Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

THE RELATIONSHIP BETWEEN ANEMIA AND ANXIETY DISORDERS AMONG ADOLESCENT GIRLS IN BEKASI DISTRICT, INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Kinayungan, Utami Putri
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 7 No. 2 (2025): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v7i2.236

Abstract

Background: Anxiety disorders are major mental health problem in Indonesia. In addition, the prevalence of anemia in adolescents is still high. Research shows that low iron levels can increase the risk of mental disorders, including anxiety disorders. Many studies have linked anemia to depressive symptoms, but research on anxiety disorders has not been widely studied. Purpose: to analyze the relationship between anemia and anxiety disorders in female adolescents. Methods: Quantitative research with a cross-sectional design conducted in three distinguished public schools in Bekasi Regency. The number of samples was 173 female adolescents selected using purposive random sampling techniques with inclusion criteria of being willing to provide blood samples, female students aged 15-18 years, and residing in Bekasi Regency. The exclusion criteria included students who were on a diet and consuming antidepressant medications. Anemia status was measured by Quick Check HB and anxiety disorders were assessed using the Depression Anxiety Scale (DASS 42) questionnaire. Results: Anemia in female adolescents was found to be 31.2%. Anxiety disorders were found to be 78.6%. The Bivariate test showed that there was no relationship between anemia status and depressive disorders (p-value = 0,167). Conclusion: There is no relationship between anemia status and depressive disorders in adolescents. Abstrak Background: Gangguan kecemasan menjadi masalah kesehatan mental utama di Indonesia. Selain itu, prevalensi risiko gangguan mental, termasuk gangguan kecemasan. Banyak studi yang mengkaitkan anemia dengan gejala depresi akan tetapi penelitian dengan gangguan kecemasan masih belum banyak diteliti. Tujuan: untuk menganalisis hubungan status anemia dengan gangguan kecemasan pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan di tiga sekolah unggulan di Kabupaten Bekasi. Jumlah sampel sebanyak 173 remaja putri yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive random sampling dengan kriteria inklusi bersedia diambil darahnya, berusia 15-18 tahun, dan berdomisili di Kabupaten Bekasi. Kriteria eksklusi mengonsumsi obat antidepresan dan sedang menjalani diet. Status anemia diukur Quick Check HB dan ganguan kecemasan dinilai mengguunakan kuesioner Depression Anxiety Scale (DASS 42). Hasil: Remaja putri anemia ditemukan sebesar 31,2%. Gangguan kecemasan ditemukan sebesar 78,6%. Uji bivariant menunjukkan tidak ada hubungan anatara status anemia dengan gangguan depresi (p-value = 0,167). Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara status anemia dengan gangguan depresi pada remaja. Perlu adanya studi lanjutan untuk melihat hubungan antara anemia dengan kecemasan.
The Relationship Between Food Safety Knowledge and Attitudes, Personal Hygiene Behavior in Hawker Traders in Pasir Gombong Village Burhanuddinnisa, Amanda Shifa; Kinayungan, Utami Putri; Sanjaya, Dandi; Nurpratama, Widya Lestari
Jurnal KESANS : Kesehatan dan Sains Vol 4 No 12 (2025): KESANS: International Journal of Health and Science
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/kesans.v4i12.449

Abstract

Introduction: Food safety is an effort to prevent food contamination that threatens health. Foodborne disease remains a global issue, including in Indonesia, as seen in poisoning cases in Bekasi and Cikarang. Street food is still at risk of being unhygienic, as many vendors neglect hygiene due to limited information, capital, and guidance. Knowledge and attitude are important factors in maintaining personal hygiene. Objective: This study aims to analyze the relationship between food safety knowledge and attitudes with the personal hygiene of street food vendors in Pasir Gombong Village. Methods: This study employed an analytical design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 50 street food vendors in Pasir Gombong Village. Data were collected using a questionnaire, and the Chi-Square test was applied to examine variable relationships. Results and Discussion: The statistical test showed a p-value of 1.000 for the relationship between knowledge and personal hygiene, and 0.170 for the relationship between attitude and personal hygiene (p > 0.05). These results indicate no significant relationship. Conclusion: Most respondents were male, middle-aged, well-educated, experienced in trading, and had middle to high income, but had never attended food safety training. Although respondents generally had good knowledge, attitudes, and hygiene practices, statistical analysis showed no significant association between knowledge or attitudes and personal hygiene
Pengetahuan dan Sikap Terkait dengan Penggunaan Pemanis Buatan pada Pedagang Minuman di Pasar Cikarang Bekasi Nurpratama, Widya Lestari; Asmi, Nur Fauzia; Kinayungan, Utami Putri
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2023): December
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ghidza.v7i2.845

