Herikzah, Ramli
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Buerger Allen Exercise terhadap Pencegahan Komplikasi Neuropati Perifer Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Herikzah, Ramli; Sakinah, Sri; Asnuddin, Asnuddin
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.21511

Abstract

ABSTRACT Diabetes Mellitus is one of the most common chronic diseases in the world, occurring when insulin production in the pancreas is insufficient or when insulin cannot be used effectively by the body, so blood sugar levels exceed the normal range. High blood glucose levels can create nursing problems related to peripheral disorders and result in complications of peripheral neuropathy. Physical exercise is a basic principle that can be done to prevent peripheral arterial disease in diabetes mellitus patients. One of the exercises is the Bueger Allen Exercise. Objective: The aim of writing this scientific work is to conduct an analysis of nursing care for type 2 DM patients using the Burger Allen Exercise intervention to prevent peripheral neuropathy complications in the work area of the Sabbangparu District Health Center. Wajo. Method: Using a descriptive method in the form of a case study using a nursing process approach starting from assessment, diagnosis, planning, nursing actions and evaluation of action results. Conclusion: The results of the analysis of nursing care for type II DM patients with peripheral perfusion nursing problems were ineffective through the application of the Buerger Allen exercise combination intervention and showed that the nursing problems for Mr. B were partially resolved. Measurement of Mr. B's GDS levels showed that the results had decreased, but the results were still in the range of hyperglycemia, the ABI patients also showed changes. When examined, the patient stated that the patient no longer feels tightness and stiffness. Pale skin color decreases, the acral feels warm. So this Buerger Allen Exercise intervention can be used as independent treatment to prevent complications of peripheral neuropathy in patients with type 2 diabetes mellitus. Keywords: Diabetes Mellitus Type 2, Burger Allen Exercise, Peripheral Neuropathy  ABSTRAK Diabetes Mellitus merupakan merupakan salah satu penyakit kronis paling umum di dunia, terjadi ketika produksi insulin pada pankreas tidak mencukupi atau pada saat insulin tidak dapat digunakan secara efektif oleh tubuh, sehingga kadar gula darah melebihi rentang normal. Tingginya kadar glukosa darah dapat membuat masalah keperawatan terkait dengan ganggun perifer dan mengakibatkan komplikasi neuropati perifer. latihan fisik merupakan prinsip dasar yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit arteri perifer pada pasien diabetes mellitus. Salah satu latihannya adalah Bueger Allen Exercise.Tujuan dari peunulisan karya ilmiah ini adalah melakukan analisis Asuhan Keperawatan Pada Pasien DM Tipe 2 Dengan Intervensi Burger Allen Exercise Terhadap Pencegahan Komplikasi Neuropati Perifer di Wilayah Kerja Puskesmas Sabbangparu Kab. Wajo. Metode: Menggunakan metode deskriptif yang berbentuk studi kasus dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, Tindakan keperawatan dan evaluasi hasil Tindakan. Kesimpulan : Hasil Penerapan buerger allen exercisepada pasien DM tipe II dengan masalah keperawatan perfusi perifer tidak efektif melalui penerapan intervensi kombinasi buerger allen exercise dan menunjukkan hasil bahwa masalah keperawatan pada Tn.B teratasi sebagian. Pengukuran kadar GDS Tn.B menunjukkan hasil mengalami penurunan, namun hasil tersebut masih direntang terjadi hiperglikema, nilai ABI pasien juga menunjukkan adanya perubahan. Saat dikaji pasien mengatakan kesemuatan, dan kaku sudah tidak lagi dirasakan oleh pasien. Warnah kulit pucat menurun, akral teraba hangat. Sehingga intervensi Buerger Allen Exercise ini dapat dijadikan perawatan mandiri sebagai pencegahan komplikasi neuropati perifer pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2, Burger Allen Exercicese, Neuropati Perifer
Psiko-edukasi kesehatan reproduksi pada remaja melalui pemberdayaan influencer media sosial Rustam, Husnul Khotimah; Syamson, Meriem Meisyaroh; Nurdin, Nasrayanti; Herikzah, Ramli; Murtini, Murtini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2130

