Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Satu tahun kesintasan penderita limfoma non-hodgkin berdasarkan klasifikasi histopatologi working formulation Ludirdja, Evan Pratama; Rena, Ni Made Renny Anggreni; Suega, Ketut; Bakta, Made
Jurnal Penyakit Dalam Udayana Vol 2 No 2 (2018): Vol 2 No 2 (2018) July-December 2018
Publisher : PAPDI BALI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.149 KB)

Abstract

Latar belakang: Limfoma Non-Hodgkin (LNH) memiliki manifestasi dan gambaran histologi yang heterogen. Berdasarkan klasifikasi Working Formulation, LNH dibagi menjadi 3, yaitu derajat keganasan rendah, menengah, dan tinggi, yang mencerminkan derajat agresifitas LNH berdasarkan gambaran histopatologiknya. Pada beberapa studi dikatakan LNH tipe indolen cenderung tumbuh lambat dan memiliki kesintasan lebih panjang dibanding tipe yang lebih agresif Tujuan: Membandingkan median kesintasan penderita LNH dari jenis sel B berdasarkan derajat keganasannya sesuai dengan klasifikasi Working Formulation Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif, antara bulan Januari 2013 sampai Juli 2017 di RSUP Sanglah Denpasar. Analisis menggunakan Kaplan meier dan seluruh data dianalisis menggunakan SPSS. Hasil: Dari 88 penderita LNH, diambil 38 subyek yang eligible. Dari data didapatkan sebanyak 21 penderita (55,3%) berjenis kelamin laki-laki, dengan gambaran histopatologi terbanyak berupa Diffuse Large Cell (36,8%). Sebanyak 3 penderita (7,9%) termasuk dalam derajat keganasan rendah, 25 penderita (65,8%) termasuk dalam derajat keganasan menengah, dan 10 penderita (26,3%) dengan derajat keganasan tinggi. Median kesintasan pada LNH derajat keganasan rendah di atas 1 tahun (IK 95%), derajat keganasan menengah 271 hari (IK 95%), dan derajat keganasan tinggi 31 hari (0-72,837, IK 95%), dengan nilai p=0,133, namun kelompok dengan derajat keganasan tinggi cenderung memiliki kesintasan yang lebih rendah dibanding 2 kelompok yang lain. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan kesintasan penderita LNH dengan derajat keganasan rendah, sedang, dan tinggi.
GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN MIELOMA MULTIPEL DI RSUP SANGLAH PADA TAHUN 2014-2015 I Gede Wahyu Mahasuarya Pinatih; Ni Made Renny Anggreni Rena
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.017 KB) | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i5.P04

Abstract

Mieloma multipel adalah keganasan sel plasma dalam sumsum tulang yang khas disertai lesi osteolitik dan terdapat protein monoklonal dalam serum serta urine. Angka kejadian mieloma multipel pada skala dunia diperkirakan sekitar 86.000 kasus per tahun. Untuk mengetahui data serta karakteristik pasien mieloma multipel di RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2014-2015, telah dilakukan penelitian deskriptif retrospektif. Populasi target penelitian ini adalah penderita multipel mieloma yang berobat dari tahun 2014 sampai tahun 2015 di RSUP Sanglah Denpasar. Dengan teknik total sampling didapatkan sampel sebanyak 23 orang dengan proporsi terbesar kelompok usia >50 tahun sebanyak 82,6%, jenis kelamin laki-laki sebanyak 65,2%, pekerjaan yakni petani sebanyak 10 orang. Pada kategori keluhan pasien hampir seluruh sampel memiliki keluhan lemas yaitu sebanyak 95,7%. Proporsi terbesar pada kategori temuan pemeriksaan fisik adalah anemia sebanyak 87%. Pada kategori temuan laboratorium didapatkan rerata leukosit sebesar 6,51 × 103/mm3 ± 2,864, trombosit sebesar 168,62 × 103/mm3 ± 121,232, dan urea sebesar 26,45 g/hari ± 32,268. Proporsi kadar hemoglobin terbesar adalah 8-9,9 g/dl sebanyak 39,1%, kadar kreatinin < 2 mg/dl sebanyak 82,6%, kadar serum kalsium < 10 mg/dl sebanyak 30,4%, dan jumlah sel plasma 30% - 70% sebanyak 52,2%. Proporsi terbesar pada kategori pengobatan adalah kemoterapi sebanyak 100% dan kondisi sewaktu pulang membaik sebesar 73,9%. Kata Kunci : Mieloma Multipel, Karakteristik Penderita, Sanglah
KARAKTERISTIK PENDERITA LEUKEMIA AKUT YANG DIRAWAT DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2014-2015 Nyoman Ananda Putri Prashanti; Ni Made Renny Anggreni Rena
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.362 KB) | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i4.P01

