Abdurrahman, Ulinnuha
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pandangan Majelis Ulama Indonesia terhadap Pasangan Suami Istri yang Memutuskan Tidak Punya Anak Abdurrahman, Ulinnuha; Nashrullah, M. Faiz
Sakina: Journal of Family Studies Vol 6 No 4 (2022): Sakina: Journal of Family Studies
Publisher : Islamic Family Law Study Program, Sharia Faculty, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jfs.v6i4.2419

Abstract

Memutuskan untuk Childfree haruslah dibarengi dengan pemikiran yang matang dan penuh kesadaran. Keputusan memilih Childfree merupakan salah satu pengaplikasian dari hak reproduksi yaitu hak menolak kehamilan. Untuk mewujudkan hak tersebut, konsep relasi mitra antara suami dan istri haruslah diterapkan dalam sebuah rumah tangga. Keputusan dalam memilih untuk Childfree harus dibarengi dengan diskusi antara suami istri. Dalam diskusi tersebut kedua pihak harus terbuka terutama pihak perempuan tentang alasan keputusan Childfree itu dilakukan. Dalam memberikan alasan tersebut juga harus disertai alasan dasar yang kuat sehingga tidak merugikan kedua pihak. Kesepakatan pasangan suami istri untuk tidak mempunyai anak setelah nikah (childfree), menurut pandangan DPMUI Kota Pasuruan, merupakan hal yang diperbolehkan dalam Islam, apalagi jika keduanya memiliki alasan yang jelas. Ketidak inginanan mempunyai anak ini dianalogikan dengan kasus azal atau pemutusan senggama sebelum mencapai orgasme sehingga sperma keluar di luar liang senggama. Di samping itu, Fatwa MUI menjelaskan bahwa memiliki anak atau memperbanyak anak bukanlah suatu keharusan bagi pasangan suami istri, akan tetapi merupakan anjuran atau kesunnahan Nabi
Perubahan Kepemimpinan Karismatik Menuju Distorsi Otoritas: Jejak Malapraktik Kekuasaan Kiai dalam Sejarah Pesantren Alwi, Khanabi; Abdurrahman, Ulinnuha; Pambudi, Ahmad Sun'an; Akmal, Ahmad Wildan Rofrofil
Qurthuba: The Journal of History and Islamic Civilization Vol. 10 No. 2 (2026): March
Publisher : Department of History and Islamic Civilization, Faculty of Adab and Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the history of Islam in the Indonesian archipelago, pesantren have positioned the kiai as a central figure endowed with strong scholarly authority and charismatic leadership. However, in practice, charisma that is not accompanied by mechanisms of control and accountability may become distorted into an abuse of power. This article aims to analyze the shift of charismatic leadership toward authoritarian malpractice in the historical context of pesantren, focusing on cases of sexual violence against students as documented in a court ruling. This study employs a qualitative approach based on library research, with the primary source being Decision Number 136/Pid.Sus/PN Smp/2025 of the Sumenep District Court. The data are analyzed using a descriptive-analytical method to identify patterns of power relations, forms of religious legitimization, and their impacts on victims. The findings indicate that charismatic leadership, when detached from ethical control and structural oversight, has the potential to transform into an instrument of domination that facilitates sexual violence rooted in hierarchical relations and absolute obedience. The case examined reveals a significant gap between the ideal image of the kiai as a moral guardian of the pesantren and the empirical reality of distorted authority that undermines students’ dignity. This study underscores the importance of historical reflection and structural evaluation of pesantren leadership models to preserve the integrity of pesantren as educational and moral institutions within Islamic civilization.