Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Psiko-edukasi kesehatan reproduksi pada remaja melalui pemberdayaan influencer media sosial Rustam, Husnul Khotimah; Syamson, Meriem Meisyaroh; Nurdin, Nasrayanti; Herikzah, Ramli; Murtini, Murtini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2130

Abstract

Background: This reproductive health psychoeducation program, designed to enhance positive emotions and self-confidence among adolescents using social media influencers, is designed as a promotive-preventive effort to address the developmental challenges of adolescents who are vulnerable to misinformation about reproductive health. The program's background is based on the low reproductive health literacy among adolescents and the high influence of social media on the behavior and mindset of the younger generation. Purpose: To increase adolescents' understanding of reproductive health, build awareness of the importance of self-care, and foster positive emotions and self-confidence through the empowerment of influencers and digital media. Method: This activity was carried out in June 2025 at SMAN 2 Sidenreng Rappang with a population of 120 people while the sample size was 46 people. The material delivery technique was through lectures interspersed with ice breaking. The method of implementing this reproductive health psycho-education program used a social media-based educational approach with collaboration with influencers close to the youth segment. The first stage was conducting a needs analysis, followed by selecting influencers, then producing psycho-educational content, followed by implementation and digital interaction, then conducting program evaluation and analyzing digital engagement (number of views, likes, comments, and participation). This method is designed to be participatory, interactive, and relevant to the digital world of youth, so that psycho-educational messages can be optimally received. Results: The majority of participants demonstrated a better understanding of basic reproductive health concepts, the risks of risky sexual behavior, and the importance of maintaining reproductive health. Positive emotions increased, including feelings of calmer, more motivated, and more optimistic about the physical and social changes they experienced. Adolescents demonstrated greater courage in expressing their opinions, rejecting calls to engage in risky behavior, and making healthy decisions. Participant engagement on social media increased, as evidenced by the high number of views, likes, comments, and participation in online discussions. Conclusion: A social media-based reproductive health psychoeducation program involving influencers has proven to be an innovative and effective approach to improving health literacy, building positive emotions, and fostering self-confidence in adolescents. This activity increased adolescents' understanding, positive attitudes, and courage in making healthy decisions. It also contributes to the development of technology-based educational strategies that are relevant in the digital era and can be replicated across regions. Suggestion: For the program's sustainability, it is recommended that psycho-educational content be continuously developed in more varied and creative formats to attract adolescents in the long term. It is hoped that this program will not be merely a temporary intervention, but can become a model for sustainable reproductive health education with broad impact, supporting the development of a healthy, confident, and psychologically well-being generation. Keywords: Adolescents; Positive emotions; Reproductive health psycho-education; Social media influencers; Self-confidence Pendahuluan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi untuk meningkatkan emosi positif dan kepercayaan diri remaja menggunakan peran influencer media sosial dirancang sebagai upaya promotif-preventif dalam menghadapi tantangan perkembangan remaja yang rentan terhadap informasi keliru mengenai kesehatan reproduksi. Latar belakang program ini didasari oleh rendahnya literasi kesehatan reproduksi pada remaja serta tingginya pengaruh media sosial terhadap perilaku dan pola pikir generasi muda. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi, membangun kesadaran akan pentingnya menjaga diri, menumbuhkan emosi positif dan rasa percaya diri melalui pemberdayaan influencer dan media digital. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada Juni 2025 yang bertempat di SMAN 2 Sidenreng Rappang dengan populasi sebesar 120 orang sementara jumlah sampel sebanyak 46 orang. Teknik penyampaian materi adalah dengan ceramah dan diselingi dengan ice breaking. Metode pelaksanaan program psiko-edukasi kesehatan reproduksi ini menggunakan pendekatan edukasi berbasis media sosial dengan kolaborasi influencer yang dekat dengan segmen remaja. Tahap pertama melakukan analisis kebutuhan selanjutnya melakukan pemilihan influencer kemudian produksi konten psiko-edukasi yang dilanjutkan dengan implementasi dan interaksi digital, kemudian melakukan evaluasi program serta analisis keterlibatan digital (jumlah views, likes, komentar, dan partisipasi). Metode ini dirancang agar bersifat partisipatif, interaktif, dan relevan dengan dunia digital remaja, sehingga pesan psiko-edukasi dapat diterima secara optimal. Hasil: Mayoritas peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dasar kesehatan reproduksi, risiko perilaku seksual berisiko, serta pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi. Adanya peningkatan emosi positif berupa perasaan lebih tenang, termotivasi, serta lebih optimis dalam memandang perubahan fisik dan sosial yang mereka alami. Remaja menunjukkan keberanian yang lebih besar dalam menyampaikan pendapat, menolak ajakan berperilaku berisiko, serta mengambil keputusan sehat. Keterlibatan (engagement) peserta dalam media sosial meningkat, ditunjukkan oleh tingginya jumlah views, likes, komentar, serta partisipasi dalam diskusi online. Simpulan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi berbasis media sosial dengan melibatkan peran influencer terbukti menjadi pendekatan inovatif dan efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan, membangun emosi positif, serta menumbuhkan kepercayaan diri remaja. Kegiatan ini memberikan peningkatan pemahaman, sikap positif, serta keberanian remaja dalam mengambil keputusan sehat dan juga memberikan kontribusi pada pengembangan strategi edukasi berbasis teknologi yang relevan di era digital serta dapat direplikasi di berbagai wilayah. Saran: Untuk keberlanjutan program, disarankan agar konten psiko-edukasi terus dikembangkan dengan format yang lebih variatif dan kreatif, agar menarik minat remaja dalam jangka panjang. Diharapkan program ini tidak hanya menjadi intervensi sesaat, tetapi dapat menjadi model edukasi kesehatan reproduksi yang berkelanjutan, berdampak luas, serta mendukung terbentuknya generasi muda yang sehat, percaya diri, dan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Pemberdayaan pasien hipertensi melalui latihan kombinasi progressive muscle relaxation dengan aromaterapi lavender sebagai upaya pencegahan kegawatdaruratan kardiovaskular Syamsu, Muh Nur; Anugrah, Anas Kiki; Herikzah, Ramli
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38688

