Banjir yang berulang di Kabupaten Lampung Selatan menunjukkan perlunya pendekatan pengelolaan sungai yang lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan metode normalisasi konvensional. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi strategi normalisasi sungai berbasis integrasi hidro-klimatologi dan bioengineering guna meningkatkan efektivitas pengendalian banjir serta efisiensi anggaran daerah. Pendekatan penelitian menggabungkan systematic literature review dan analisis pengambilan keputusan multi-kriteria berbasis AHP–MCDA untuk menentukan prioritas strategi. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingginya risiko banjir dipengaruhi oleh faktor hidro-klimatologi, seperti curah hujan ekstrem, sedimentasi, degradasi lingkungan, dan perubahan tata guna lahan, dengan nilai USG sebesar 3,6. Pembobotan AHP menunjukkan bahwa kriteria efektivitas menjadi faktor dominan dengan bobot 0,35. Hasil evaluasi AHP–MCDA menunjukkan bahwa alternatif integrasi bioengineering dan smart monitoring merupakan strategi paling optimal dengan skor 3,85, dibandingkan bioengineering (3,15) dan normalisasi konvensional (2,15). Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan integratif mampu meningkatkan kapasitas ekologis sungai sekaligus efisiensi pengelolaan berbasis teknologi, sehingga lebih adaptif terhadap dinamika hidro-klimatologi. Oleh karena itu, strategi normalisasi sungai berbasis bioengineering yang didukung smart monitoring direkomendasikan sebagai pendekatan pengendalian banjir yang efektif, efisien, dan berkelanjutan di Kabupaten Lampung Selatan.