Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL DAUN BAWANG BATAK (ALLIUM CHINENSE G.DON) TERHADAP CANDIDA ALBICANS DAN MALASSEZIA FURFUR Pramudita, Rufina; Rahmadi, Azri; Syafitri, Ervina; Nasution, Riska Hazmi; Zahra, Cut Amelia Sofia; Franciscus, Adi
JURNAL KIMIA SAINTEK DAN PENDIDIKAN Vol. 9 No. 1 (2025): JURNAL KIMIA SAINTEK DAN PENDIDIKAN
Publisher : Program Studi Kimia - Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/kimia.v9i1.6140

Abstract

Latar belakang: Daun bawang batak (Allium chinense G. Don) memiliki manfaat untuk kesehatan mata, meningkatkan kesuburan, mencegah sariawan, menetralisir racun, menyeimbangkan kadar gula darah, membantu mengatasi sembelit, mencegah kanker, serta menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus, dan parasit. Tujuan: untuk mengeksplorasi aktivitas antijamur dari ekstrak etanol daun bawang batak dan menentukan konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dan Malassezia furfur. Metode: penelitian eksperimental dengan mengamati variabel bebas berupa ekstrak daun bawang batak dalam berbagai variasi konsentrasi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans dan Malassezia furfur serta zona hambatnya. Hasil: Diameter zona hambat yang dihasilkan terhadap jamur Candida albicans pada konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan kontrol positif masing-masing adalah 7,73 mm; 8,91 mm; 12,11 mm; dan 16,76 mm. Untuk Malassezia furfur, dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan kontrol positif menunjukkan diameter masing-masing 8,43 mm; 10,15 mm; 13,88 mm; dan 15,38 mm. Sementara itu, DMSO yang digunakan sebagai kontrol negatif tidak menunjukkan adanya zona hambat. Kesimpulkan: bahwa konsentrasi terbaik untuk menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans dan Malassezia furfur terbentuk pada perlakuan dengan ekstrak etanol daun bawang batak (Allium chinense G. Don) pada konsentrasi 30%, masing-masing sebesar 12,11 mm dan 13,88 mm dengan kategori kuat.
UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES FRAKSI ETIL ASETAT DAUN PEPAYA (Carica papaya L.)TERHADAP TIKUS JANTAN WISTAR (Rattus norvegicus) Neswita, Elfia; Naldi, Jefri; Kinanti, Dara; Nasution, Halimah Raina; Pramudita, Rufina; Nurasni
Jurnal Buana Farma Vol 5 No 4 (2025): Jurnal Buana Farma
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jbf.v5i4.1375

Abstract

Diabetes mellitus is a serious chronic disease that occurs when the pancreas does not produce sufficient insulin or when the body is unable to effectively utilize the insulin produced. Papaya leaves (Carica papaya L.) have been reported to possess potential antidiabetic properties. The novelty of this study lies in evaluating the antidiabetic activity of the ethyl acetate fraction of papaya leaves in male Wistar rats. This study aimed to determine the antidiabetic activity of the ethyl acetate fraction of papaya leaves in alloxan-induced male Wistar rats. Papaya leaf simplicia powder was extracted using the maceration method with 70% ethanol as the solvent. The concentrated extract was subsequently fractionated using ethanol–water, n-hexane, and ethyl acetate. Antidiabetic activity was evaluated using alloxan induction at a dose of 150 mg/kg body weight. Blood glucose levels were measured before alloxan induction to determine baseline values, two days after induction to confirm hyperglycemia, and every seven days for 14 days of treatment to assess changes in glucose levels. Phytochemical screening revealed that the ethyl acetate fraction contained alkaloids, flavonoids, and saponins. The results showed that the ethyl acetate fraction at a dose of 300 mg/kg body weight exhibited the highest antidiabetic activity, with a 64% reduction in blood glucose levels, slightly higher than the positive control, which showed a 63% reduction. In conclusion, the ethyl acetate fraction of papaya leaves at a dose of 300 mg/kg body weight demonstrates promising antidiabetic potential, likely attributable to its bioactive compounds.