Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pembentukan Karakter Religius Siswa SMA Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar Dalam Pandangan Behavioristik Clark Hull Yozaga, Buana Tirta; Adianingsih, Putri; Zahro, Masithoh Afifah Nuraini As; Fauziati, Endang
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3489

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh melemahnya karakter religius siswa di Indonesia pada era digital. Arus informasi yang cepat, perubahan budaya, serta berkurangnya pengawasan nilai-nilai moral di lingkungan keluarga mendorong sekolah untuk memperkuat pendidikan karakter melalui pembiasaan keagamaan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan teori behavioristik Clark Hull terkait pembentukan perilaku, menganalisis penerapannya di sekolah sebagai dasar pembentukan karakter religius, serta menjelaskan efektivitas pendekatan tersebut pada siswa di SMA Muhammadiyah Darul Arqom Karanganyar. Menurut Clark Hull, perilaku terbentuk melalui hubungan stimulus–respons yang diperkuat melalui pengulangan hingga menjadi kebiasaan (habit). Dalam pendidikan keagamaan, penguatan berupa kegiatan keagamaan yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk respons positif siswa terhadap praktik ibadah sehingga berkembang menjadi karakter religius. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara kepada kepala sekolah, guru PAI, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMA Muhammadiyah Darul Arqom secara konsisten menerapkan pembiasaan keagamaan seperti shalat dhuha, shalat wajib berjamaah, tahfiz, kajian rutin, dan kegiatan sosial. Pembiasaan ini membentuk sikap disiplin, kesopanan, serta kepedulian sosial pada siswa. Temuan ini sejalan dengan teori Hull bahwa penguatan dan pengulangan merupakan kunci terbentuknya perilaku. Meskipun demikian, penelitian menegaskan bahwa teori Hull perlu dilengkapi dengan penanaman makna ibadah dan keterlibatan orang tua agar karakter religius tidak berhenti pada perilaku lahiriah, tetapi mampu tertanam secara mendalam dalam diri siswa.
Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah: Sintesis Literatur Nasional dan Internasional 2021–2025 Supriyadi, M. Yusup; As Zahro, Masithoh Afifah Nuraini; Yozaga, Buana Tirta; Adianingsih, Putri; Muhibbin, Ahmad; Wibawa, Sutrisna
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5360

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka sebagai kebijakan pemulihan pembelajaran pascapandemi COVID-19 merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas proses belajar melalui pendekatan yang fleksibel, kontekstual, berpihak pada peserta didik, serta menguatkan Profil Pelajar Pancasila dan kompetensi abad ke-21. Namun, di tingkat satuan pendidikan, pelaksanaannya belum optimal karena berbagai hambatan implementatif yang kompleks dan sistemik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hambatan utama implementasi Kurikulum Merdeka, mengkaji hambatan dominan pada aspek kompetensi guru, asesmen pembelajaran, serta sarana-prasarana dan dukungan sumber daya, serta menyusun rekomendasi strategis berdasarkan sintesis literatur nasional dan internasional periode 2021–2025. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode review literatur naratif, data dikumpulkan melalui studi dokumentasi artikel jurnal dan publikasi ilmiah yang tersedia penuh. Analisis dilakukan dengan teknik analisis isi tematik, meliputi pengkodean, pengelompokan kategori, dan sintesis temuan lintas studi. Hasil menunjukkan hambatan dominan meliputi keterbatasan pemahaman dan kompetensi guru dalam pembelajaran berdiferensiasi serta penyusunan modul ajar, kesulitan penerapan asesmen diagnostik dan formatif akibat pergeseran paradigma penilaian yang belum merata, serta ketimpangan sarana-prasarana, akses teknologi, dan sumber daya antar sekolah. Literatur menegaskan pentingnya pelatihan guru berkelanjutan dan praktis, pendampingan implementasi intensif, pemerataan fasilitas pembelajaran, serta penguatan manajemen kebijakan agar Kurikulum Merdeka tidak sekadar administratif, melainkan berdampak nyata pada peningkatan mutu dan pemerataan kualitas belajar di seluruh satuan pendidikan.
Tranfromasi Tata Kelola Dana Pendidikan Berbasis Digital: Peluang, Risiko, Dan Strategi Penguatan Transparansi Di Indonesia Supriyadi, M. Yusup; As Zahro, Masithoh Afifah Nuraini; Yozaga, Buana Tirta; Adianingsih, Putri; Harsono, Harsono; Indri, Indri
JURNAL MANAJEMEN PENDIDIKAN Vol 14, No 1 (2026): Jurnal Manajemen Pendidikan
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jmp.v14i1.13241

Abstract

DIGITAL-BASED EDUCATION FUND GOVERNANCE TRANSFORMATION: OPPORTUNITIES, RISKS, AND STRATEGIES FOR STRENGTHENING TRANSPARENCY IN INDONESIA This study aims to examine the opportunities and challenges of transparency in the management of digital-based education funds in Indonesia and compare them with international practices in order to formulate innovative policy recommendations. The method used is a descriptive qualitative approach through targeted literature studies and case studies using secondary data in the form of articles and journals indexed by Google Scholar for the period 2020-2025, BOS Fund regulations, and ARKAS system implementation documents and the SIPLah procurement platform. The analysis was conducted in terms of content and comparatively to identify digital mechanisms that promote transparency and factors that hinder its effectiveness. The results show that the digitization of education fund management increases procedural transparency through the standardization of planning and reporting, the traceability of transactions and procurement, and the ease of auditing and monitoring across actors, which has an impact on increasing accountability and reducing non-procedural spending practices at the school level. However, public transparency is not yet fully optimal due to differences in human resource capacity, digital literacy, and infrastructure quality, as well as the emergence of data manipulation risks at the input stage and information security issues. A comparison with international practices shows that e-procurement and contract transparency effectively increase accountability when supported by strong governance, while blockchain technology.
The Use of Artificial Intelligence in Higher Education Learning: A Systematic Review of Its Effectiveness and Challenges in Implementation Yozaga, Buana Tirta; As Zahro, Masithoh Afifah Nuraini; Adianingsih, Putri; Murtiyasa, Budi; Masduki, Masduki
Journal of Educational Sciences Vol. 10 No. 3 (2026): Journal of Educational Sciences
Publisher : FKIP - Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jes.10.3.p.852-860

Abstract

This study aims to map trends in the use of artificial intelligence (AI) in higher education learning, examine its effectiveness, and identify key implementation challenges. A qualitative approach was employed using the Systematic Literature Review (SLR) method. Literature was collected from academic databases and platforms, including Google Scholar, Sinta, and DOAJ, covering publications from 2020 to 2025. Relevant national and international journal articles were selected using keywords related to AI, higher education, learning, effectiveness, and challenges. The selected studies were systematically analyzed through an SLR table and synthesized as primary data for the results and discussion. The findings reveal a significant increase in AI adoption, particularly generative AI, in higher education learning. AI is commonly used as a learning assistant, discussion facilitator, and support tool for assessment and academic administration. Its effectiveness is reflected in enhanced student engagement, learning autonomy, and institutional efficiency. Nevertheless, challenges persist, including ethical issues, limited AI literacy, infrastructure constraints, and the lack of adaptive regulatory frameworks. These results indicate that AI integration can improve educational quality when supported by clear policies and ethical governance.