Abstract

Minimnya data atau informasi mengenai studi deskriptif epidemiologi di Indonesia, membuat penelitian mengenai karakteristik penderita leukemia akut, Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) dan Leukemia Mieloblastik Akut (LMA), menjadi penting. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran profil pasien di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar secara lokal, dan mendapatkan data mengenai sosiodemografi, profil klinis, parameter hematologi, profil histopatologi, dan penatalaksanaan pasien leukemia akut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif, yang dilaksanakan pada bulan Februari 2016 sampai dengan September 2016. Teknik pengumpulan sampel adalah dengan total sampling. Didapatkan jumlah sampel sebesar 41 orang, 11 orang LLA, dan 30 orang LMA, dengan rerata usia LLA: 17±6,65 tahun dan LMA: 48±14,88 tahun. Baik LLA dan LMA memiliki keluhan utama terbanyak, yaitu lemas (LLA: 66,7% dan LMA: 41,7%), dan hasil pemeriksaan fisik terbanyak adalah anemia (LLA: 100% dan LMA: 77,8%). Rerata jumlah leukosit pada penderita LLA adalah (94,95±186,87) X 103/µL, sedangkan pada LMA adalah (63,97±75,61) X 103/µL. Rerata kadar hemoglobin (HB) pada penderita LLA dan LMA berturut-turut adalah 7,35±2,82 gr/dL dan 8,24±2,89 gr/dL. Sedangkan rerata jumlah platelet adalah (57,81±45,28) X 103/µL dan (43,27±81,66) X 103/µL. LLA-L2 merupakan klasifikasi terbanyak pada penderita LLA, sedangkan untuk LMA adalah LMA-M4. Rerata lama rawatan penderita LLA dan LMA berturut-turut adalah 13 dan 15 hari. Terdapat 8 penderita LMA yang meninggal selama perawatan, dan syok sepsis (37,5%) merupakan penyebab kematian tertinggi. Kata kunci: Karakteristik, Leukemia Limfoblastik Akut, Leukemia Mieloblastik Akut, Sanglah
ANALISIS PASIEN CHRONIC LYMPHOCYTIC LEUKEMIA DAN DIFFUSE LARGE B-CELL LYMPHOMA (SINDROM RICHTER) Ida Ayu Putu Sri Wiratningsih; Ni Made Renny Anggreni Rena
Journal of Scientech Research and Development Vol 5 No 1 (2023): JSRD, June 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56670/jsrd.v5i1.142

