Agribisnis (Agribusiness and Agricultural Economics Journal) Vol 9 No 1 (2026): Mahatani : Jurnal Agribisnis (Agribusiness and Agricultural Economics Journal)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/mja.v9i1.43554

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi antara struktur pasar dan posisi tawar petani pada daerah produksi jagung di wilayah non sentra, dengan studi kasus di Desa Warjabakti. Struktur pasar diukur menggunakan Concentration Ratio (CR4) dan Herfindahl-Hirschman Index (HHI), sedangkan posisi tawar petani dianalisis menggunakan Index Bargaining Power (IBP). Pendekatan yang digunakan adalah analisis kuantitatif deskriptif dalam kerangka Structure–Conduct Performance (SCP) dan teori bargaining. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar jagung di Desa Warjabakti tergolong sangat terkonsentrasi dengan nilai CR4 sebesar 0,97 dan HHI sebesar 0,32, yang mencerminkan karakter oligopsonistik dan dominasi pembeli dalam penentuan harga. Posisi tawar petani secara agregat berada pada kategori sedang dengan nilai IBP sebesar 0,665. Integrasi kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa pengaruh konsentrasi pasar terhadap posisi tawar bersifat parsial dan multidimensional. Tekanan struktur pasar terutama terjadi pada dimensi negosiasi harga dan pilihan saluran pemasaran, sementara akses informasi dan kontrol keputusan penjualan berperan sebagai faktor penyeimbang. Temuan ini menegaskan bahwa pada wilayah produksi jagung non sentra, distribusi kekuatan tawar tidak semata ditentukan oleh tingkat konsentrasi pasar, tetapi juga oleh kapasitas informasi dan relasi transaksi lokal. Penguatan kelembagaan pemasaran dan diversifikasi saluran distribusi menjadi strategi penting untuk meningkatkan posisi tawar petani dalam pasar yang terkonsentrasi.
ANALISIS RANTAI NILAI DAN KEBERLANJUTAN RANTAI PASOK EKONOMI SIRKULAR PENGOLAHAN LIMBAH KULIT KOPI MENJADI TEH CASCARA Wanda Novia Briliani; Ivonne Ayesha; Widhi Netraning Pertiwi
MAHATANI: Jurnal Agribisnis (Agribusiness and Agricultural Economics Journal) Vol 9 No 1 (2026): Mahatani : Jurnal Agribisnis (Agribusiness and Agricultural Economics Journal)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/mja.v9i1.43562

Abstract

Proses pengolahan buah kopi menghasilkan limbah kulit kopi dalam proporsi yang cukup besar, mencapai sekitar 42% dari komposisi buah kopi, namun sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan adanya potensi nilai ekonomi yang belum terintegrasi dalam sistem produksi serta peluang penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam agroindustri kopi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur rantai nilai, pembentukan nilai tambah, serta tingkat keberlanjutan rantai pasok pada pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi teh cascara. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus pada kemitraan antara Koperasi Y dan unit pengolah PT X di Kabupaten Bandung. Analisis yang digunakan meliputi analisis rantai nilai, analisis nilai tambah metode Hayami, serta analisis keberlanjutan menggunakan Multidimensional Scaling (MDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan cascara memberikan nilai tambah pada setiap pelaku rantai nilai, dengan nilai tambah sebesar Rp5.876/kg pada tingkat Koperasi Y dan Rp12.116/pcs pada unit pengolah. Analisis keberlanjutan menunjukkan bahwa sistem rantai pasok cascara berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan nilai indeks 72,93, dengan kinerja tertinggi pada dimensi lingkungan (85,97), diikuti dimensi ekonomi (70,21) dan sosial (62,6). Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan cascara berpotensi mendukung pengembangan agroindustri kopi berkelanjutan melalui pemanfaatan produk samping dalam kerangka ekonomi sirkular.