Abstract

Background: This reproductive health psychoeducation program, designed to enhance positive emotions and self-confidence among adolescents using social media influencers, is designed as a promotive-preventive effort to address the developmental challenges of adolescents who are vulnerable to misinformation about reproductive health. The program's background is based on the low reproductive health literacy among adolescents and the high influence of social media on the behavior and mindset of the younger generation. Purpose: To increase adolescents' understanding of reproductive health, build awareness of the importance of self-care, and foster positive emotions and self-confidence through the empowerment of influencers and digital media. Method: This activity was carried out in June 2025 at SMAN 2 Sidenreng Rappang with a population of 120 people while the sample size was 46 people. The material delivery technique was through lectures interspersed with ice breaking. The method of implementing this reproductive health psycho-education program used a social media-based educational approach with collaboration with influencers close to the youth segment. The first stage was conducting a needs analysis, followed by selecting influencers, then producing psycho-educational content, followed by implementation and digital interaction, then conducting program evaluation and analyzing digital engagement (number of views, likes, comments, and participation). This method is designed to be participatory, interactive, and relevant to the digital world of youth, so that psycho-educational messages can be optimally received. Results: The majority of participants demonstrated a better understanding of basic reproductive health concepts, the risks of risky sexual behavior, and the importance of maintaining reproductive health. Positive emotions increased, including feelings of calmer, more motivated, and more optimistic about the physical and social changes they experienced. Adolescents demonstrated greater courage in expressing their opinions, rejecting calls to engage in risky behavior, and making healthy decisions. Participant engagement on social media increased, as evidenced by the high number of views, likes, comments, and participation in online discussions. Conclusion: A social media-based reproductive health psychoeducation program involving influencers has proven to be an innovative and effective approach to improving health literacy, building positive emotions, and fostering self-confidence in adolescents. This activity increased adolescents' understanding, positive attitudes, and courage in making healthy decisions. It also contributes to the development of technology-based educational strategies that are relevant in the digital era and can be replicated across regions. Suggestion: For the program's sustainability, it is recommended that psycho-educational content be continuously developed in more varied and creative formats to attract adolescents in the long term. It is hoped that this program will not be merely a temporary intervention, but can become a model for sustainable reproductive health education with broad impact, supporting the development of a healthy, confident, and psychologically well-being generation. Keywords: Adolescents; Positive emotions; Reproductive health psycho-education; Social media influencers; Self-confidence Pendahuluan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi untuk meningkatkan emosi positif dan kepercayaan diri remaja menggunakan peran influencer media sosial dirancang sebagai upaya promotif-preventif dalam menghadapi tantangan perkembangan remaja yang rentan terhadap informasi keliru mengenai kesehatan reproduksi. Latar belakang program ini didasari oleh rendahnya literasi kesehatan reproduksi pada remaja serta tingginya pengaruh media sosial terhadap perilaku dan pola pikir generasi muda. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi, membangun kesadaran akan pentingnya menjaga diri, menumbuhkan emosi positif dan rasa percaya diri melalui pemberdayaan influencer dan media digital. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada Juni 2025 yang bertempat di SMAN 2 Sidenreng Rappang dengan populasi sebesar 120 orang sementara jumlah sampel sebanyak 46 orang. Teknik penyampaian materi adalah dengan ceramah dan diselingi dengan ice breaking. Metode pelaksanaan program psiko-edukasi kesehatan reproduksi ini menggunakan pendekatan edukasi berbasis media sosial dengan kolaborasi influencer yang dekat dengan segmen remaja. Tahap pertama melakukan analisis kebutuhan selanjutnya melakukan pemilihan influencer kemudian produksi konten psiko-edukasi yang dilanjutkan dengan implementasi dan interaksi digital, kemudian melakukan evaluasi program serta analisis keterlibatan digital (jumlah views, likes, komentar, dan partisipasi). Metode ini dirancang agar bersifat partisipatif, interaktif, dan relevan dengan dunia digital remaja, sehingga pesan psiko-edukasi dapat diterima secara optimal. Hasil: Mayoritas peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dasar kesehatan reproduksi, risiko perilaku seksual berisiko, serta pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi. Adanya peningkatan emosi positif berupa perasaan lebih tenang, termotivasi, serta lebih optimis dalam memandang perubahan fisik dan sosial yang mereka alami. Remaja menunjukkan keberanian yang lebih besar dalam menyampaikan pendapat, menolak ajakan berperilaku berisiko, serta mengambil keputusan sehat. Keterlibatan (engagement) peserta dalam media sosial meningkat, ditunjukkan oleh tingginya jumlah views, likes, komentar, serta partisipasi dalam diskusi online. Simpulan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi berbasis media sosial dengan melibatkan peran influencer terbukti menjadi pendekatan inovatif dan efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan, membangun emosi positif, serta menumbuhkan kepercayaan diri remaja. Kegiatan ini memberikan peningkatan pemahaman, sikap positif, serta keberanian remaja dalam mengambil keputusan sehat dan juga memberikan kontribusi pada pengembangan strategi edukasi berbasis teknologi yang relevan di era digital serta dapat direplikasi di berbagai wilayah. Saran: Untuk keberlanjutan program, disarankan agar konten psiko-edukasi terus dikembangkan dengan format yang lebih variatif dan kreatif, agar menarik minat remaja dalam jangka panjang. Diharapkan program ini tidak hanya menjadi intervensi sesaat, tetapi dapat menjadi model edukasi kesehatan reproduksi yang berkelanjutan, berdampak luas, serta mendukung terbentuknya generasi muda yang sehat, percaya diri, dan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik.