Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Keanekaragaman Hayati Fauna di Sungai Surgi Mufti Kecamatan Banjarmasin Utara Syahbudin, Syahbudin; Maulana, Fujianor
BIOEDUSCIENCE Vol 2 No 2 (2018): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.438 KB) | DOI: 10.29405/j.bes/22135-1392484

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman hayati di sungai Surgi Mufti Kecamatan Banjarmasin Utara. Metode yang digunakan adalah metode titik, sweeping, dan tracking. Dilakukan pada pagi, siang, sore, dan malam hari di bulan januari-maret 2018. Analisis data menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Weiner’s (H'). Hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 45 jenis hewan, yaitu: 12 jenis capung, 9 jenis herpetofauna, 9 jenis burung, 8 jenis kupu-kupu, dan 7 jenis ikan. Keanekaramgan tertinggi pada kelompok capung dengan nilai H`= 2,35, sedangkan yang terendah pada kelompok ikan dengan nilai H`= 1,76.  
Influence of Porang (Amorphophalus muelleri) Cultivation On The Composition of Soil Arthropods In Tropical Agroforestry Areas In East Java, Indonesia Leksono, Amin setyo; Yanuwiadi, Bagyo; Zaenal, Kusuma; Farid, Akbar; Maulana, Fujianor
Journal of Tropical Life Science Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted on July to October 2010 to evaluate the effect of porang cultivation on the abundance, diversity and composition of soil Arthropods. Change in the abundance, diversity and composition of soil Arthropods was observed using pitfall traps in two study sites (Jember and Madiun). In each study site, samplings were performed in porang cultivation land and non-porang area. A total of 15 traps were put in three lines at each location. The differences in the abundance and diversity were analyzed by using multivariate analyze tests. The soil Arthropod compositions in all locations were compared with Bray-Curtis similarity index. The effect of environmental factors on the arthropod compositions was analyzed using multiple regression. The result showed that the effect of porang-cultivation was not consistent in two study sites. In Madiun, the abundance of soil Arthropods in porang cultivation land was slightly higher than that in non-porang, while the diversity was significantly higer in the former location. In contrast the those in Jember was found in vice versa situation. This study indicate that the effect of porang-cultivation was not subtantial to the composition of soil Arthropods. Therefore practice non harmful porang cultivation should be promoted as a part of agroforestry sistem in both study sites.Keywords: Agroforestry, conservation, pitfall traps Soil Arthropods composition
Keanekaragaman Hayati Fauna di Sungai Surgi Mufti Kecamatan Banjarmasin Utara Syahbudin Syahbudin; Fujianor Maulana
BIOEDUSCIENCE Vol 2 No 2 (2018): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.438 KB) | DOI: 10.29405/j.bes/22135-1392484

Abstract

Background: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman hayati di sungai Surgi Mufti Kecamatan Banjarmasin Utara. Metode: Metode yang digunakan adalah metode titik, sweeping, dan tracking. Penelitian ini ilakukan pada pagi, siang, sore, dan malam hari di bulan januari-maret 2018. Analisis data menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Weiner’s (H'). Hasil: Hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan 45 jenis hewan, yaitu: 12 jenis capung, 9 jenis herpetofauna, 9 jenis burung, 8 jenis kupu-kupu, dan 7 jenis ikan. Keanekaramgan tertinggi pada kelompok capung dengan nilai H`=2,35, sedangkan yang terendah pada kelompok ikan dengan nilai H`= 1,76.
Jenis, Keanekaragaman Dan Kemelimpahan Makrozoobentos di Sungai Wangi Desa Banua Rantau Kecamatan Banua Lawas Muhammad Rafi’i; Fujianor Maulana
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 4 No 2
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.093 KB) | DOI: 10.33654/jph.v4i2.443

