Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Respon Peserta Didik Terhadap Program Pengabdian Masyarakat Melalui Pelatihan Pengolahan Labu Kuning: Pengabdian Febriani Lukitasari; Hidayatun Muyasyaroh; Diwyacitta Antya Putri; Nugrahani Astuti; Luthfiyah Nurlaela; Rendra Lebdoyono; Novia Tesalonika Amanda Rerung
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2798

Abstract

A  community service activity through pumpkin processing training was conducted at SMAN 1 Karas, involving 16 11th-grade students. The objectives of this activity were to provide knowledge about the nutrition and benefits of pumpkin, train food processing skills based on local ingredients, and foster student creativity in culinary product innovation. The implementation method included material delivery, creative practice, discussion, and evaluation through pre-tests, post-tests, and participant response questionnaires. The analysis results showed a significant increase in student knowledge, indicated by the difference in pre-test scores (50–60) and post-test scores (80–90). Participants' responses to the training were very positive, with average scores of 4.8–5.0 in aspects of material, instructor skills, facilities and infrastructure, and activity implementation. Participants considered the material easy to understand, the delivery method clear, and the product processing practice very useful. Several improvements were noted in aspects of instructor time discipline and the intensity of mentoring during practice. Overall, this training was effective in increasing students' knowledge, skills, and motivation to utilize local foods, especially pumpkin, as value-added product innovations. Such activities are important to continue to develop as an effort to support food diversification and entrepreneurship in the culinary field.
ANALYSIS OF PHYSICOCHEMICAL AND ORGANOLEPTIC CHARACTERISTICS OF YELLOW PUMPKIN PUDDING (CUCURBITA MOSCHATA) Putri, Diwyacitta Antya; Muyasyaroh, Hidayatun; Lukitasari, Febriani; Astuti, Nugrahani; Rerung, Novia Tesalonika Amanda; Ifadah, Raida Amelia
Agrisaintifika: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 9 No. 3 (2025): Agrisaintifika
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ags.v9i3.7589

Abstract

Yellow pumpkin (Cucurbita moschata) is a nutrient-rich horticultural commodity with considerable potential for development into various food products, including pudding. However, scientific information regarding the effects of pumpkin incorporation on the physicochemical and sensory characteristics of pudding remains limited. This study aimed to evaluate the influence of different proportions of pumpkin (30%, 50%, and 70%) on the physicochemical properties, vitamin C content, and sensory acceptance of pumpkin pudding. A Completely Randomized Design (CRD) was employed with three replications for each treatment. The analyses included syneresis at two storage conditions (refrigerated and room temperatured), total dissolved solids (TDS), texture (hardness), color parameters (L*, a*, b*), vitamin C content determined by iodometric titration, and a hedonic test involving 30 untrained panelists. Data were analyzed using ANOVA followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level. The results showed that increasing the proportion of pumpkin had significant effects on TDS, texture, color attributes, vitamin C content, and most sensory parameters. Higher pumpkin concentrations decreased TDS and hardness values while increasing syneresis due to higher free-water content within the gel matrix. Lightness (L*) and vitamin C levels increased proportionally with the amount of pumpkin added. Sensory evaluation revealed that the 30% pumpkin formulation received the highest scores for color, aroma, texture, taste, and overall acceptance, whereas the 70% formulation received the lowest scores, particularly for color and chewiness. These findings indicate that the 30% pumpkin incorporation provides the most optimal balance of physical quality, nutritional enhancement, and consumer acceptability. Keywords: Organoleptic, Physicochemical Properties, Pudding, Pumpkin, Vitamin c
PENGARUH PERBEDAAN PROPORSI TEMPE DAN LABU (Cucurbita moschata) TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK NUGGET Hidayatun Muyasyaroh; Febriani Lukitasari; Diwyacitta Antya Putri; Nugrahani Astuti; Aulia Bayu Yushila; Novia Tesalonika Amanda Rerung; Nada Itorul Umam
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 10 No. 6 (2025): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/kr7d3965