Abstract

Sindrom Richter (RS) didefinisikan sebagai transformasi agresif dari leukemia limfositik kronis (CLL) atau leukemia limfositik kecil (SLL) menjadi limfoma sel B besar yang menyebar atau limfoma Hodgkin. Beberapa faktor risiko memainkan peran penting dalam perubahan biomolekuler pada kondisi ini. Dua varian patologis RS diakui: yaitu, varian limfoma sel B besar (DLBCL) difus dan varian limfoma Hodgkin (HL) yang langka. Diagnosis RS harus didasarkan pada tanda dan gejala klinis, temuan histologis dan molekuler. Hasil RS umumnya buruk, dengan tingkat remisi lengkap hanya 20% dan kelangsungan hidup jangka panjang kurang dari 20% dengan kemoterapi. Kemoterapi kombinasi yang mengandung Rituximab untuk DLBCL adalah pengobatan yang paling banyak digunakan di RS tipe DLBCL. Kami melaporkan seorang wanita berusia 42 tahun dengan keluhan utama perut membesar dengan cepat dengan manifestasi pembesaran kelenjar getah bening yang progresif. Pasien didiagnosis dengan sindrom Richter tipe DLBCL. Dia telah diberikan kemoterapi dan dikategorikan sebagai pasien risiko tinggi dengan prognosis buruk.
Gambaran Indeks Eritrosit Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUP Sanglah Denpasar Periode Tahun 2021-2022 Rusditha, Sarah -; Saraswati, Made Ratna; Rena, Ni Made Renny Anggreni
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i03.P10

Abstract

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang dapat menyebabkan perubahan struktur dan fungsi eritrosit. Perubahan ini berpengaruh terhadap perkembangan komplikasi kronik diabetes. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui gambaran indeks eritrosit pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUP Sanglah Denpasar periode tahun 2021-2022. Metode penelitian berjenis deskriptif retrospektif cross sectional. Penelitian menggunakan rekam pasien diabetes melitus tipe 2 Diabetic Center RSUP Sanglah. Sebanyak 272 rekam medis digunakan sebagai sampel. Gambaran indeks eritrosit pasien diabetes melitus tipe 2 menunjukan anemia ringan normositik normokromik. Nilai rerata hemoglobin pria 12.75 g/dl dan wanita 11.82 g/dl. Nilai rerata indeks eritrosit pasien yakni MCV 86.0 fL, MCH 28.2 pg, dan MCHC 32.8 g/dl. Anemia ringan mempunyai proporsi tertinggi dengan pria kelompok usia 56-60 tahun 18 sampel (6.6%) dan wanita 51-55 tahun 12 sampel (4.4%).
HUBUNGAN KADAR HBA1C DAN LAMANYA DIABETES DENGAN RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI POLIKLINIK ENDOKRIN DAN DIABETES RSUP PROF. I.G.N.G. NGOERAH DENPASAR Kartadinata, Sarah Levina; Dwipayana, I Made Pande; Saraswati, Made Ratna; Rena, Ni Made Renny Anggreni
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i03.P09

Abstract

Penderita diabetes melitus tipe 2 (DMT2) mengalami kondisi inflamasi kronis yang apabila tidak terkontrol dengan baik, risiko terjadi komplikasi akan meningkat. Kondisi inflamasi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya kadar glikemik, serta durasi menderita DM. Salah satu parameter kendali glikemik yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan HbA1c. Literatur menunjukkan bahwa rasio neutrofil limfosit darah dianggap sebagai salah satu parameter inflamasi dalam tubuh. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara HbA1c dan lamanya diabetes dengan rasio neutrofil limfosit darah pada pasien DMT2. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik potong lintang pendekatan dengan tehnik consecutive sampling. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar dengan tujuan mengetahui hubungan antara HbA1c, lamanya DM dengan rasio neutrofil limfosit darah. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara analitik menggunakan SPSS versi 26. Hasil analisis uji Chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara HbA1c dengan rasio neutrofil limfosit darah (p<0.001) dan uji Kruskal- wallis menunjukkan lamanya DMT2 dengan rasio neutrofil limfosit darah (p=0.000). Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara HbA1c dan lamanya diabetes dengan rasio neutrofil limfosit darah pada pasien DMT2 di Poliklinik Endokrin dan Diabetes RSUP Prof Dr. I.G.N.G Ngoerah Denpasar 2022.
Manifestasi Anemia Hemolitik Autoimun pada Seorang Penderita Mielofibrosis Primer Dewi, Ni Luh Mutiara Savrita; Anggreni Rena, Ni Made Renny
Jurnal sosial dan sains Vol. 5 No. 5 (2025): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v5i5.32208