Abstract

Hewan bentos sering digunakan sebagai indikator biologi kualitas perairan dikarenakan bentos mempunyai habitat yang relatif tetap, dengan sifatnya yang demikian, perubahan-perubahan kualitas air dan substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kemelimpahannya. Kemelimpahan dan keanekaragaman bentos juga sangat dipengaruhi oleh toleransi dan sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis makrozoobentos, keanekaragaman makrozoobentos dan kemelimpahan makrozoobentos di Sungai Wangi Desa Banua Rantau Kecamatan Banua Lawas. Jenis penelitian ini adalah merupakan penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel secara observasi. Teknik observasi yang dilakukan adalah terjun langsung ke lapangan dalam pengamatan dan pengambilan sampel aliran Sungai Wangi. Sungai yang lebarnya kurang lebih 20 meter dibagi ke dalam 20 titik pengamatan. Pengambilan sampel dimulai dari jarak 2 meter dari tepi sungai. Sampel diambil menggunakan Ekman Grab. Data kemelimpahan dianalisis berdasarkan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 9 jenis makrozoobentos yang ditemukan di Sungai Wangi Desa Banua Rantau Kecamatan Banua Lawas yaitu: Ictinogomphus decoratus, Paratya curvirostris, Bellamnya javanica, Orthetrum sabina, Agraptocorixa eurynome, Cybister fimbriolatus, Ranatra fusca, Libellago lineata, Tubifex sp. kemelimpahan tertinggi didapat oleh spesies Paratya curvirostris yaitu NP 73,08%. Indeks keanekaragaman pada daerah penelitian yaitu (H’) 1,61. Berdasarkan Indeks keanekaragaman Sungai Wangi memiliki status perairan tercemar ringan.
Keanekaragaman Dan Kemelimpahan Gastropoda Pada Persawahan Desa Sungai Pinang Baru Kabupaten Banjar Arpani Arpani; Fujianor Maulana
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 3 No 2
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.948 KB) | DOI: 10.33654/jph.v3i2.478

Abstract

Gastropoda adalah hewan bertubuh lunak, tidak memiliki ruas tubuh dan ditutupi oleh cangkang atau rumah yang keras. Kelas Gastropoda termasuk dalam filum mollusca. Gastropoda dapat ditemukan dimana-mana saja baik di darat, di air tawar, maupun di laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies-spesies Gastropoda apa saja yang terdapat pada persawahan Desa Sungai Pinang Baru Kabupaten Banjar, dan keanekaragaman serta kemelimpahan Gastropoda pada persawahan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik observasi, yaitu pengamatan langsung kelapangan untuk mendapatkan data keanekaragaman dan kemelimpahan Gastropoda, dengan titik pengamatan di 3 stasiun penelitian dan mengukur parameter lingkungan. Hasil penelitian bahwa didapatkan 5 spesies Gstropoda yaitu: Bellamnya javanica, Pila ampulacea, Pomacea canaliculata, Corbicula javanica, Pilsbryoconcha exilis, yang terdiri dalam 4 familia (Viviparidae, Ampularidae, Veneridae, dan Unionidae) dan tergabung dalam 3 ordo (Mesogastropda, Aplacophora, dan Eulamellibranchiata). Indeks diversitas (keanekaragaman) Gastropoda yaitu didapatkan sebesar 1,60 yang berarti dalam kategori sedang. Kemelimpahan spesies gastropoda yang ditemukan pada persawahan yang tetinggi adalah Pila ampulacea dengan jumlah 107. Sedangkan kemelimpahan paling rendah ditempati oleh spesies Bellamnya javanica dengan jumlah 81.
Keanekaragaman Jenis Arthropoda Permukaan Tanah di Desa Banua Rantau Kecamatan Banua Lawas Juan Setiawan; Fujianor Maulana
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 5 No 1
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.239 KB) | DOI: 10.33654/jph.v5i1.647

Abstract

Arthropoda merupakan filum terbesar yang mendominasi kerajaan hewan, hal ini disebabkan karena kemampuannya untuk dapat hidup diberbagai tempat dan mampu beradaptasi dengan baik. Desa Banua Rantau Kecamatan Banua Lawas memiliki tanah yang cukup subur dan juga masih memiliki kawasan hutan yang cukup alami. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keanekaragaman Arthropoda permukaan tanah Di Desa Banua Lawas Kecamatan Banua Rantau. Penelitian ini dilakukan dalam waktu 6 bulan. Sampel penelitian ini adalah Arthropoda permukaan tanah yang terperangkap. Jenis dalam penilitian ini adalah penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan sampel secara observasi. Teknik pengambilan sampel dilakukan dangan cara menggunakan Pitfall trap (perangkap jebakan) untuk menjebak Arthropoda permukaan tanah. Dari hasil penelitian di Desa Banua Rantau Kecamatan Banua Lawas didapat 11 jenis spesies Indeks keanekaragaman Arthropoda sedang dengan nilai H’=1,98. Kemelimpahan tertinggi ditempati oleh Componatos pisceus dengan nilai penting 34,32 sedangkan kemelipahan terendah ditempati Phyllophaga sp dengan Nilai Penting 2,79.
Keanekaragaman Jenis Dan Kemelimpahan Amfibi Di Desa Muning Dalam Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Muhammad Alfian Syarif; Fujianor Maulana
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 4 No 4
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.801 KB) | DOI: 10.33654/jph.v4i4.649

