Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELATIHAN PENYUNTIKAN, PEMANENAN DAN PENANGANAN PASCAPANEN GAHARU PADA Gyrinops versteegii DI PUYUNG, LOMBOK TENGAH Mulyaningsih, Tri; Muspiah, Aida; Hidayati, Ernin; Julisaniah, Nur Indah; Nadia, Ahsanu; Hamidia, Baiq Zulifa; Pradita, I Made Nanda; Ibadurahman, Lalu Faqih; Adhawati, Laela; Prazali, Arianteza; Sunarwidhi, Anggit L.; Takamatsu, Sakura; Supiatin
Jurnal Abdi Insani Vol 11 No 1 (2024): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v11i1.1278

Abstract

Secara alami gaharu diproduksi oleh pohon gaharu yang mengalami luka atau terinfeksi jamur. Agar pohon gaharu sehat dapat menghasilkan gubal gaharu harus ada perlakuan khusus: seperti perlukaan, memasukan bakteri atau jamur penyebab atau agensia kimia. Tujuan kegiatan ini memberi pengetahuan dan ketrampilan kepada masyarakat yang memiliki pohon ketimunan (Gyrinops versteegii) siap suntik di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, dalam menginokulasi, memanen, mengolah pasca panen gaharu. Pelaksanana “Pengabdian Pada Masyarakat” terbagi menjadi 2 periode, yaitu: periode 1: penyuntikan dan periode 2: pemanenan dan penanganan pasca panen. Metode penyuntikan pohon ketimunan digunakan dengan metode cairan fermentasi jamur penyebab (CFJP), yang dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2023. Masa inkubasi infeksi sekitar 6 bulan. Pelatihan periode 2: pelatihan pemanenan dan pengolahan pasca panen dilakukan 6 bulan setelah penyuntikan. Pemanenan dilakukan pada ranting yang berdiameter 2,5 cm, sebagai contoh pengolahanan pasca panen. Pelatihan dan praktek pemanenan gaharu dan penangannya pasca panen pada tanggal 17 September 2023. Masyarakat yang telah memiliki pohon gaharu siap suntik mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang pemilihan pohon yang telah siap disuntik, membuat pola lubang suntik dan membuat lubang inokulasi serta cara melakukan inokulasi pada batang dan cabang pohon G. versteegii. Selain itu masyarakat juga mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang pengecekan batang yang telah siap dipanen, cara pemanenan dan cara penanganan pasca panen gaharu, cara pengklasifikasian gaharu serta cara pemasaran gaharu. Dengan diperolehnya penngetahuan dan ketrampilan cara produksi gaharu dan pemasarannya, masyarakat menjadi terpacu menjadi influenser dalam konservasi gaharu secara ex-situ di kebun dan pekarangannya sendiri.
Revitalization of Agarwood Planting in Forest Areas with the Specific Purpose of Senaru as an Income-Generating Investment for University of Mataram and Cultivators Romdhini, Mamika Ujianita; Mulyaningsih, Tri; Muktasam, Muktasam; Baldovini, Nicolas; Takamatsu, Sakura; Nadia, Ahsanu; Puspita Dewi, Chandra
SPEKTA (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat : Teknologi dan Aplikasi) Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/spekta.v6i2.14086

Abstract

Background: Agarwood, valued for its aromatic fragrance, thrives in West Nusa Tenggara, where demand is very high. However, natural forest sources are scarce, driving up market prices and limiting supply. To address this, farmers have begun cultivating agarwood trees. Community service initiatives are urgent, as they offer economic, environmental, and social benefits. Contribution: This study introduces a community-based revitalization program for agarwood cultivation in the KHDTK (Forest Area with Specific Purpose) of Senaru. By integrating applied biotechnology with participatory forest management, the program provides empirical evidence of how agarwood planting can simultaneously improve rural livelihoods, support environmental rehabilitation, and contribute to broader debates in sustainable forestry and applied technology. Method: The methods include site assessment and sustainable land preparation, and staggered planting. A total of 2070 high-quality agarwood seedlings are distributed to local farmers, who received training in cultivation, maintenance, and resin production techniques. Monitoring was conducted over 6 months to evaluate survival, growth, and socio-economic outcomes. Results: After 6 months, 90% of seedlings survived, and carbon sequestration potential was estimated at 3.31 tons CO₂ per year. These findings indicate that agarwood revitalization can deliver measurable ecological and economic benefits. Conclusion: With proper implementation and support, this project can serve as a model for other regions seeking to balance ecological preservation with socio-economic growth.