Abstract

Salah satu Bahan tambahan pangan (BTP) yaitu pemanis buatan merupakan hal yang sangat penting diperhatikan terutama dalam penggunaanya pada pembuatan minuman yang akan dipasarkan. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengetahuan dan sikap terkait dengan penggunaan pemanis buatan pada pedagang minuman di Pasar Cikarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan pengambilan data menggunakan wawancara dengan kuesioner. Sampel yang diambil sebanyak 60 pedagang minuman kaki lima. Variabel independen yaitu pengetahuan dan sikap pedagang minuman, variabel dependen yaitu penggunaan pemanis buatan, analisis yang digunakan yaitu chi square. Hasil dari penelitian ini yaitu mayoritas berusia dewasa berjenis kelamin laki-laki dan memiliki pendidikan tinggi. Pengetahuan responden rata-rata cukup dan sikapnya cukup. Penggunaan pemanis buatan pada pedagang minuman ini lebih dari separuh tidak memakai pemanis buatan. Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dan pengetahuan pedagang minuman dengan penggunaan pemanis buatan (p-value 0,000). Kesimpulan dalam penelitian ini diperlukan pengetahuan yang baik tentang pemanis buatan agar pedagang minuman mempunyai sikap yang baik dan tahu bagaimana penggunaan pemanis buatan yang aman pada minuman yang akan dipasarkan.
Analisis kandungan siklamat, metanil yellow dan rhodamin b pada makanan dan minuman di Cikarang Nurpratama, Widya Lestari; Kinayungan, Utami Putri; Alamsah, Deni; Sanjaya, Dandi; Asmi, Nur Fauzia; Heryanda, Mahfuzhoh Fadillah
Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan Vol 6, No 3 (2025): Nopember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/gikes.v6i3.2660

Abstract

Background: Food Additives (BTP) are substances that are intentionally added to improve food quality without providing nutritional value, examples of BTP are artificial sweeteners and dyes such as cyclamate, metanil yellow, and rhodamin B which focus on identifying their content in food and beverages in Cikarang. The research was conducted in Cikarang, which is an area with high population density and rapid economic activity.Objectives: Analyzing the content of cyclamate, metanil yellow, and rhodamine B in food and beverages in Cikarang.Methods: The experimental research design used accidental sampling with a sample size of 20 for the cyclamate test, 15 for the rhodamine B and methanyl yellow tests. Sampling was tested directly with the Test Kit brand labstest for the cyclamate, metanil yellow, and rhodamine B tests carried out at the Integrated Chemistry Laboratory at Suherman Medika University. Data collection was carried out in April 2025. Data analysis was carried out descriptively, namely showing the percentage of food and beverage content containing artificial sweeteners cyclamate and dyes metanil yellow and rhodamine B.Results: The results of the study showed that of the 20 samples tested for cyclamate, 7 samples were positive (35%) indicated by the presence of white sediment in the sample, 15 samples tested for metanil yellow did not contain metanil yellow in the sample, and 15 samples tested for rhodamine B, 2 samples were positive (13,3%) indicated by a pink color change in the sample.Conclusion: The results of the study confirmed that there were indications of the content of artificial sweeteners cyclamate, and dyes metanil yellow, and rhodamin B in several samples of food and beverages sold in the Cikarang area.
Edukasi cemilan sehat dengan metode emotional demonstrasi pada kader di wilayah Puskesmas Mekar Mukti Asmi, Nur Fauzia; Sanjaya, Dandi; Nurpratama, Widya Lestari; Kinayungan, Utami Putri; Alamsah, Deni
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34492