Abstract

AbstrakHipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memiliki prevalensi tinggi dan berpotensi menimbulkan kegawatdaruratan kardiovaskular apabila tidak dikelola dengan baik. Selain terapi farmakologis, diperlukan upaya promotif dan preventif melalui intervensi non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui teknik relaksasi dan penggunaan aromaterapi sebagai bagian dari manajemen stres pada pasien hipertensi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan pasien hipertensi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan latihan kombinasi Progressive Muscle Relaxation (PMR) dengan aromaterapi lavender sebagai upaya pencegahan kegawatdaruratan kardiovaskular. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi penyuluhan kesehatan mengenai hipertensi dan risiko kegawatdaruratan kardiovaskular, demonstrasi serta pelatihan latihan Progressive Muscle Relaxation yang dikombinasikan dengan penggunaan aromaterapi lavender, serta pendampingan praktik kepada peserta. Kegiatan dilaksanakan melalui ceramah interaktif, praktik langsung, dan diskusi untuk meningkatkan pemahaman serta keterampilan peserta dalam menerapkan teknik relaksasi secara mandiri. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai hipertensi dan pencegahan kegawatdaruratan kardiovaskular, meningkatnya keterampilan peserta dalam mempraktikkan teknik Progressive Muscle Relaxation yang dikombinasikan dengan aromaterapi lavender, serta respon positif dari peserta terhadap penerapan latihan relaksasi sebagai terapi pendukung dalam mengelola stres dan tekanan darah. Dapat disimpulkan bahwa pemberdayaan pasien hipertensi melalui latihan kombinasi Progressive Muscle Relaxation dengan aromaterapi lavender merupakan pendekatan yang efektif, sederhana, dan mudah diterapkan sebagai upaya pencegahan kegawatdaruratan kardiovaskular. Program ini direkomendasikan untuk dikembangkan secara berkelanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan dan komunitas masyarakat. Kata kunci: aromaterapi lavender; hipertensi; pemberdayaan masyarakat; progressive muscle relaxation; pencegahan kardiovaskuler AbstractHypertension is one of the most common public health problems and has the potential to cause cardiovascular emergencies if it is not properly managed. In addition to pharmacological therapy, promotive and preventive approaches through non-pharmacological interventions that can be applied independently by patients are also needed. One approach that can be implemented is relaxation techniques combined with aromatherapy as part of stress management for patients with hypertension. This community service program aims to empower patients with hypertension by improving their knowledge and skills in performing a combination of Progressive Muscle Relaxation (PMR) exercises and lavender aromatherapy as an effort to prevent cardiovascular emergencies. The implementation methods included health education regarding hypertension and the risk of cardiovascular emergencies, demonstration and training of Progressive Muscle Relaxation combined with the use of lavender aromatherapy, and practical assistance for participants. The activities were carried out through interactive lectures, direct practice, and discussions to enhance participants' understanding and ability to apply relaxation techniques independently. The results of the program indicated an improvement in participants’ knowledge regarding hypertension and the prevention of cardiovascular emergencies, increased skills in practicing Progressive Muscle Relaxation combined with lavender aromatherapy, and positive responses from participants toward the use of relaxation exercises as a supportive therapy for stress management and blood pressure control. In conclusion, empowering patients with hypertension through a combination of Progressive Muscle Relaxation exercises and lavender aromatherapy is an effective, simple, and applicable approach to support the prevention of cardiovascular emergencies. This program is recommended to be implemented sustainably in healthcare facilities and community settings. Keywords: cardiovascular emergency prevention; community empowerment; hypertension; lavender aromatherapy; progressive muscle relaxation