Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

How physical exercises ameliorate dysmenorrhea in adolescence Wijaya, Aqsha; Anwar, Ruswana; Adnani, Qorinah Estiningtyas Sakilah; Susiarno, Hadi; Arya, Insi Farisa Desy; Setiawan, Iwan
Jurnal Keolahragaan Vol. 12 No. 1: April 2024
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jk.v12i1.72075

Abstract

Dysmenorrhea is frequently reported by adolescents. Physical exercises is one method of overcoming the symptoms of primary dysmenorrhea. Consistent physical activity has been shown to induce the synthesis of endorphins, which function as analgesics within the body. This study presents a comprehensive review to synthesize evidence regarding the relation between physical activity or exercise with dysmenorrhea and how exercise can ameliorate dysmenorrhea in adolescents. This study followed the Preferred Reporting Items for Systematic reviews and Meta-Analyses (PRISMA) method to identify articles published within the last three years (2021-2023) via PubMed, Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar. This process yielded seven pertinent studies. The studies have demonstrated that engaging in physical activity can effectively alleviate the symptoms associated with menstrual discomfort. Physical exercise in regular time for a minimum of thirty minutes, three times per week, can also contribute to the alleviation of pain associated with menstrual discomfort among adolescent females diagnosed with primary dysmenorrhea. Isometric exercise, massage therapy, yoga, electrotherapy, connective tissue manipulation, stretching, kinesio tape, progressive relaxation exercise, aviva stretching exercise, stretching exercises, core strengthening exercise and aerobic exercise are the recommended forms of physical exercise in reducing the impact of primary dysmenorrhea. However, the extent to which one experiences these benefits is contingent upon the nature and intensity of the exercise.
Budaya Laktasi dan Keamanannya Dari Sisi Medis di Indonesia: Tinjauan Literatur Terstruktur Martin, Novia; Masrafat, Hazen; Wijaya, Aqsha
JURNAL KESEHATAN POLTEKKES KEMENKES RI PANGKALPINANG Vol. 14 No. 1 (2026): JKP JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pangkalpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32922/jkp.v14i1.1358

Abstract

Latar belakang: Budaya laktasi di Indonesia dipengaruhi oleh nilai tradisional, kepercayaan keluarga, dan norma sosial yang dapat mendukung maupun menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Praktik seperti pemberian makanan prelakteal, penolakan kolostrum, dan mitos tentang bentuk puting susu masih sering ditemukan dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan pada ibu dan bayi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif bagi pengambil kebijakan, tenaga kesehatan, dan komunitas dalam memperkuat budaya laktasi yang aman dan menyehatkan di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur terstruktur dengan pendekatan PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan melalui Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect terhadap artikel. yang dipublikasikan pada tahun 2015 – 2025, menggunakan kata kunci terkait budaya laktasi dan ASI eksklusif. Dari 1.846 artikel yang teridentifikasi, diperoleh 6 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara kualitatif. Hasil: Hasil review menunjukkan bahwa budaya laktasi yang berpotensi mendukung keberhasilan menyusui meliputi dukungan keluarga, pijat oksitosin, perawatan payudara tradisional menggunakan minyak kelapa, serta konsumsi pangan lokal seperti jagung dan kacang goreng yang secara empiris dipercaya membantu kelancaran produksi ASI. Sebaliknya, praktik pemberian madu dan makanan prelakteal pada bayi baru lahir, penolakan kolostrum, serta pembatasan makanan ibu menyusui berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan bayi dan menghambat keberhasilan ASI eksklusif. Namun, sebagian besar studi menggunakan desain kualitatif sehingga generalisasi temuan masih terbatas. Kesimpulan: Budaya laktasi dapat menjadi faktor pendukung maupun penghambat keberhasilan menyusui. Meskipun demikian, jumlah studi yang tersedia masih terbatas dan belum mewakili seluruh wilayah Indonesia sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat bukti keamanan dan efektivitas berbagai praktik budaya laktasi.