Wiwana, I Putu Adi Putra
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Makanan, Ingatan, dan Identitas: Kajian Kuliner Pecel dalam Novel Rahasia Salinem Riswari, Aninditya Ardhana; Pamuji, Yanuar Ikhsan; Apriliyanto, Galih; Putra, Febrian; Wiwana, I Putu Adi Putra
Prosodi Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 19, No 2: (2025): prosodi
Publisher : Program Studi Bahasa Inggris Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/prosodi.v19i2.29949

Abstract

Makanan dalam budaya Jawa tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai dan identitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi pecel sebagai simbol ingatan dan identitas budaya Jawa dalam novel Rahasia Salinem karya Brilliant Yotenega dan Wisnu Suryaning Adji. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian budaya, yang didukung oleh teori representasi Stuart Hall, konsep cultural memory Jan Assmann, teori gastronomy and identity Sidney Mintz, dan semiotika makanan. Data utama diperoleh dari analisis mendalam terhadap narasi dalam novel, dengan fokus pada deskripsi makanan dan nilai-nilai yang menyertainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pecel dalam novel tidak hanya hadir sebagai latar budaya, tetapi juga menjadi artefak kultural yang memuat memori kolektif, nilai spiritualitas, dan simbol identitas gender. Praktik kuliner yang diwariskan tokoh Salinem mencerminkan hubungan antara makanan, keluarga, dan pengalaman migrasi. Pecel menjadi medium komunikasi antargenerasi serta bentuk resistensi terhadap keterputusan budaya akibat modernitas. Melalui proses memasak dan penyajian, makanan dikonstruksikan sebagai simbol cinta, kesederhanaan, dan keberlanjutan tradisi Jawa. Dengan demikian, novel Rahasia Salinem memperlihatkan bahwa makanan tradisional juga berfungsi sebagai pusat makna dalam narasi sastra, sekaligus memperkuat posisi kuliner lokal sebagai mekanisme pelestarian budaya dan ekspresi identitas kolektif masyarakat Jawa.
Stadium dan Punctum dalam The Impact of Nickel Mining on Halmahera Island Karya Mas Agung Wilis Yudha Baskoro: Kajian Semiotika Putra, Febrian; Riswari, Aninditya Ardhana; Haryani, Novia Sisca; Wiwana, I Putu Adi Putra
Retina Jurnal Fotografi Vol 6 No 1 (2026): Retina Jurnal Fotografi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/rjf.v6i1.5736

Abstract

Pertumbuhan industri nikel di Indonesia sebagai bagian dari transisi energi hijau membawa konsekuensi sosial dan ekologis yang kompleks, khususnya bagi komunitas lokal dan pekerja tambang. Di tengah narasi pembangunan berkelanjutan, isu-isu ketimpangan, eksploitasi tenaga kerja, dan kerusakan lingkungan sering kali terpinggirkan. Penelitian ini mengkaji upaya fotografi dokumenter yang dapat berfungsi sebagai medium kritik sosial, dengan fokus pada karya The Impact of Nickel Mining on Halmahera Island oleh Mas Agung Wilis Yudha Baskoro. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis visual semiotik berdasarkan teori Roland Barthes, khususnya konsep stadium dan punctum. Teori representasi Stuart Hall juga digunakan untuk menelusuri makna. Analisis menunjukkan bahwa karya Baskoro merepresentasikan wajah tersembunyi dari industri ekstraktif dari kelelahan para buruh tambang hingga kerusakan ekologis yang tidak tertampung dalam narasi pembangunan resmi. Elemen stadium memetakan konteks struktural dan politik yang melingkupi kehidupan pekerja tambang, sedangkan punctum seperti tatapan kosong, luka, dan debu di wajah menembus kesadaran penonton secara afektif. Visual tidak lagi sekadar representasi, tetapi menjadi alat simbolik untuk membongkar relasi kuasa dan membangkitkan empati serta kegelisahan moral terhadap eksploitasi yang terjadi. Penelitian ini menunjukkan bahwa fotografi dokumenter dapat menjadi bentuk intervensi kultural yang kritis dan efektif dalam mengangkat isu ketidakadilan sosial dan ekologis.