Wini Oktaviana
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HAMBATAN GURU DALAM PEMANFAATAN PLATFORM MERDEKA MENGAJAR DI SDN 187/I TERATAI Wini Oktaviana; Faizal Chan; Hendra Budiono
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 02 (2025): Volume 10 No. 02 Juni 2025 In Progres
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i02.24294

Abstract

This study aims to identify and describe the obstacles faced by teachers in utilizing the Merdeka Mengajar Platform (PMM) at SDN 187/I Teratai. With the introduction of the independent curriculum, it is important to understand the challenges faced by teachers in implementing this educational technology. This study is expected to provide insight for schools and the government in formulating more effective strategies to support teachers in the learning process. The method used in this study is a qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews and observations of grade I to VI teachers and the principal. Researchers conducted data analysis using the Miles and Huberman interactive model, which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research participants consisted of teachers who were directly involved in the use of PMM, so that the data obtained could provide a comprehensive picture of the existing obstacles. The results of the study showed that there were several significant obstacles faced by teachers, including limited technological competence, lack of understanding of PMM features, and time constraints in implementing educational administration. In addition, teacher motivation and acceptance of the use of PMM are also important factors that influence the effectiveness of the use of this platform. The conclusion of this study confirms that to improve the quality of learning at SDN 187/I Teratai, collaborative efforts are needed between teachers, principals, and other related parties to overcome these obstacles.
PENGARUH MODEL EXPERIENTIAL LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA PADA PEMBELAJARAN IPAS KELAS IV SDN 149/I LEBUNG KATO ATI Deni Febrian; Sal Sabila, Sarifah Suci; Kurnia Nurmadani; Wini Oktaviana; Destrinelli; M Sofwan
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.15132

Abstract

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) menjadi bagian dalam pembelajaran di Kurikulum Merdeka pada jenjang sekolah dasar. IPAS merupakan penggabungan dari mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran IPAS pada dasarnya untuk mengonstruksi pengetahuan peserta didik sendiri. Ekperiential learning adalah model pembelajaran yang mengaktifkan siswa untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung. Dengan demikian, penerapan model experiential learning dapat membuat peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model spiral Kemmis-Mc. Taggart (1988). Model penelitian ini membagi prosedur penelitian ini menjadi empat tahap dalam setiap siklusnya, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, rubrik, dan dokumentasi. Model pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran melalui pengalaman langsung, baik dalam bentuk diskusi kelompok, praktikum, maupun aktivitas refleksi yang memungkinkan siswa untuk belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna. Siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik nyata. Melalui pendekatan yang mengutamakan pengalaman langsung, kolaborasi, dan refleksi, peserta didik menjadi lebih terlibat dan memahami konsep dengan lebih baik.