Abstract

Mielofibrosis primer (PMF) adalah neoplasma mieloproliferatif langka yang ditandai dengan fibrosis sumsum tulang, hematopoiesis ekstrameduler, dan mutasi genetik seperti JAK2. Pada kasus yang jarang terjadi, PMF dapat dipersulit oleh anemia hemolitik autoimun (AIHA), yang menimbulkan tantangan diagnostik dan terapeutik karena mekanisme patofisiologis yang tumpang tindih. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manifestasi klinis, proses diagnostik, dan pendekatan terapeutik untuk kasus PMF dengan AIHA. Metode laporan kasus deskriptif digunakan, dengan fokus pada pasien wanita berusia 64 tahun yang datang dengan anemia berat, splenomegali, dan hasil positif untuk mutasi JAK2 dan tes Coombs langsung. Diagnosis PMF ditegakkan berdasarkan kriteria WHO 2016 dan didukung oleh temuan biopsi sumsum tulang. Penatalaksanaan yang dilakukan meliputi transfusi sel darah merah, terapi simtomatik, dan pemberian ruxolitinib, inhibitor JAK2. Kasus ini menyoroti perlunya kewaspadaan dalam mendeteksi komplikasi autoimun pada neoplasma mieloproliferatif dan menunjukkan pentingnya strategi diagnostik dan pengobatan yang terintegrasi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengetahuan klinis dan menjadi referensi untuk menangani kasus-kasus kompleks serupa dalam praktik hematologi.
Predictive Factors of Neutropenia Following First Cycle of Chemotherapy in Patients with Non-Hodgkin’s Lymphoma in Bali, Indonesia Pratiwi, Made Sindy Astri; Agustini, Made Priska Arya; Yani, Made Violin Weda; Rena, Ni Made Renny Anggreni
International Journal of Integrated Health Sciences Vol 13, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/ijihs.v13n2.4178

Abstract

Background: Chemotherapy-induced neutropenia (CIN) is a common hematologic toxicity that increases infection risk, hospitalization, and treatment delay. Limited data exist on predictive factors of CIN among non-Hodgkin’s lymphoma (NHL) patients in Indonesia, particularly in Bali.Objective: To identify predictive factors of neutropenia following the first cycle of chemotherapy in patients with NHL at Prof. I.G.N.G Ngoerah General Hospital, Bali, Indonesia.Methods: This retrospective cohort study included all NHL patients treated from 2020–2023. Eligible patients were aged ≥18 years, received CHOP-based regimens with or without rituximab, and did not receive G-CSF prophylaxis. Data were obtained from medical records. Assessed risk factors were age, gender, BMI, comorbidities, histopathology grading, extranodal involvement, ECOG status, Ann Arbor stage, IPI score, chemotherapy regimen, pre-treatment blood count, eGFR, LDH, and albumin. The incidence of neutropenia was evaluated after the first chemotherapy cycle.Results: The mean age of the eligible patients (n=112) was 54.53 ± 14.64 years; 46 of them (41%) developed neutropenia. Significant factors associated with neutropenia were histopathology grading (p = 0.030), Ann Arbor stage (p = 0.048), IPI score (p = 0.037), chemotherapy regimen (p = 0.019), and LDH above normal (p = 0.049). Multivariate analysis identified high IPI scores (p = 0.016; OR 6.375; 95% CI 1.416–28.698) and CHOP regimen (p = 0.016; OR 3.033; 95% CI 1.230–7.476) as independent predictors of CIN.Conclusion: High IPI scores and CHOP regimens are strong predictors of neutropenia after the first chemotherapy cycle in NHL patients. Early identification of high-risk patients is essential for preventive management and improved treatment outcomes.
Risk Factors and Infection Patterns of Febrile Neutropenia after Induction Chemotherapy in Patients with Acute Myeloid Leukemia Pratiwi, Made Sindy Astri; Agustini, Made Priska Arya; Rena, Ni Made Renny Anggreni; Bakta, I Made
Indonesian Journal of Cancer Vol 20, No 1 (2026): March
Publisher : http://dharmais.co.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33371/ijoc.v20i1.1495