Abstract

Abstrak Kabupaten Bekasi merupakan wilayah kawasan industri dengan pola hidup instan dan cepat saji yang dapat menjadi faktor risiko kejadian penyakit degeneratif. Apabila hal ini tidak diatasi dapat mengakibatkan penyakit kronis  seperti obesitas, diabetes, jantung, stroke. Oleh karena itu untuk mencegah kejadian permasalahan gizi maka perlu pemberian edukasi pada berbagai kalangan salah satunya adalah kader. Peran kader menjadi agen penggerak  dan penerus informasi yang paling dekat dengan masyarakat. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi tentang cemilan sehat menggunakan metode emotional demonstrasi pada kader dan memberikan ide olahan cemilan sehat. Metode kegiatan menggunakan emotional demonstrasi merupakan salah satu metode pemberian edukasi dengan penyajian yang menarik dan berperan aktif sehingga tidak bosan dalam penyampaian edukasi. Sasaran dalam kegiatan ini adalah Kader Posyandu di Wilayah Puskesmas Mekarmukti sebanyak 31 orang yang diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus 2025. Pelaksanaan kegiatan dilakukan tiga tahapan yaitu pertama pengumpulan dan pengkajian data, tahap kedua adalah pemberian edukasi menggunakan metode emotional demonstrasi dan tahap ketiga adalah demonstrasi cara pembuatan cemilan sehat. Hasil dari kegiatan ini adalah kader antusias mengikuti kegiatan edukasi menggunakan metode emotional demonstrasi dan kegiatan demontrasi cemilan cehat berupa kue lumpur ubi ungu dan snack ubi ungu berjalan dengan lancar. Kegiatan edukasi dengan metode emotional demontrasi dapat menjadi alternatif pemberian edukasi bagi kader. Kata kunci:  edukasi; kader; cemilan sehat; emotional demonstrasi Abstract Bekasi Regency is an industrial area with an instant and fast food lifestyle that can be a risk factor for degenerative diseases. If this is not addressed, it can lead to chronic diseases such as obesity, diabetes, heart disease, stroke. Therefore, to prevent the occurrence of nutritional problems, it is necessary to provide education to various groups, one of which is cadres. The role of cadres is to be the driving agent and information forwarder closest to the community. The aim of this activity is to provide education about healthy snacks using the emotional demonstration method to cadres and provide ideas for healthy snack preparations. The method of activity using emotional demonstration is one method of providing education with an interesting presentation and playing an active role so that they do not get bored in delivering education. The target of this activity is Posyandu Cadres in the Mekarmukti Health Center Area as many as 31 people which was held on August 29, 2025. The implementation of the activity was carried out in three stages, namely the first data collection and review, the second stage was providing education using the emotional demonstration method and the third stage was a demonstration of how to make healthy snacks. The results of this activity showed that cadres enthusiastically participated in educational activities using the emotional demonstration method. The demonstration of healthy snacks, such as purple sweet potato mud cake and purple sweet potato snacks, went smoothly. Educational activities using the emotional demonstration method can be an alternative way to provide education for cadres. Keywords: education; cadres; healthy snacks; emotional demonstration
Edukasi lima kunci keamanan pangan keluarga pada ibu kader posyandu di Puskesmas Mekarmukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi Kinayungan, Utami Putri; Nurpratama, Widya Lestari; Sanjaya, Dandi; Asmi, Nur Fauzia; Alamsah, Deni
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35695

Abstract

AbstrakFenomena keracunan makanan masih banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat. Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, melaporkan kejadian keracunan pangan pada siswa SD di Klaten, Jawa Tengah pada 12 Januari 2024 dengan korban sebanyak 111 orang. Di Kabupaten Cianjur, dilaporkan terdapat tujuh kejadian keracunana massal selama bulan Januari hingga Oktober 2024 dengan total korban mencapai 384 orang, dan salah satunya meninggal dunia. Di Cilacap, sebanyak 157 orang dilaporkan mengalami keracunan makanan setelah makan nasi kotak dengan gejala pusing, mual, muntah dan diare. Di Kota Bogor, 93 warga menjadi korban dan 1 meninggal dunia diebabkan oleh keracunan makanan. Sementara di Kabupaten Bekasi sendiri dilaporkan 32 kasus keracunan makanan dan kasus diare sebanyak 20.111 orang pada tahun 2023. Di Puskesmas Mekarmukti, diare menempati posisi ke 8 laporan besar penyakit yang ada di masyarakar. Pengetahuan masyarakat tentang keamanan pangan sangat diperlukan karena pengetahuan menjadi ujung tombak dalam berperilaku. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader mengenai keamanan pangan dan perubahan perilaku dalam memilih dan mengolah makanan secara sehat dan tepat sehingga dapat mencegah kejadaian foodborne desease. Metode yang digunakan yakni ceramah dan pemberian kuesioner pre-test dan post-test. Kata kunci: Edukasi; kader; keamanan pangan; pelatihan; pengetahuan. Abstract The phenomenon of food poisoning still occurs frequently in society. The Indonesian Ministry of Health's Health Crisis Center reported food poisoning among elementary school students in Klaten, Central Java, on January 12, 2024, with 111 victims. In Cianjur Regency, seven mass poisoning incidents were reported between January and October 2024, with a total of 384 victims, including one death. In Cilacap, 157 people reportedly suffered from food poisoning after eating boxed meals, with symptoms including dizziness, nausea, vomiting, and diarrhea. In Bogor City, 93 residents became victims and one died due to food poisoning. Meanwhile, in Bekasi Regency alone, 32 cases of food poisoning and 20,111 cases of diarrhea were reported in 2023. At the Mekarmukti Community Health Center, diarrhea ranked eighth among the major reported diseases in the community. Public awareness of food safety is crucial because it is the spearhead of behavior. The goal of this activity is to increase cadres' knowledge about food safety and change their behavior in selecting and preparing food healthily and appropriately to prevent foodborne diseases. The methods used include lectures and pre- and post-test questionnaires. Keywords: education; cadres; food safety; training; knowledge.
Association of antidepressant food scores, anemia, and physical activity with adolescent depression Kinayungan, Utami Putri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 4, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(4).233-242

