Ramdhani, Ashary
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tradisi Keislaman dalam Penguatan Nilai Kearifan Lokal di Era Disrupsi Ashary Ramdhania; Khaerul Wahidin
JURNAL DIMENSI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN Vol 10: Special Issue No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/dpp.v10i1.6217

Abstract

Kemajuan teknologi digital 4.0 atau 5.0 telah menyebabkan banyak disrupsi secara sistemik. Disrupsi teknologi digital fundamental atau mendasar yang menyebabkan perubahan tatanan kehidupan segela bidang, termasuk bidang termasuk bidang pendidikan dan kearifan lokal masyarakat. Perubahan tersebut lambat laun akan menghilangkan kearifan masyarakat Indonesia jika tidak ada tradisi kuat yang membentenginya. Berlatar keadaan itu dikaji bagaimana tradisi keislaman menguatkan kearifan lokal di era disrupsi. Metode yang digunakan untuk membahasian kajian ini dengan studi literatur. Adapun hantaman disrupsi kepada kearifan lokal diera disrupsi dapat berupa (1) akuturasi positif, (2) akulturasi negatif, (3) asimilasi positif, dan (4) asimilasi negatif. Dampaknya memungkinkan kearifan lokal tetap kuat atau memunculkan keraifan lokal baru yang menambah nilai kearifan lokal asli (akuturasi dan asimilasi positif) atau memperkaya keraifan lokal asli, serta boleh jadi merusak tatanan kearifan lokal asli (akulturasi dan asimilasi negatif). Di akhir artikel diperoleh kesimpulan tradisi keislaman sangat berperan menjaga kearifan lokal masyarakat lebih dominan berupa akulturasi dan asimilasi positif daripada akulturasi dan asimilasi negatif. Hal ini terbukti dari kearifan lokal masyarakat Indonesia tetap ada di kurikulum Pendidikan dari masa ke masa, dan kearifan lokal masyarakat Indonesia di mata Internasional tetap diakui.
Pandangan Kritis atas Pencitraan sebagai Kompetensi dan Kompetensi Kecerdasan Spiritual Sebagai Soft Skill Ramadhani, Ashary; Sumarna, Cecep; Rosidin, Didin Nurul
JURNAL DIMENSI PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN Vol 11: Special Issue No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/dpp.v11i1.7264

Abstract

Kompetensi bukan ajang pertarungan lembaga pendidikan untuk menarik minat peserta didik. Kompetensi merupakan tanggungjawab seluruh lembaga pendidikan untuk mewujudkannya, sebab kompetensi merupakan bekal utama generasi menyongsong masa depan, kompetensi dirancang untuk menghadapi permasalahan dan tantangan zaman, masalah literasi peserta didik yang begitu rendah, integritas bangsa yang rendah karena literasi manusia yang mengarah kepada akhlak yang mulia rendah, hal inilah yang menyebabkan kecerdasan spiritual rendah, sementara lembaga pendidikan sibuk dengan pencitraannya bahwa bangunanya palimg megah, prestasi siswanya paling tinggi dan lulusannya paling baik, tidak melakukan penalaran kritis terhadap capaiannya dalam mengelola delapan standar pendidikan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual yang menjadi inti literasi dan kecerdasan majemuk. Berlatar keadaan itu dikaji bagaimana pandangan kritis terhadap pencitraan sebagai kompetensi dan kompetensi sebagai softskill. Metode yang digunakan untuk membahasian kajian ini dengan studi literatur dengan data berupa rahasia umum yang diketahui. Komptensi menjadi acuan standar pendidikan yang lainnya untuk mewujudkannya, kompetensi yang menjadi inti tujuan pendidikan nasional dan menjadi inti dari nilai pancasila adalah kompetensi kecerdasan spiritual, sebab kecerdasan ini menjadi soft skill yang terintegrasi nilainya tidak terpisahkan antara bersifat kemanusiaan dan bersifat ketuhanan, bukan saja urusan di dunia tetapi juga akherat, memberikan kemampuan nalar analitif juga nalar intuitif, diwujudkan dengan kurikulum pendidikan holistik integratif. Di akhir artikel diperoleh kesimpulan pencitraan dengan megahnya bangunan, banyaknya prestasi siswa dan kebanggaan terhadap alumni tidak identik dengan kompetensi, dan kompetensi kecerdasan spiritul menjadi softskill yang bersifat kemanusiaan dan ketuhanan itulah yang menjadi inti kompetensi, kecerdasan spiritual dirancang melalui delapan satandar pendidikan dan kurikulum holistik integratif dikukung dengan pendidikan rumah dan masyarakat.
Independence of The Modern Darussalam Gontor Education System (PMDG) In Establishing The Personality of Perspective Interest and Tarbawi Hadith Ramdhani, Ashary
Devotion : Journal of Research and Community Service Vol. 4 No. 1 (2023): Devotion: Journal of Research and Community Service
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/dev.v4i1.361

Abstract

Worldwide educational institutions whose systemsare independent, do not follow the example of experts butall systems move and work independently, without involving or there is dependence and attachment to outside parties. Until now, the Islamic educational institution Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) is in the independence of the system, on the one hand experts are always looking for the best educational institution system so that it continues to develop not lagging behind the times, and on the other hand many local islamic boarding schools have fallen because they were crushed by the times, Pondok Modern Darussalam Gontor still exists in the same system without changes,  forming the personality of students who are ready to appear as national and even international figures. Against the backdrop of this situation, it was studied how the interpretation and hadith views of tarbawi on the independence of the Darussalam Gontor Modern Lodge system. The independence of the system born of experience is not the theory and reference of educational experts. The method used to discuss this study is with literature studies and interviews. The independence system created by Pondok Modern Darussalam Gontor is: 1) Leadership; 2) Parenting; 3) Teaching; 4) Regeneration; and 5) Funding, which is transformed to students, teachers, families, guardians of students, the community, community leaders and the government. This plays a very important role  in shaping personality in the form of work character and work competence for the glory of Indonesian national civilization. It was concluded that the independence of the Pondok Modern Darussalam Gontor system according to the interpretation and hadith of tarbawi is muhasabah as TQC (Total Quality Control) which becomes the basic system of independence, the foundation of the entire system and  forms the quality of the existing systems. This TQC is easily adopted by other Islamic Educational Institutions