Abstract

Background: Febrile neutropenia (FN) is a serious cause of mortality in acute myeloid leukemia (AML), with a mortality rate of 10-30%. FN often occurs after receiving induction chemotherapy in AML. Patients with FN are susceptible to various infections, but the pathogens are often unknown. It is important to predict FN and identify the specific pathogen of infection. This study aims to identify risk factors and infection patterns of FN after induction chemotherapy in AML patients.Methods: This research was a retrospective cohort study located at Prof. I.G.N.G Ngoerah General Hospital, Bali. The samples were AML patients aged ≥ 18 years treated with induction chemotherapy, cytarabine plus daunorubicin, from 2018 to 2022. The risk factors assessed were age, gender, body mass index, ECOG status, comorbidity, and pre-treatment blood count. The patients who had FN would be assessed for the incidence of infection through microbiological examination.Results: This study included 92 patients aged 19 to 76 years old. As many as 68 patients (73.9%) had FN. A multivariate analysis showed ECOG status (p = 0.004; OR 6.680; 95% CI 1.830 – 24.385), comorbidity (p = 0.010; OR 7.394; 95% CI 1.628 – 33.575), and haemoglobin level ≤ 8 g/dL (p = 0.015; OR 6.043; 95% CI 1.449 – 33.265) as significant risk factors. The most common site of infection was the respiratory tract (63.75%), followed by genitourinary (15%) and skin (8.75%). Most specimens were obtained from sputum (35%), blood (26.25%), and urine (15%). Streptococcus sp., Staphylococcus sp., and Escherichia coli were the top three most common pathogens found. Conclusions: ECOG status, comorbidity, and low haemoglobin level were associated with FN after induction chemotherapy of AML. Patients with FN are susceptible to various infections. The identification of risk factors and infections of FN will facilitate consideration of further treatment in AML.
Tumor Lysis Syndrome Induced by the R-ICE Regimen in a Patient with Non-Hodgkin Lymphoma: A Case Report Gede Agung Setya Wibawa; Ni Made Renny Anggreni Rena
MEDICINUS Vol. 39 No. 5 (2026): MEDICINUS
Publisher : PT Dexa Medica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56951/2e1d0z41

Abstract

Tumor lysis syndrome (TLS) is a life-threatening oncological emergency characterized by the massive release of intracellular metabolites. While common in acute leukemia, TLS is relatively rare in non-Hodgkin lymphoma (NHL) unless associated with high tumor burden. This case highlights a rare occurrence of severe TLS following the R-ICE (rituximab, ifosfamide, carboplatin, and etoposide) regimen in an NHL patient. A 64-year-old female diagnosed with NHL presented with bulkydisease. Following the second day of the R-ICE regimen, she developed decreased consciousness and acute kidney injury (AKI). Clinical findings included refractory hypotension and signs of a systemic inflammatory response. Based on theCairo-Bishop criteria, the patient was diagnosed with grade III TLS, complicated by hyperuricemia, hyperphosphatemia, and compensated metabolic acidosis. Emergency management included aggressive fluid resuscitation (0.9% NaCl2,500–3,000 ml every 8 hours), oral allopurinol (300 mg daily), and electrolyte monitoring. Hemodialysis was indicated but could not be performed due to hemodynamic instability and suspected concurrent nosocomial sepsis. Despite intensive supportive care and empirical antibiotics, the patient succumbed to multiorgan failure on the seventh day of hospitalization. This case underscores that TLS can occur in NHL patients undergoing salvage regimens like R-ICE. Clinicians must maintain a high index of suspicion for TLS and secondary sepsis, even in non-leukemic malignancies. Early aggressive hydration is vital, but hemodynamic stability remains a critical limiting factor for definitive renal replacement therapy.