Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Dinamika Kesenjangan Sosial di Perkotaan: Studi Kasus pada Komunitas Miskin di Makassar Tahir G, Muhammad; Tinri, M. Darwis Nur; Anas, Firdaus
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 14 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v14i2.86657

Abstract

Kesenjangan sosial di kota besar, seperti Makassar, merupakan fenomena yang kompleks dan berlapis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor penyebab kesenjangan sosial serta dampaknya terhadap kualitas hidup kelompok miskin di Makassar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus terpadu, penelitian memanfaatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, focus group discussion, dan pemetaan partisipatif untuk mengumpulkan data komprehensif. Temuan utama penelitian menunjukkan tiga faktor penyebab kesenjangan sosial di Makassar: (1) ketidakmerataan akses pendidikan, dengan 82% keluarga di kawasan kumuh melaporkan kesulitan membiayai pendidikan dan tingkat putus sekolah mencapai 23% dibandingkan hanya 0,5% di kawasan elite; (2) terbatasnya kesempatan kerja, dengan 64% penduduk kawasan kumuh terperangkap dalam sektor informal berpendapatan rendah, sementara 78% lapangan kerja baru membutuhkan keterampilan yang tidak mereka miliki; dan (3) penyimpangan kebijakan sosial, dengan 47% program pengentasan kemiskinan tidak mencapai target dan 68% penduduk kawasan kumuh melaporkan tidak pernah dilibatkan dalam perencanaan pembangunan. Disparitas akses terhadap layanan kesehatan (87% di kawasan kumuh vs 8% di kawasan elite mengalami kesulitan akses) dan kesenjangan pendapatan bulanan (Rp1.200.000 di kawasan kumuh vs Rp18.500.000 di kawasan elite) semakin memperburuk kualitas hidup kelompok miskin. Penelitian ini merekomendasikan reformasi kebijakan yang lebih inklusif melalui integrasi spasial-sosial kawasan kumuh, pengembangan pendidikan berorientasi keterampilan lokal, implementasi kebijakan sosial partisipatif, dan strategi pengembangan ekonomi inklusif untuk mengurangi kesenjangan sosial di Makassar.
Ketimpangan Sosial dan Akses Terhadap Teknologi: Dampaknya Terhadap Mobilitas Sosial Masyarakat Di Kota Makassar Tahir G, Muhammad; Tinri, M. Darwis Nur; Anas, Firdaus
JUPEIS : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2025): JUPEIS: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial
Publisher : Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jupeis.Vol4.Iss2.1363

Abstract

Penelitian ini menganalisis ketimpangan sosial yang terjadi akibat terbatasnya akses terhadap teknologi di Kota Makassar, terutama di daerah pinggiran kota. Teknologi, yang seharusnya berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup dan mempercepat mobilitas sosial, ternyata memperburuk ketimpangan sosial, terutama di kalangan masyarakat dengan status ekonomi rendah. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi akses terhadap teknologi dan dampaknya terhadap mobilitas sosial di 5 Kecamatan dalam wilayah kota Makassar. Melalui pendekatan kuantitatif dengan analisis data survei terhadap 120 responden yang tersebar di salah satu kota besar di Indonesia, hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan akses terhadap teknologi berdampak signifikan terhadap peluang individu untuk berpartisipasi dalam pasar tenaga kerja digital dan mengakses informasi pendidikan. Selain itu, ketimpangan ini memperburuk ketidaksetaraan ekonomi dan sosial, yang menghambat kemajuan kelas bawah.
Penyuluhan Pengelolaan Konflik Sosial Masyarakat Rentan: Membangun Keluarga yang Sehat dan Produktif di Kecamatan Tallo Kota Makassar Tahir G, Muhammad; Tinri, M. Darwis Nur; Anas, Firdaus; Arga, Arga; Rahmatullah, Wahyu; Aulria, Siti Nurhalizah Mutia
Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2024): Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/bajpm.v4i4.1150

