Rama Prasja, Teguh
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penetapan Harga Tunai dan Kredit Dalam Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen Rama Prasja, Teguh; Kurniasih, Esy
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 8 No. 3 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v8i3.11871

Abstract

This study examines the legal implications of price disparities between cash and credit purchases and evaluates the extent of consumer protection within Indonesia’s regulatory framework. Using a normative juridical method with a statute and conceptual approach, this research analyzes laws, doctrinal sources, and secondary literature related to consumer protection and credit agreements. The findings show that price differences between cash and credit transactions are not explicitly prohibited by Law No. 8 of 1999 on Consumer Protection; however, the absence of clear norms on price transparency enables business actors to impose subjective and unequal price margins. Consumers often receive insufficient information regarding interest components, administrative fees, and risks embedded in credit schemes, while standard-form contracts further weaken their bargaining position. The study reveals a gap between normative protection and factual practices, in which institutional limitations of BPSK and the absence of preventive oversight by OJK contribute to legal uncertainty. The novelty of this research lies in proposing regulatory reform through explicit transparency obligations, expansion of OJK’s preventive supervisory role, and strengthening BPSK’s authority to impose administrative sanctions. These reforms are essential to ensure fairness, transparency, and legal certainty in credit-based sales transactions. Penelitian ini menganalisis implikasi yuridis terhadap perbedaan harga antara pembelian tunai dan kredit serta mengevaluasi tingkat perlindungan konsumen dalam kerangka regulasi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual melalui telaah peraturan, doktrin, serta literatur yang relevan mengenai perlindungan konsumen dan perjanjian kredit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan harga tunai dan kredit tidak secara tegas dilarang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen; namun, ketiadaan norma eksplisit mengenai kewajiban transparansi harga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk menerapkan selisih harga secara subjektif dan tidak merata. Konsumen umumnya tidak menerima informasi yang memadai mengenai bunga, biaya tambahan, maupun risiko kredit, sementara penggunaan kontrak baku semakin melemahkan posisi tawar mereka. Penelitian ini mengungkap adanya kesenjangan antara perlindungan normatif dan praktik faktual, diperparah oleh keterbatasan kewenangan BPSK dan belum optimalnya fungsi pengawasan preventif oleh OJK. Kebaruan penelitian ini terletak pada tawaran pembaharuan regulasi melalui kewajiban transparansi harga yang lebih tegas, perluasan fungsi pengawasan preventif OJK, serta penguatan kewenangan BPSK untuk menjatuhkan sanksi administratif. Reformasi ini penting untuk mewujudkan keadilan, transparansi, dan kepastian hukum dalam transaksi jual beli barang secara kredit.    
IMPLIKASI HUKUM PERANG DAGANG AMERIKA SERIKAT-CHINA TERHADAP KEPATUHAN PADA KETENTUAN WORLD TRADE ORGANIZATION Molina, Monika; Admiral; Rama Prasja, Teguh; Rzqi Azmi, Muhammad
ANDREW Law Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : ANDREW Law Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61876/alj.v4i2.124

Abstract

Dinamika global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tantangan serius terhadap prinsip tersebut, khususnya melalui eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China sebagai dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perang dagang AS-China serta implikasinya terhadap efektivitas mekanisme penyelesaian sengketa WTO. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif-sosiologis dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan analisis praktik internasional. Sejak tahun 2018, Amerika Serikat memberlakukan tarif tambahan terhadap barang impor asal China dengan nilai mencapai lebih dari USD 360 miliar, dengan dalih praktik perdagangan tidak adil, seperti pelanggaran hak kekayaan intelektual, subsidi industri, dan pembatasan akses pasar. China kemudian merespons dengan kebijakan tarif balasan, sehingga memicu eskalasi konflik dagang yang berkepanjangan. Konflik ini tidak hanya meningkatkan ketidakpastian ekonomi global, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai efektivitas mekanisme penyelesaian sengketa WTO. Hingga tahun 2025, perang dagang AS-China telah berkembang menjadi kompetisi struktural dan strategis yang meluas ke sektor teknologi, investasi, dan geopolitik. Di sisi lain, WTO menghadapi krisis kelembagaan, terutama akibat lumpuhnya Appellate Body sejak 2019 yang melemahkan daya ikat putusan sengketa. Kondisi ini mendorong negara-negara, termasuk AS dan China, lebih mengandalkan jalur bilateral dan regional.
Kepastian Hukum terhadap Pengembalian dana Refund pasca Jual Beli Kendaraan di Indonesia rama prasja, teguh; Kurniasih, Esy
UIR Law Review Vol. 9 No. 2 (2025): UIR LAW REVIEW
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/uirlrev.2025.vol9(2).27330

Abstract

The practice of buying and selling used vehicles, such as cars, through financing institutions (leasing), often involves various financial components related to consumer transactions, one of which is refund funds. In practice, refund funds that should be given to customers are not always given to customers, but in some cases are transferred to showrooms without the customer's consent or knowledge. This condition raises legal issues related to the protection of consumer rights and legal certainty regarding the return of refund funds. This study aims to analyze the transfer of financing refund funds to showrooms without consumer consent from a civil law perspective and to examine the legal certainty of refund funds to consumers in motor vehicle financing practices. This study uses a normative legal research method with a statutory and conceptual approach. The results of the study indicate that the transfer of refund funds to showrooms without consumer consent can be qualified as an unlawful act that has the potential to create a defect in the will in the formation of the agreement. In addition, the legal certainty of refund funds to customers can be based on the principle of good faith in the agreement and provisions regarding consumer protection. Therefore, clearer regulations regarding refund funds in the practice of buying and selling vehicles, such as cars, are needed to provide legal certainty and more optimal protection for customers.