Abstract

Persawahan merupakan salah satu habitat yang cocok dengan kehidupan Amfibi, hal ini disebabkan oleh temperatur suhu lingkungan sawah yang cocok dengan metabolisme Amfibi. Keanekaragaman dan Kemelimpahan Amfibi tentu saja berdampak besar bagi ekosistem dan Keanekaragaman Jenis lain yang hidup di habitat tersebut. Dengan menjaga kelestarian habitatnya, maka suatu jenis mampu bertahan terhadap gangguan-gangguan alami. Tujuan pnelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis Amfibi (Ordu Anura)dan bagaimana besar Keanekaragaman jenis dan Kemelimpahan jenis Amfibi yang terdapat di Persawahan Desa Muning Dalam Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi langsung. Penelitian dilakukan di malam hari dengan durasi waktu 3 jam, dengan menetukan titik hitung panjang jalur line transek berjumlah 5 buah. Desa Muning Dalam merupakan salah satu daerah persawahan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan . persawahan merupakan habitat yang cocok dengan kehidupan amfibi, hal ini di sebabkan oleh temperatur suhu lingkungan sawah yang cocok dengan metabolisme tubuh amfibi. Area persawahan Desa Muning Dalam menggunakan sistem tumpang sari yakni menanam tumbuhan lain disekitar pematang. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya, persawahan Desa Muning Dalam yang di sela-sela dengan perumahan penduduk dan berbatasan langsung dengan jalan raya. Ditinjau dari lokasi penelitian tersebut, diperkirakan lebih dari satu jenis amfibi yang hidup di Desa Muning Dalam. Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang keanekaragaman dan kemelimpahan jenis amfibi di persawahan Desa Muning Dalam kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Hasil penelitian ditemukan 3 jenis amfibi yaitu Bufo Asper, Rana erythraea,Fejervarya cancrivora. Keanekaragaman jenis amfibi yaitu 0,89 yang masuk kategori rendah, serta Kemelimpahan jenis amfibi tertinggi ditempati oleh fajervarya cancrivora (katak sawah) dengan jumlah 43 ekor , sedang Rana erythraea (kongkang gading) dengan jumlah 25 dan terendah Bufo asper (kodok puru besar) dengan jumlah 12 ekor.
Kepadatan Populasi Capung Sambar Hijau (Orthetrum Sabina) Pada Persawahan di Desa Karang Buah Kecamatan Belawang Kabupaten Barito Kuala Antung Safrudin; Fujianor Maulana
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 6 No 2
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.819 KB) | DOI: 10.33654/jph.v6i2.1047

Abstract

Desa Karang Buah Kecamatan Belawang Kabupaten Barito Kuala terdapat Area persawahan yang digunakan masyarakat untuk perkebunan dan pertanian, yang memungkinkan keberadaan jenis capung yaitu capung Sambar hijau (Orthetrum Sabina). Dikawasan tersebut juga terdapat pekarangan rumah yang digunakan sebagai tempat menanam jeruk dan sebagai tempat penyemaian anak padi serta terdapat pohon galam. Dengan keadaan pekarangan tersebut, diperkirakan akan berpengaruh langsung kepada populasi jenis capung yang tergantung pada habitat akuatik dan keberadaan vegetasi di sekitarnya, salah satunya seperti jenis capung Sambar hijau (Orthetrum Sabina). Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode deskriptif (Tehnik jelajah dengan menggunakan jaring insekta), dan Produk yang diharapkan yaitu menghasilkan buku saku. Lokasi penelitian adalah dikawasan persawahan Desa Karang Buah Kecamatan Belawang Kabupaten Barito Kuala.Teknik pengambilan sampel di lokasi pengamatan dengan luas 100 Meter dan lebar 100 Meter, dengan jarak antara titik pengamatan masing-masing 3 Meter. Hasil penelitian Populasi jenis capung sambar hijau (Orthetrum Sabina) yang ditemukan pada pagi hari pukul 08:00-10:00 dalam 10 titik pengambilan sampel pada persawahan dengan jumlah 23 ekor capung dengan kisaran Kelembapan Udara 73-79,4(%) Suhu Udara 30-31( Intensitas Cahaya 17,58-19,90(Lux), Kecepatan Anginnya 0,2 Dan pada sore hari pukul 15:00-17:00 dalam 10 titik pengambilan sampel pada persawahan dengan jumlah 40 ekor capung dengan kisaran Kelembapan Udara 67,7-70(%) Suhu Udara 28,3-30,7( Intensitas Cahaya 17,45-33,0(Lux) dan Kecepatan Anginnya 0,1 .
Bioprospek Sungai Biuku Desa Selanjung Sebagai Desa Wisata Edukasi Alam Nana Citrawati Lestari; Fujianor Maulana
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 6 No 4
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.397 KB)