Abstract

Pengelolaan konflik sosial di masyarakat rentan menjadi isu penting dalam menciptakan kesejahteraan dan keharmonisan keluarga, khususnya di Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Kecamatan ini menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang dapat memicu ketegangan dalam keluarga dan masyarakat. Artikel ini membahas program penyuluhan pengelolaan konflik sosial yang bertujuan untuk membangun keluarga yang sehat dan produktif di masyarakat rentan di Kecamatan Tallo Kota Mkassar. Penyuluhan ini mencakup pelatihan pengelolaan konflik, teknik mediasi, dan komunikasi efektif, serta pemberdayaan ekonomi keluarga melalui pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan keuangan. Selain itu, program ini juga menyasar aspek kesehatan keluarga, termasuk kesehatan reproduksi dan kesehatan mental. Melalui metode penyuluhan yang berbasis partisipasi masyarakat, erjadi peningkatan kapasitas individu dan keluarga dalam mengelola konflik secara konstruktif, memperbaiki kualitas hidup, serta menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan produktif. Hasil dari program ini adalah terciptanya keluarga yang lebih sehat, produktif, dan mampu mengelola konflik dengan lebih baik.
Administrative Management Training for Lembang Sarambu North Toraja Village Apparatus Petrus, Petrus; Tinri, M. Darwis Nur; G, Muhammad Tahir
Jurnal Perjuangan dan Pengabdian Masyarakat : JPPM Vol. 1 No. 3 (2025): 30 September 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pejuang Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Administrative management training for village officials in Lembang SarambuVillage, North Toraja aims to improve the capacity and competence of village officials in managing village government administration professionally, orderly, and accountably. This activity provides a platform for village officials to understand good village government administration systems, master archive and document management techniques, learn village financial reporting mechanisms, understand regulations related to village management, and develop information technology skills for village administration. Through this training, it is hoped that village officials can improve the quality of public services, improve village governance systems, increase transparency and accountability in village fund management, and create good governance at the village level which has an impact on improving community welfare.
Peran Kearifan Lokal Dalam Tata Kelola Kebijakan Publik Desa: Studi Fenomenologis Di Desa Moncongloe Tinri, M. Darwis Nur
Reflection Journal Vol. 5 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/rj.v5i2.3656

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji pola integrasi kearifan lokal dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dengan menitikberatkan pada praktik Tudang Sipulung dan sistem nilai Siri’ na Pacce. Kedua unsur tersebut diposisikan sebagai landasan budaya dalam proses musyawarah dan pengambilan keputusan bersama. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan 25 informan yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif terbatas, serta analisis dokumen kebijakan desa.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tudang Sipulung berperan sebagai ruang deliberasi yang menjembatani nilai-nilai adat dengan mekanisme pemerintahan formal, sekaligus meningkatkan ruang partisipasi masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Nilai Siri’ na Pacce berfungsi sebagai pedoman etis yang menekankan martabat, empati, dan tanggung jawab sosial, sehingga mendorong aparatur desa menjalankan tugas secara berintegritas sesuai norma adat dan hukum formal. Integrasi tersebut menghadapi tantangan berupa potensi konflik kewenangan akibat adanya legitimasi kultural dan legal-formal yang berjalan bersamaan. Praktik Tudang Sipulung umumnya dimanfaatkan sebagai tahapan awal sebelum Musyawarah Desa formal, meskipun tingkat partisipasi aktif masyarakat masih terbatas. Selain itu, efektivitas tata kelola sangat dipengaruhi oleh kemampuan elit lokal dalam mengelola perbedaan kepentingan. Temuan lain menunjukkan rendahnya pemahaman generasi muda terhadap nilai adat, meskipun mereka lebih melek teknologi. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan penerapan model institutional bricolage untuk memperkuat integrasi kearifan lokal dan pemerintahan formal secara berkelanjutan. The Role of Local Wisdom in Village Public Policy Governance: A Phenomenological Study in Moncongloe Village  This study examines the integration of local wisdom into village governance by focusing on the practices of Tudang Sipulung and the value system of Siri’ na Pacce. Both concepts function as cultural foundations for deliberation and collective decision-making processes. A descriptive qualitative approach was employed, involving 25 informants selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, limited participatory observation, and analysis of village policy documents.The findings indicate that Tudang Sipulung serves as a deliberative forum that bridges local cultural values with formal governance mechanisms, while also expanding opportunities for community members to express collective aspirations. Meanwhile, Siri’ na Pacce operates as an ethical framework that emphasizes personal dignity, empathy, and collective responsibility, encouraging village leaders to perform their duties with high integrity in accordance with customary norms and formal legal standards. However, the integration process faces several challenges, particularly tensions arising from dual legitimacy cultural and legal-formal which may lead to authority conflicts. In practice, Tudang Sipulung is often positioned as a preliminary stage prior to the formal Village Assembly to build initial consensus, although levels of active community participation remain uneven. Governance effectiveness is also influenced by the capacity of local elites to mediate diverse interests. Additionally, the study reveals that younger generations, despite higher digital literacy, demonstrate lower understanding of traditional values. Based on these findings, the study recommends the adoption of an institutional bricolage model to strengthen the sustainable integration of local wisdom within formal village governance systems.