Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Smart Farming Innovation: Empowering Millennial Farmers to Improve Agricultural Productivity in the Society 5.0 Era: Inovasi Smart Farming: Pemberdayaan Petani Milenial untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian di Era Society 5.0" Suryanef; Kiki Amelia; Rita Angraini; , Al Rafni; Cici Nur Azizah
Jurnal Dedikasia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/dedikasia.v5i2.10027

Abstract

Pemberdayaan petani milenial di Indonesia menjadi kunci untuk mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan, khususnya di era Society 5.0 yang menekankan pada integrasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan platform smart farming yang berbasis teknologi modern kepada petani milenial di Salareh Aia Utara, Kabupaten Agam. Melalui penerapan teknologi pertanian seperti sensor digital untuk pemantauan tanaman, manajemen irigasi berbasis data, dan sistem pemantauan hasil panen, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian, efisiensi penggunaan sumber daya, serta memperbaiki kualitas produk pertanian yang dihasilkan. Program ini juga bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada metode pertanian tradisional yang kurang efisien dan memperluas akses pasar melalui platform digital. Pelatihan terkait teknologi pertanian modern dan manajerial usaha akan diberikan untuk meningkatkan kapasitas petani dalam pengelolaan usaha dan pemasaran produk. Dengan metode Participatory Action Research (PAR), kegiatan ini mengutamakan partisipasi aktif petani dalam setiap tahapnya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi hasil. Berdasarkan umpan balik peserta, program ini terbukti berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para petani milenial, dengan tingkat kepuasan peserta mencapai 98%. Selain itu, penggunaan teknologi ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan sosial dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa. Melalui inovasi smart farming, diharapkan Salareh Aia Utara dapat menjadi model keberhasilan pemberdayaan petani milenial di daerah lain, sekaligus berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2 dan 8, yang berfokus pada ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
GEMAS (Independent and Prosperous Golden Generation) Program Based on Digital Entrepreneurship Towards an Independent and Competent Alrafni; Suryanef; cici Nur Azizah
Jurnal Dedikasia : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/dedikasia.v5i2.10029

Abstract

Program GEMAS (Generasi Emas Mandiri dan Sejahtera) dilaksanakan di Nagari Salareh Aia Utara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, untuk memberdayakan remaja melalui pelatihan kewirausahaan digital, soft skills, dan literasi digital. Tujuan dari program ini adalah meningkatkan kompetensi remaja dalam memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, seperti pertanian dan kerajinan, guna mendukung kemandirian ekonomi mereka. Dalam pelaksanaan program, dilakukan pendekatan partisipatif yang melibatkan lima tahap kegiatan: sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan keberlanjutan. Sebanyak 30 remaja masjid mengikuti pelatihan yang fokus pada keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, manajemen waktu, serta penggunaan teknologi informasi untuk pencatatan keuangan dan pemasaran produk. Hasil program menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam menggunakan teknologi digital untuk pengembangan usaha lokal. Program ini berhasil meningkatkan kesadaran akan pentingnya literasi digital dan kemampuan soft skills, yang mendukung peserta untuk mandiri secara finansial dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah. Program ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta diharapkan dapat dilanjutkan dengan penguatan fasilitas dan pelatihan berkelanjutan
Strengthening Welfare-Oriented Local Regulation Through Deliberative Policy: Evidence From Nagari Singguliang Lubuk Alung, Indonesia Alhadi, Zikri; Yusran, Rahmadani; Eriyanti, Fitri; Malau, Hasbullah; Satria, Hendri; Suryanef; Maani, Karjuni
Jurnal Administrasi Pemerintahan Desa Vol. 7 No. 2 (2026): August
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/villages.v7i2.469

Abstract

This study examines how deliberative policy strengthens welfare-oriented local regulation in Nagari Singguliang Lubuk Alung, West Sumatra, Indonesia. The novelty of the study lies in integrating deliberative policy analysis, village-level policy capacity, and the distinctive institutional setting of Nagari governance, where formal village authority intersects with customary legitimacy and community-based public reasoning. Using a qualitative case-study design, the study draws on semi-structured interviews, focus group discussions, and document analysis, which were interpreted through an NVivo-informed thematic procedure. The findings show four concrete results. First, the main weakness of Nagari regulation is not the absence of formal authority, but the limited capacity to translate authority into legally coherent policy instruments. Second, stakeholder inclusion remains uneven) (customary leaders, religious figures, women representatives, youth, and community groups are recognized as important, but they are not yet systematically connected to policy drafting. Third, monitoring and feedback mechanisms remain weak, limiting policy learning after regulations are enacted. Fourth, deliberative policy is most needed in three welfare domains: peace and public order, community economic empowerment, and environmental cleanliness and sustainability. The study concludes that welfare-oriented local regulation requires simultaneous strengthening of legal drafting competence, participatory design, institutional coordination, and continuous policy learning.