Abstract

Sungai Biuku adalah salah satu sungai yang masih tersisa di kota Banjarmasin yang mana pemanfaatannya hanya sebatas menjadi jalur lalu lintas perairan padahal sungai ini masih menyimpang potensi sumber daya hayati yang sangat besar dan Bioprospeksi dapat digunakan sebagai alternatif strategis pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan melalui program desa wisata Pendidikan alam. Potensi bioprospeksi dapat diketahui dua cara yaitu melalui cara tradisional dan ilmiah. Banyak sumberdaya hayati di Indonesia telah diketahui potensinya melalui kedua cara tersebut. Potensi spesies-spesies tersebut perlu dilakukan penilaian ekonomi sehingga konsep bioprospeksi dapat diterapkan secara formal dalam pengelolaan hutan. Indonesia memiliki berbagai spesies endemik dan non-endemik berpotensi bioprospeksi yang perlu dikelolah secara baik yaitu bernilai ekonomi tinggi dan berwawasan lingkungan sehingga dapat menggantikan bidang perkayuan. Pengelolaan dengan sistem bioprospeksi dapat dilakukan di Indonesia sehubungan dengan potensi sumberdaya hayatinya yang banyak. Penerapan konsep ini diperlukan landasan hukum oleh pemerintah pusat atau daerah. Dalam kaitannya dengan undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah pengelolaan sumberdaya alam dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengambilan sampel secara survei di beberapa titik di Sungai Biuku. Observasi lapangan dengan pengambilan sampel flora dan fauna dengan menggunakan berbagai alat pengukuran faktor lingkungan dan perangkap hewan. Ditemukan 69 jenis flora dan fauna yang didapatkan sebagai potensi Bioprospek yang terdiri dari 63 spesies flora dan 6 spesies fauna. Bioprospek yang didapatkan berpotensi dimanfaatkan dibidang farmakologi, toksikologi dan pangan.
Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Sebagai Alternatif Konsumsi Bekantan (Nasalis Larvatus) di Desa Lawahan Kabupaten Tapin Abdilah Syarif; Fujianor Maulana
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 5 No 4
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.568 KB)

Abstract

Bekantan dengan nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah maskot fauna Kalimantan Selatan Pohon khas hutan Kalimantan yang buahnya merupakan makanan favorit dari bekantan yaitu buah rambai. Hampir setiap orang hanya mengetahui buah rambai saja yang menjadi makanan dari bekantan tersebut. Pulau Bekantan di Desa lawahan adalah pulau yang berada di antara dua perusahaan besar yaitu perusahaan sawit dan batu bara yang kemudian dikelola oleh perusaan batu bara dan dijadikan Ekowisata penangkaran Bekantan. Pulau ini dikelilingi oleh sungai buatan yang dijadikan tempat tranportasi pengiriman batu bara. Pulau ini memiliki luas 71 Ha, di pulau ini tidak terdapat pohon-pohon besar dikarenakan kebakaran sehingga yang ada hanyalah jenis-jenis tumbuhan paku dan teratai saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alternative jenis -jenis tumbuhan sebagai konsumsi Bekantan agar penyebaran Bekantan yang ada di Kalimantan Selatan dapat diperbanyak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif dengan tekhnik pengamatan langsung secara jelajah. Mengamati jenis tumbuhan yang dikonsumsi Bekantan di Desa lawahan. Melakukan pengamatan Bekantan dengan memfoto Bekantan yang sedang makan dan jenis tumbuhan yang dimakan kemudian mencatat setiap jenis tumbuhan yang dijadikan konsumsi oleh Bekantan. Dan Melakukan wawancara kepada pengurus pulau Bekantan di Desa Lawahan. Hasil penelitian ini menunjukan ada 15 jenis tumbuhan yang menjadi konsumsi Bekantan, yakni galam, papisangan, karamunting, kalakai, kakait, pulantan, kariwaya, belaran, kasisap, jeutung, mangobi, halaban, kembang teratai, pindrang dan nanangkaan dengan tingkat kesukaan yaitu sangat suka, suka dan biasa. Morfologi tumbuhan yang menjadi konsumsi bekantan yaitu bagian pucuk, daun muda, batang muda, buah, bunga dan umbut.