Social violence, intergenerational intolerance, and a values crisis among young people represent concrete challenges facing Christian communities in North Tapanuli. Mainstream churches, predominantly composed of Batak denominations such as HKBP, have largely continued to apply unidirectional, transmissive, and ritually oriented church education models, thereby failing to optimally empower children as active subjects and agents of peace. This study aims to examine the relevance of Paulo Freire's liberating pedagogy for the revitalization of church education in the context of forming Gen Z children as agents of peace. Employing critical literature review and conceptual analysis, this study examines Freire's pedagogical framework, encompassing conscientização, dialogical pedagogy, and the critique of banking education, along with its limitations and implications for child theology and ecclesiology. The findings indicate that integrating liberating pedagogy into church education, grounded in the theology of imago Dei and the example of Christ, holds significant potential to foster peaceful character and critical consciousness among Gen Z children. This revitalization requires a shift from doctrinal transmission to a dialogical, transformative learning community. Abstrak Kekerasan sosial, intoleransi antargenerasi, dan krisis nilai di kalangan generasi muda merupakan tantangan nyata bagi komunitas Kristen di Tapanuli Utara. Gereja arus utama yang didominasi oleh denominasi seperti HKBP masih cenderung menerapkan model pendidikan gerejawi yang bersifat satu arah, transmisif, dan ritualistik, sehingga belum optimal memberdayakan anak sebagai subjek aktif dan agen perdamaian. Penelitian ini bertujuan mengkaji relevansi pedagogi pembebasan Paulo Freire bagi revitalisasi pendidikan gerejawi dalam konteks pembentukan anak Gen Z sebagai agen perdamaian. Dengan menggunakan metode studi literatur kritis dan analisis konseptual, penelitian ini menelaah ke-rangka pedagogis Freire, mencakup conscientização, pedagogi dialogis, dan kritik atas banking education, beserta keterbatasannya dan implikasinya bagi teologi anak serta eklesiologi. Temuan menunjukkan bahwa integrasi pedagogi pembebasan dalam pendidikan gerejawi yang dijangkarkan pada teologi imago Dei dan teladan Kristus berpotensi signifikan membentuk karakter damai dan kesadaran kritis pada anak Gen Z. Revitalisasi ini mensyaratkan transformasi dari model transmisi doktrinal menuju komunitas belajar yang dialogis dan transformatif.