Abstract

Nugget merupakan salah satu produk pangan olahan yang praktis dan digemari berbagai kalangan, baik anak-anak hingga orang dewasa. Inovasi bahan baku berbasis pangan lokal diperlukan untuk menigkatkan nilai gizi dan keberlanjutan produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan proporsi tempe dan labu (Cucurbita moschata) terhadap sifat fisikokimia dan organoleptik nugget. Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat formula penelitian yaitu P0 (250:0), P1 (150:100), P2 (100:150) dan P3 (50:200) untuk masing-masing proporsi tempe dan labu kuning. Pengamatan dilakukan terhadap karakteristik nugget meliputi tingkat kesukaan melalui uji hedonik, warna dan nilai proksimat. Hasil penelitian pada uji hedonik yaitu atribut aroma menunjukkan p value < 0.05 sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antar sampel. Dari hasil uji hedonik diperoleh produk terbaik pada perlakuan P3. Warna nugget terbaik pada parameter b* menunjukkan nilai perbedaan yang sinifikan (p<0.05). Hasil analisis proksimat didapatkan perlakuan terbaik pada P3 dengan nilai kadar protein, lemak, air, abu dan karbohidrat masing-masing 10,60%; 17,59%; 46,25%; 1,70%; dan 23,87%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan produk berbasis bahan pangan lokal yang tidak hanya disukai secara sensori namun memiliki kandungan gizi yang baik. Formulasi tempe dan labu kuning berpotensi digunakan sebagai alternatif produk nugget fungsional dalam mendukung diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal.
Pelatihan Pengolahan Jajanan Tradisional Berbasis Pangan Lokal sebagai Upaya Penguatan Wisata Kuliner Berkelanjutan di Pasar Jenar Desa Pagerukir Aulia Bayu Yushila; Febriani Lukitasari; Ratna Palupi Nurfatimah; Novia Tesalonika Amanda Rerung; Sri Handajani; Khilya Zahiro; Yoga Danar Radiansyah; Judha Slamet Sarwo Edi; Sri Wahyuni
Jurnal Pengabdian Masyarakat Manage Vol. 7 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/manage.v7i2.5889

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan jajanan tradisional berbasis pangan lokal di Desa Pagerukir, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, melalui pelatihan pembuatan bongko pisang dan talam ubi sebagai upaya penguatan wisata kuliner Pasar Jenar. Program ini juga mendukung pencapaian SDG 8, SDG 11, dan SDG 12, serta sejalan dengan kebijakan Asta Cita dan Rencana Industri Riset Nasional (RIRN). Permasalahan utama mitra meliputi belum adanya standardisasi resep, keterbatasan keterampilan pengolahan pangan yang higienis. Kegiatan dilaksanakann pada Mei 2026 dengan menerapkan metode Participatory Action Research (PAR) melalui empat tahapan sistematis, yaitu identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Peserta kegiatan berjumlah 30 orang pelaku usaha kuliner Pasar Jenar. Pelaksanaan program meliputi penyampaian materi sanitasi dan higiene, demonstrasi pembuatan bongko pisang dan talam ubi, praktik langsung oleh peserta, pendampingan penggunaan kemasan berbahan daun pisang, serta serah terima barang hibah peralatan produksi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta yang signifikan, ditandai dengan kenaikan nilai rata-rata pre-test dari 58,3 menjadi 94,3 pada post-test atau meningkat 66% dan melampaui target yang ditetapkan sebesar ≥30%. Peserta juga mampu mempraktikkan pebuatan produk sesuai resep standar dan menghasilkan penyajian yang lebih menarik serta ramah lingkungan. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis praktik efektif dalam meningkatkan kapasitas mitra untuk mengembangkan produk kuliner lokal yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Analisis Pengaruh Pola Pikir Kewirausahaan terhadap Minat Berwirausaha Mahasiswa Tata Rias Rina Dwijuliani; Nia Kusstianti; Octaverina Kecvara Pritasari; Novia Tesalonika Amanda Rerung
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.41975

Abstract

bagi mahasiswa pendidikan tata rias yang memiliki keterampilan berbasis jasa. Namun, sebagian besar mahasiswa masih memiliki orientasi sebagai pencari kerja dibandingkan sebagai pencipta usaha. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi teknis dan kesiapan mental kewirausahaan. Pola pikir kewirausahaan dipandang sebagai faktor penting yang dapat memengaruhi minat berwirausaha mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pola pikir kewirausahaan terhadap minat berwirausaha mahasiswa S1 Pendidikan Tata Rias. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert kepada mahasiswa yang telah menempuh mata kuliah kewirausahaan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier sederhana, didukung uji validitas, reliabilitas, dan asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pikir kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha. Nilai koefisien regresi sebesar 0,612 menunjukkan bahwa peningkatan pola pikir kewirausahaan diikuti peningkatan minat berwirausaha. Koefisien determinasi sebesar 0,404 mengindikasikan bahwa variabel pola pikir kewirausahaan mampu menjelaskan 40,4% variasi minat berwirausaha, sementara sisanya dipengaruhi faktor lain di luar model penelitian. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan pola pikir kewirausahaan merupakan faktor strategis dalam meningkatkan minat berwirausaha mahasiswa tata rias. Oleh karena itu, pembelajaran kewirausahaan perlu diarahkan tidak hanya pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan mindset kewirausahaan.