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Satu dari tiga remaja di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, sementara di sisi lain permasalahan anemia pada remaja putri belum teratasi. Beberapa literatur menyatakan bahwa pola makan dan aktivitas fisik dapat menjadi strategi untuk mencegah depresi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antidepressant food scores, status anemia, dan aktivitas fisik dengan kejadian depresi pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain analitik cross-sectional yang melibatkan 173 siswa perempuan. Pemilihan subyek penelitian menggunakan teknik purposive random sampling yang dipilih dengan kriteria inklusi siswi berusia 15 - 18 tahun, berdomisili di Kabupaten Bekasi, bersedia diambil darahnya. Kriteria eksklusi siswi yang sedang melakukan diet dan tidak mengonsumsi obat antidepresan. Konsumsi makanan antidepresan diukur menggunakan Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), anemia diukur dengan alat Quick Check HB, aktivitas fisik diukur dengan kuesioner International Physical Activity (IPAQ-SF) dan tingkat depresi diukur dengan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS 42). Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil: Remaja dengan pola konsumsi antidepresan food rendah sebesar 70.05%. Remaja dengan anemia ditemukan 32.2%. Remaja dengan aktivitas fisik rendah ditemukan 66.5%. Remaja depresi ditemukan 45.3%. Hasil uji bivariat menunjukkan ada hubungan antara pola makan antidepresan dan status anemia pada remaja putri (p<0.05). Remaja putri anemia memiliki resiko mengalami depresi 0,939 kali lebih besar dari pada remaja putri yang tidak mengalami anemia (OR = 0.939; CI = 0.794-1.107). Remaja putri yang memiliki pola konsumsi makanan antidepresan rendah beresiko mengalami depresi 1,862 kali lebih besar dari pada remaja putri yang memiliki pola konsumsi makanan antidepresan tinggi (OR = 1.862; CI=0.700 – 4.952.). Tidak ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kejadian depresi pada remaja putri (p>0.05)Kesimpulan: Antidepressant Food Score dan status anemia dapat dikaitkan dengan kejadian depresi pada remaja. Aktivitas fisik dalam penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian depresi pada remaja. KATA KUNCI: aktivitas fisik; anemia; antidepressant food scores; depresi, pola makan ABSTRACTBackground: One in three adolescents in Indonesia faces mental health issues, meanwhile, the problem of anemia among adolescent girls remains unresolved. Several literatures suggest that dietary patterns and physical activity may serve as strategies to prevent depression.Objectives: To examine the relationship between antidepressant food scores, anemia status, and physical activity with the incidence of depression among adolescents.Methods: This quantitative study employed a cross-sectional analytical design involving 173 female students. The research subjects were selected using a purposive random sampling technique, with inclusion criteria of female students aged 15-17 years, residing in Bekasi Regency, and willing to provide blood samples. The exclusion criteria included students who were on a diet and those not consuming antidepressant medications. Antidepressant food consumption was measured using the Semi Quantitative-Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), anemia was assessed with the Quick Check HB device, physical activity was measured using the Physical Activity Questionnaire (IPAQ-SF), and depression levels were measured using the Depression Anxiety Stress Scale (DASS 42) questionnaire. Data analysis was conducted using chi-square and logistic regression tests. Results: Adolescents with low antidepressant food consumption were 70,05%. Adolescents with anemia were found to be 31.2%. Adolescents with low physical activity were found to be 66.5%. Depressed adolescents were found to be 45.3%. The results of the bivariate test showed there is a relationship between antidepressant dietary patterns and anemia status with the incidence of depression among adolescents (p<0.05). Anemic adolescent girls have a 0.939 times higher risk of experiencing depression compared to non-anemic adolescent girls (OR =0.939; CI = 0.794 - 1.107). Adolescent girls with low antidepressant food consumption patterns are 1.862 times more likely to experience depression than those with high antidepressant food consumption patterns (OR = 1.862; CI = 0.700 - 4.952). No significant relationship was found between physical activity and the incidence of depression among adolescents (p>0.05).Conclusions: Antidepressant Food Score and anemia status can be associated with the incidence of depression among adolescents. Physical activity in this study did not show a significant relationship with the incidence of depression among adolescents KEYWORD: anemia; antidepressant food scores; depression; dietary patternsphysical activity